Satu Semester Sudah Aku Kuliah - Cerita Pendek tentang Kuliahan

Ada loh yang kesulitan mencari bahan bacaan misalnya cerpen tentang kuliah. Biasanya anak-anak sekolah menengah atas (sma) yang mendekati kelulusan akan sangat antusias menikmati kisah seperti ini. Maka dari itu, kita akan hadirkan sebuah cerita berjudul "Satu Semester Sudah Aku Kuliah" yang merupakan salah satu cerpen pilihan mahasiswa. 


Isi di dalam cerita pendek ini tentu saja akan berhubungan dengan mahasiswa. Mungkin akan berhubungan dengan kegiatan perkuliahan di kampus atau bahkan mungkin tentang kisah cintanya. Agar tidak penasaran silahkan dibaca ya!

Satu Semester Sudah Aku Kuliah
Cerita Pendek tentang Kuliahan

Hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan ujian di kampus ku. Otak ku berfikir keras mengerjakan soal-soal yang ada di kertas ujian. Beruntung, semalam aku sudah belajar mati-matian.

Hampir setiap soal bisa kukerjakan dengan mudah. Hanya beberapa soal saja yang berhasil membuatku mengerutkan dahi. Tapi, tetap saja soal itu belum sampai membuatku merasa frustasi. Sesekali Dini menoleh kearah ku.

Memberikan kode-kode aneh yang menjengkelkan. Dengan terpaksa aku pun membalasnya dengan kode yang tak kalah aneh juga. Dia memang gadis yang sedikit menjengkelkan. Sudah berkali-kali aku mengingatkan dan juga mengajak nya untuk belajar.

Tapi sama sekali dia tidak pernah menggubrisku. Baginya dunia yang ada di smartphone nya jauh lebih berharga dibanding dunia yang ada didalam bukunya. Dan disaat seperti ini, aku lah yang jadi korban kemalasannya.

Sekitar lebih dari seratus menit aku mengerjakan soal, akhirnya pengawas memberikan instruksinya juga. Kami semua diberi izin untuk pulang setelah soal-soal dan lembar jawaban kami dikumpul. Hah, lega sekali rasanya.

Beban yang dari beberapa hari yang lalu terasa begitu berat dipundakku kini serasa sudah lepas. Langkahku kini terasa lebih ringan. Dan senyum manis tak akan luput lagi dari wajahku sekarang.

“Abis ini lo mau kemana?” Tanya Dini yang kini berjalan bersamaku. Meski menjengkelkan, dia tetap saja salah satu sahabat terbaikku.

Sejak SMP aku sudah bersahabat dengannya. Dan saat SMA kami juga berada di satu sekolah yang sama. Dan itu sukses membuatku semakin akrab dengannya. Entah sial atau beruntung, kini aku dan dia kembali berada satu kampus yang sama. Dan bahkan kami berada dalam kelas yang sama.

“Kok palah diem si? Lo ngga mau langsung pulang kan?” Tanya Andini lagi membuyarkan lamunanku. Jika dilihat-lihat lagi ternyata wajahnya manis juga.

“Eh… ngga tau ini bingung. Kalo ada yang ngajakin pergi ya ngga langsung pulang.” Jawabku pada Andini. Dia langsung tersenyum lebar mendengar ucapanku. Sepertinya dia memiliki sesuatu yang direncanakan.

“Ke taman dulu yuk.” Ucapnya sembari tersenyum lebar. Aku tau dia pasti sekarang sedang senang. Karena hanya jika sedang senanglah dia akan mengajakku pergi-pergi seperti ini.

“Mau ngapain di taman?”

“Ada bakso yang enak banget disana. Gue pengen banget coba.” Ucapnya lagi masih dengan senyum lebar yang mengambang diwajahnya.
“Terus?”

“Ya lo temenin gue lah. Katanya temen. Tega lo kalo ngga mau nemenin gue.” Ucapnya sedikit manyun. Dan dia tampak sedikit lebih manis saat sedang manyun.
“Iya deh iya. Gue temenin. Tapi ntar traktir gue ya.” Ucapku padanya sembari menaik turunkan kedua alisku.

“Ye… masa cewe nraktir cowo si. Ngga keren amat.” Ucapnya sembari menepuk lenganku.

Sontak kami pun tertawa bersama. Setelah itu aku dan Dini segera pergi ke parkiran untuk mengambil motorku. Entah sejak kapan aku mulai seakrab ini dengan Dini. Aku memang sudah mengenalnya sejak SMP. Tapi dulu kami sama sekali tak sedekat ini.

Mungkin berada dalam satu kelas yang sama membuat kami yang dulu tak saling akrab menjadi lebih sering saling menyapa. Atau mungkin karena saat awal-awal masuk kuliah kami tak banyak memiliki kenalan. Hingga masing-masing dari kami akhirnya bersedia untuk saling menyapa.

Setelah sekitar tiga puluh menit aku mengendarai motorku, akhirnya tiba juga aku ditaman. Aku menaruh motorku di parkiran paling ujung dan belakang supaya lebih mudah saat ku ambil nanti.

Kini aku berjalan berdampingan bersama dengan Dini. Orang yang tidak mengenal kami pasti mengira kami adalah sepasang kekasih. Diwajah kami kini tampak sebuah tawa kecil yang menandakan betapa bahagaianya kami.

Entah bahagia karena kami sedang bersama, atau bahagia karena kami sudah melewati UAS dengan maksimal.

Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya kami sampai juga disebuah tenda bakso kecil yang tadi dibicarakan Andini. Tidak mewah memang. Tapi aroma bakso yang kucium saat aku mendekatinya, benar-benar berhasil membuat seleraku tergugah.

Air liurku serasa seperti penuh didalam mulutku. Lidahku seolah sedang marah-marah karena ingin segera mencicipi bakso itu. Aku duduk berhadapan dengan Dini dikedai bakso kecil ini.

Saat aku memandangi kesekitar, nampak beberapa pasangan muda-mudi sedang memadu kasih. Mereka tampak begitu bahagia dengan pasangannya masing-masing. Jujur itu sudah membuatku menjadi iri.

Dan saat aku memandang kedepan, kudapati wajah cantik Dini yang dari dulu tak pernah sedikitpun ingin kumiliki.

“Bang, bakso dua ya.” Ucap Dini pada tukang bakso sembari mengacungkan kedua jarinya. Lalu dia menoleh kearahku lagi dan diberikannya senyuman yang manja padaku.

“Ngapain lo senyum-senyum?” Ucapku ketus padanya. Sengaja satu alisku kuangkat guna menambah kesan ketus.

“Haha nggapapa, gue seneng aja hari ini.” Ucapnya dengan senyum yang masih mengambang diwajahnya.

“Seneng kenapa? Lagi jatuh cinta ya?” Ucapku menyelidik. Dia hanya terus tersenyum dengan menaik turunkan kedua alisnya. Dan itu sukses membuatku jengkel setengah mati.

“Dih.. dasar gila.” Ucapku lebih ketus dari sebelumnya. Sontak dia pun tertawa puas. Seperti sudah berhasil megalahkan seekor singa yang gagah.


Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya tukang bakso datang juga mengantar dua mangkuk bakso pesanan kami. Aromanya benar-benar menggugah selera makanku.

Saat kuseruput kuahnya, kurasakan sensasi rasa yang belum pernah kurasakan. Rasanya sangat kental dengan nuansa tradisonal, tapi juga lekat dengan gaya barat. Menciptakan sebuah rasa yang unik dilidahku. Memaksaku untuk memuji sipembuat bumbu.

“Gimana? Enak kan?” ucap Dini padaku. Aku hanya manggut-manggut menyetujui ucapannya. Lalu seperti biasa dia selalu tertawa lebar. Memang saat tertawa dia  tampak lebih manis. Lesung dipipinya memberikan kesan luar biasa diwajahnya.

“Ngga kerasa ya kita udah kuliah satu semester.” Ucapnya lagi. Aku hanya manggut-manggut karena rasa bakso ini lebih menarik bagiku ketimbang ucapannya.

“Kalo diinget-inget lagi, gue ngerasa harus banyak-banyak berterimakasih sama elo deh kayaknya.” Lanjutnya lagi. Aku menoleh kearahnya. Karena memang aku belum mengerti apa yang baru saja ia ucapkan.

“Ya kalo ngga ada elo ngga kebayang deh gue jadi apa. Diawal-awal masuk kuliah cuma lo doang yang gue kenal. Dan kalo butuh apa-apa cuma lo doang yang mau bantu gue.” Dia masih tersenyum saat mengucapkannya.

Perlahan tapi pasti, aku berusaha mencerna ucapannya sebisaku. Dan memang benar apa yang dia ucapkan. Justru, aku merasa akulah yang seharusnya mengucapkan itu padanya.

“Ahaha iya deh iya. Ngga kerasa ya udah satu semester. Rasanya kaya baru kemarin aja kita diospek.” Ucapku yang kini sudah merasa mendapatkan arah pembicaraannya.
“Iya lah ngga kerasa. Kan lo bareng terus sama gue. Hahaha.” Ucapnya lagi dengan mulut yang masih sesak dengan makanan.

“Idih…” Ucapku ketus. Tapi, jika kupikir-pikir lagi. Memang ucapannya ada benarnya juga. Tak bisa kupungkiri kehadirannya sukses membuat hari-hariku terasa semakin cepat.

Aku merasa lebih mudah melalui hariku saat bersamanya. Ah, aku tidak mau menebak-nebak perasaanku sekarang. Yang aku tau, aku merasa waktu terasa berjalan lebih cepat ketika aku bersamanya. Dan aku ingin terus bersamanya.

---oOo---

Contoh Cerita 3 Paragraf tentang Berbagai Tema

Contoh cerita 3 paragraf tentang berbagai tema – memang, hidup ini penuh dengan kisah-kisah menarik yang tak mungkin kita lewatkan begitu saja. Hidup adalah se-rentetan kejadian yang sangat untuk disimak dan untuk diambil hikmah dan pelajaran didalamnya. Bahkan dalam bentuk yang sangat singkat sekalipun, cerita kehidupan selalu bisa menjadi pembelajaran.

contoh cerita 3 paragraf
Contoh Cerita Cerpen 3 Paragraf tentang Berbagai Tema

Satu inspirasi yang datang di awal minggu ini adalah untuk menghadirkan karya-karya atau kisah-kisah menarik yang pendek dan singkat. 

1) Cerpen 2 paragraf
2) Cerita 1 paragraf
3) Cerita pendek singkat

Sebut saja misalnya yang terdiri dari dua, tiga atau empat paragraf saja. Kalau hanya terdiri dari 1, 2, 3 atau 4 paragraf saja tentu saja ceritanya akan sangat padat.

Sebagai pembuka, ada dua cerita pendek yang akan kita baca. Cerita yang pertama adalah cerita yang sangat pendek yang mengambil tema tentang cinta atau asmara. 

Cerita tersebut mengisahkan sebuah momen romantis antara dua orang anak manusia yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Seperti apa, baca langsung berikut!

Kebahagiaan yang Sekejab
Cerita 3 Paragraf

Malam temaran. Bulan malu-malu menampakkan sinarnya pada kami yang duduk bersebelahan. Dua jengkal, jarak kami duduk tak pernah sedekat itu sebelumnya. Pandanganku setengah menunduk. Mendengarkan dengan seksama semua kalimat yang keluar dari mulut Irphan, tunangan yang dalam seminggu lagi akan menjadi pemimpin dalam rumah tangga impian kami. Suaranya pelan, tegas dan lembut. Setiap kata yang terucap bagaikan angin gunung yang menyejukkan hati.

“Hari ini adalah hari yang sempurna untuk mengungkapkan puji syukur kita kepada Tuhan. Aku telah dikarunia seorang calon permaisuri yang begitu sempurna. Denganmu, hidupku akan lengkap, sempurna. Lihat bulan itu sayang, sinarnya begitu reduk dan indah, menyempurnakan setiap detik yang ku lewatkan denganmu.” Aku hanya bisa tertunduk malu dengan wajah sedikit me-merah. Meski sudah resmi bertunangan, Irphan tak pernah sekali pun menyentuhku. Ia benar-benar menjaga prinsip meski kadang aku sendiri tak sabar menantikan momen indah itu kala tangan kami saling bertenggaman erat.

Ku beranikan diri melirik ke arahnya. Memandang tepat di wajahnya yang tampan dan mempesona. Kumis tipis, dengan jenggot yang sedikit tebal membuat wajahnya begitu anggun. Malam itu, berkali-kali angin menghembus ke tubuh kami, mencoba menguji keyakinan kami masing-masing.

***

Di atas kita sudah menikmati sebuah kisah asmara romantis yang pendek. Untuk cerita kedua ini akan mengambil tema yang sedikit berbeda dari sebelumnya. 

Yang kedua ini akan berkisah tentang dunia pendidikan yaitu menceritakan tentang seorang remaja yang sangat senang dan bangga bisa masuk kuliah. Penasaran, mari kita baca bersama.

Bangga Menjadi Mahasiswa
Cerita Tiga Paragraf Singkat

Tegap bak tentara. Hope berjalan keluar dari pelataran kampus. Rambut sedikit gondrong, penampilan yang sesuka hati, ia berjalan dengan membusungkan dada. Di depan gerbang kampus, ia melambai ke salah satu angkot yang melintas. “Jleg…”, kakinya menatap masuk ke angkutan kota berwarna biru menuju terminal. “Kiri bang…”, sebelum sampai di terminal ia segera menghentikan angkot, berjalan melewati halte yang biasa digunakan orang untuk menunggu bis menuju ke kota-nya.

Senja memerah. Hampir larut Hope sampai ke kampung halaman. Menenteng tas di punggung. Membawa beberapa buku di tangan, Hope berjalan menuju rumah. “Dari mana Hope, sore begini baru pulang?” “Biasalah pakde, dari kampus. Kuliah…” “O… kuliah ya sekarang…” “Iya pakde…” Hope, seorang anak laki-laki satu-satunya dari buruh petani menjejakkan kaki tanpa gamang. Sesekali terlihat senyum tipis menyembul dari bibirnya yang tebal. Jelas sekali raut muka cerah dan semangat membara di dada-nya.

“Pulang…, pulang… sudah sore…”, Hope mengayunkan tangannya menyapa beberapa anak sebaya yang ia lewati. “Oih Hope, kuliah ya… sampai sore begini ya…” “Ya, namanya juga mahasiswa, ya beginilah…” ucap Hope dengan bangga. Minggu pertama kuliah menjadi minggu yang penuh kebahagiaan bagi putra pak Joko itu. Meski perutnya kosong seharian tidak makan namun ia selalu bisa bersemangat, mengatakan kepada orang yang ia temui bahwa ia telah kuliah.

***

Lumayan ya, dua buah cerita 3 paragraf sekaligus bisa kita nikmati dalam satu kesempatan. Tentu kisah-kisah tersebut diharapkan bisa menjadi hiburan untuk kita semua. 

Selain dua judul cerita di atas masih ada sekitar 10 cerita lain yang sudah disiapkan dibagian bawah untuk rekan pembaca semua. Bagi yang masih memiliki waktu luang silahkan lihat juga karya lain yang ada dibagian bawah. 

Atau, silahkan cari langsung cerita yang diinginkan melalui kotak penelusuran situs yang sudah disediakan. Ada banyak pilihan kisah menari untuk pengunjung setia situs ini, silahkan.

Sedih, Seorang Mahasiswa Tak Lanjut Kuliah Karena Kurang Biaya

Matahari yang cerah seolah memberikan pertanda bahwa nasib masa depan anak bangsa akan secerah matahari yang bersinar di langit. Tetapi nampaknya tidak demikian. Baru saja ku temui keponakan sendiri baru saja keluar dari bangku kuliah hanya karena tidak mampu membayar uang kuliah.


Padahal bila di lihat keponakan saya merupakan mahasiswa yang berprestasi, tetapi mengapa pihak kampus tidak memberikan kemudahan untuk keponakan saya.

Ceritanya sangat sederhana ketika pada waktu itu keponakan saya hendak mengikuti UTS, sang dosen menghimbau kepada para mahasiswa yang belum membayar uang semester maka tidak bisa mengikuti UTS. 

Ada banyak mahasiswa yang belum membayar pada waktu itu, dan hingga akhirnya menghadap pihak administrasi untuk mendapatkan keringanan.

"Pak tolong saya pak, saya belum memiliki uang pak untuk membayar semester pak, berilah keringanan untuk saya pak, saya janji setelah saya mempunyai uang saya akan melunasi biaya semester pak" ucap keponakan saya.

"Enggak bisa seperti itu Ardi, kampus ini punya aturan yang harus kamu patuhi, dan aturan di sini jelas bahwa mahasiswa yang belum melunasi biaya semester maka tidak bisa mengikuti UTS" ucap pihak kampus.

"Tapi apa tidak ada keringanan untuk saya pak" ucap keponakan saya.
"Memangnya ini kampus milik bapak kamu apa minta keringanan..!, sudahlah kalau kamu memang tidak bisa melunasi uang semester lebih baik kamu keluar aja, gak usah kuliah di sini" ucap pihak kampus.

Sejak saat itulah keponakan saya sudah tidak lagi menjadi mahasiswa karena pihak kampus sudah mengeluarkannya secara tidak hormat.

"Padahal keponakan kamu kan tidak memiliki biaya dan perlu di tolong, biadap sekali itu kampus" ucap pak Lek Darmin yang sedari tadi aku ajak diskusi.

"Ya begitulah pak lek, memang sudah nasib jadi orang tidak punya, mau pinter aja susahnya minta ampun karena tidak punya uang" ucapku kepada pak lek Darmin.

"Tetapi menurut saya mas Seno dan pak lek Darmin, yang menjadi permasalahan di sini adalah pemerintahnya, pemerintahlah yang seharusnya kita kritik atas kasus ini. Karena di dalam UUD 1945 sendiri sudah dijelaskan bahwa anggaran untuk pendidikan adalah 20% dari APBN. 20% itu besar, tetapi mengapa keponakan sampean dan semua mahasiswa yang ada di negara ini masih harus membayar uang semester" ucap pak guru.

"Lalu bagaimana kita memprotesnya pak guru, kita bukan kaum berduit, kita hanya orang lemah yang sangat mudah untuk dihancurkan oleh orang-orang yang mempunyai duit dan jabatan" ucapku kepada pak guru.

"Memprotesnya sangat muda, banyak jalan untuk bisa memperotesnya dengan aksi masa, dengan membuat petisi lewat media sosial ataupun bertemu langsung dengan pemerintah, tetapi yang menjadi pertanyaan mau tidaknya pemerintah mendengarkan aspirasi kita dan semua keluhan kita, serta pemerintah mau atau tidak merealisasikan apa yang menjadi keinginan kita" ucap pak guru.

"Tetapi menurut saya pemerintah tidak perduli dengan rakyat kecil seperti kita, karena kemarin waktu hari pendidikan nasional banyak organisasi yang berdemo tetapi tidak ada realisasinya dari pemerintah. Pemerintah sekarang nampaknya lebih suka memperhatikan para kaum pemodal yang bisa mendatangkan keuntungan untuk kantong pemerintah sendiri" ucap pak lek Darmin.

"Benar pak lek saya setuju dengan pak lek, pemerintah jaman sekarang memang sudah tidak berfungsi sebagai penyambung lindahnya rakyat, hingga masalah pendidikan saja kita harus bayar, mestinya pendidikan digeratiskan dong, kalau masyarakat Indonesia pintar kan kita bisa bersaing dengan negara lain dan bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia dalam tataran Internasional" ucapku.

"Selain pemerintah, kampus juga menjadi sumber masalah utama karena di dalam kampus banyak oknum-oknum yang menjadikan pendidikan sebagai lahan bisnis. Sejauh ini memang sudah banyak kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah untuk pemerataan pendidikan tetapi kebijakan tersebut tidak ada realisasinya sama sekali, dengan demikian yang perlu kita salahkan di sini adalah pihak kampus dan pemerintah" ucap pak guru.

"Benar sekali pak guru, tetapi saya mempunyai harapan besar pendidikan negeri kita akan jauh lebih baik kedepannya" ucap pak Lek Darmin.

"Bisa asalkan pemerintah di masa depan tidak seperti pemerintah yang kita lihat dan saksikan saat ini, maka dari itu ajarkan kepada anak-anak kita agar mereka bisa tumbuh menjadi pemimpin yang bisa membawa perubahan untuk negeri ini" ucap pak guru.

Aku dan pak Lek Darmin termenung sambil menyeruput segelas kopi panas yang masih berasap, meratapi nasib perkembangan pendidikan yang ada di negeri ini. Ya aku hanya bisa berharap bahwa anak cucuku besok tidak mengalami pendidikan seperti sekarang.

Sebab aku sangat tidak rela bila pendidikan bangsa ini akan terus seperti ini, menjadi pisau penghancur bagi rakyat kecil dan menjadi lahan bisnis yang subur bagi para oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Karena biar bagaimanapun pendidikan adalah hak kita semua tanpa terkecuali, baik itu kaya miskin, berkulit hitam, berkulit putih, bagiku mereka semua berhak mendapatkan pendidikan dengan baik. Pemerintahlah yang berkewajiban untuk menjamin pendidikan untuk mereka semua, sehingga kehidupan mereka bisa berubah dan lebih mudah karena ilmu yang mereka dapat dari pendidikan.

Bila kehidupan mereka semua sudah berubah menjadi makmur dan berkecukupan, maka di situlah sejatinya bangsa ini bisa dikatakan sebagai bangsa yang maju dan sejahtera. Karena masyarakatnya sudah mendapatkan pendidikan secara merata dan cukup, dengan bekal pendidikan itulah mereka tidak harus menderita lagi karena masalah sosial. 

Oh betapa malang nasib orang miskin yang menginginkan pendidikan, tetapi harus dikesampingkan hanya gara-gara pemerintah lebih sibuk untuk memperkaya dirinya sendiri. Andai saja aku jadi pemerintah tanpa fikir panjang akan ku geratiskan semua biaya pendidikan di negeri ini sehingga semua orang miskin bisa sekolah dan menjadi pintar.

Dengan demikian kini tidak ada lagi alasan orang miskin untuk tidak bersekolah, karena pendidikan sudah geratis, sayang aku bukan pemerintah. (Arif Purwanto)

Anak Tetangga yang Cantik

Contohcerita.com - bagaimana jika jatuh cinta dengan anak tetangga sendiri? Bagaimana rasanya jika memiliki tetangga yang anaknya super cantik dan membuat anda meleleh? Cerita berikut ini cukup unik dan menarik, menggambarkan perasaan remaja yang terganggu karena sang tetangga yang aduhai.

cerpen tentang anak tetangga yang cantik
Ilustrasi: Anak Tetangga yang Cantik

Belum genap satu bulan ini sudah banyak yang berujar tentang seorang gadis yang sangat cantik. Tentu saja aku sendiri belum tau.

Si Reno temanku berkata bahwa aku ketinggalan info karena terlalu seringnya di kota dan tak pulang pulang padahal ada suatu yang mengejutkan.

Sebenarnya bukanya aku tak mau banyak pulang namun tugas kuliah memaksa aku untuk tetap fokus pada kuliahku, demikian yang kukatakan pada Reno.

Baru tadi padi aku pulang dari Jogja, rasa lelah masih belum mau pergi dari tubuh ini. Biarlah Reno yang bercerita.

Reno mengatakan terlalu banyak hal yang tidak aku ketahui dari perkembangan desaku yang sangat pesat. Tiga tahun sudah aku di Jogja.

Tak hanya itu orang orang di desa kita pun juga banyak yang sudah berubah dan berganti. Termasuk tetanggamu sendiri kata Reno.

Lalu kutanya, memangnya kenapa dengan tetanggaku. Reno bercerita bahwa sejak belum genap satu bulan ini ada satu keluarga yang pindah ke kompleks kita.

Tetangga itu punya gadis sangat cantik, wajahnya sangat menawan dan bibirnya sangat imut. Aku sendiri sangat naksir pada dia.

Satu bulan ini aku selalu datang ke rumahmu namun kata ibumu sebentar lagi kamu akan pulang, makanya aku selalu main ke rumahmu.

Bagaimana kalau kita main ke tempat dia aja bro, sekalian silaturahmi kan kamu baru pulang dari Jogja.

Aku menjawab,"alah mungkin ini modus kamu aja agar dapat lebih dekat dan dapat kenalan sama dia. Ia kan?"

"Ia itu salah satunya,dan aku memang sangat ingin berkenalan dengannya agar nanti aku main lagi ke rumahnya tidak canggung." Reno menjawab.

O ia nama gadis itu Silviana Murni, dia masih SMA kelas tiga, sebentar lagi dia akan kuliah di Jogja juga, pasti seru kalau kamu dapat tarik dia.

Sekalian kuliah bisa dipacari deh sama kamu, atau kalau kamu enggak mau aku pindah kuliah saja demi dia ke Jogja. (Gunarto)

Hanya Masjid yang Bisa Mengurai Beban Hidupku yang Berat

Contohcerita.com - masjid bukan hanya bisa menjadi tempat suci untuk bermunajat kepada sang pencipta. Masjid juga dapat memberikan suasana damai dalam hati. Masjid juga bisa mengurai penat dan beban hidup. Cerita berikut akan memberikan inspirasi dan pelajaran bagi kita semua.

Hanya Masjid yang Bisa Mengurai Beban Hidupku yang Berat
Hanya Masjid yang Bisa Mengurai Beban Hidupku yang Berat

Ayahku seorang petani, dan ibuku adalah seorang buruh tani yang bergaji pas-pasan untuk membeli beras. Menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi merupakan hal luar biasa. Namun itu tak akan pernah bisa dilakukan oleh orang tuaku.

Sejak SMP aku sudah membiayai sekolahku hingga aku mendapat beasiswa sampai lulus SMA. Setelah itu aku bingung lagi.

Niat untuk melanjutkan kuliah seperti begitu berat dengan keadaan orang tua yang hanya pas-pasan dengan penghasilan yang tak seberapa.

Namun itu bukan hambatan bagi kemauanku. Aku mencari bea siswa dan akhirnya mendapatkan info dari seorang guruku yang anaknya tinggal di Jogja.

Ia mengatakan ada sekolah gratis bagi murid murid yang berprestasi, namun pemerintah hanya menyediakan biayanya.

Untuk tinggal mahasiswa harus tinggal di masjid asrama karena tempat yang sangat tidak mencukupi. Dari saran dan info itu aku memutuskan untuk pergi ke jogja.

Tanpa pikir panjang aku langsung meminta izin kepada bapak dan ibu untuk aku pergi ke Jogja bulan depan.

Aku belum memiliki bekal sama sekali. Sebagai konsekuensi nya, aku harus mencari bekal biaya dengan bekerja sekuat tenaga dan menabung.

Akhirnya setelah beberapa saat sekitar sebulan aku mendapatkan uang sekitar dua juta. Berangkatlah aku ke jogja.

Aku sudah yakin dengan tekat untuk tinggal di masjid asrama. Walaupun tidur berdesak desakan tapi akan ku jalani untuk menuntut ilmu.

Tak lama aku sampai di Jogja dan aku tinggal di masjid. Tanpa rasa ragu aku menuntut ilmu agama di masjid sedangkan ilmu umum aku dapatkan di kampus.

Nilai plus itu yang aku dapatkan. Hanya masjid itu tempat aku tinggal dan mengeluh kepada tuhan. Tapi ku yakin masa depanku dimulai dari sini. (Gunarto).
Back To Top