5 Contoh Cerpen Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik

Ada sekitar 5 contoh cerpen beserta unsur intrinsik dan juga ekstrinsik yang pembahasannya cukup lengkap dan menyeluruh. Analisis cerpen tersebut hanya sebagian dari banyak analisis karya sastra yang sudah dibahas di situs contohcerita.com ini.

5 Contoh Cerpen Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik

Banyak memang yang membutuhkan contoh analisis untuk belajar di rumah. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kita juga mempelajari mengenai karya sastra dimana didalamnya kita juga belajar menggali yang lebih banyak.

Melalui karya sastra kita bisa menggali pesan-pesan yang ada sekaligus mengapresiasi karya tersebut. yaitu dengan analisa lebih jauh. Kadang membuat analisis sebuah karya seperti itu tidak gampang. Apalagi masih belajar.

1) Contoh cerpen singkat beserta unsur intrinsiknya
2) Contoh cerpen singkat dan unsur intrinsiknya
3) Cerpen pendidikan dan unsur intrinsiknya
4) Contoh cerpen beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik
5) Contoh cerpen beserta unsur intrinsiknya dan sinopsisnya
6) Contoh cerpen beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik 2013
7) Contoh cerpen singkat beserta unsur intrinsiknya dan ekstrinsiknya
8) Contoh cerpen persahabatan beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik dan sinopsisnya

Oleh karena itu kita berusaha menyajikan banyak referensi sebagai gambaran awal dan sederhana bagaimana melakukan analisa pada sebuah karya. Dari pada lama-lama mari kita bahas satu per satu contohnya!

Yang pertama, bukan yang paling bagus atau yang paling sempurna sih tetapi yang ini bisa dijadikan bahan referensi untuk belajar. Yang ini cukup sederhana dan tidak terlalu berat juga sih. Cerpen ini juga cukup bagus.

Judul cerpen yang ada dalam analisa ini yaitu "Si Penjaga Kubur" yaitu sebuah cerpen horor yang cukup singkat alias pendek. Untuk gambaran, berikut kita bisa baca cuplikan bagian awal cerpen tersebut.

Pada suatu ketika aku dan keluarga hendak berlibur ke Bali, namun nasib buruk menimpa kami, karena di tengah perjalanan ban mobil kami kempes. 

Dan yang lebih apes lagi, kempes di waktu malam hari sekitar jam 03:00 dini hari.Aku pun menghubungi salah seorang pembantuku untuk mengirimkan sebuah ban serep yang ada di rumah. 

Mungkin bisa ditebak isinya seperti apa. Bagi rekan pelajar dan adik-adik semua yang membutuhkan khusus dengan tema seperti ini bisa dibaca langsung dari judulnya di atas.

Supaya tidak monoton kita juga sudah siapkan cerita pendek yang berbeda, unik dan juga menarik. Kalau kebanyakan kita berbicara dengan tema cinta atau persahabatan pada contoh kedua ini kita akan berbicara mengenai binatang kesayangan.

Mungkin ada yang punya hewan peliharaan yang sangat disayangi? Menarik jika kita bisa membaca sebuah cerpen dengan tema tersebut. Apalagi jika kita bisa mengupas lebih dalam dari karya cerpen ini.

Contoh kedua ini berjudul "Anjing Hitam Besar". Karya ini masuk dalam kategori cerpen lucu singkat. Sudah dilengkapi dengan analisis yang dibutuhkan yaitu dari sisi unsur intrinsik. 

Angin berhembus semilir, berputar mengelilingi kepala Purwanto yang plontos, suasana pagi yang begitu sempurna bagi seorang Purwa, apalagi ia bersantai – duduk di beranda rumah - ditemani segelas kopi hangat.

“Suasana seperti ini begitu indah, udara yang sejuk, burung yang bernyanyi dan istri cantik yang menemani”, ucap Purwa sembari melirik sang istri yang duduk sambil mengunyah sepotong singkong goreng.

Kalau rekan semua hanya ingin membaca ceritanya tidak apa-apa karena ceritanya juga tidak terlalu panjang. Cerita cerpen tersebut sengaja disusun atau dibuat sekedar untuk bahan belajar saja. 

Bukan dari karya profesional tetapi juga sudah dilengkapi dengan analisis yang dibutuhkan. Bagi rekan pelajar yang ingin mempelajarinya silahkan melalui tautan di atas.

Selain dua judul di atas masih ada beberapa judul lain lagi. Yang ketiga ini bisa dikatakan merupakan hiburan yang cukup menarik. Kisah yang diangkat merupakan hal ringan tetapi sangat menghibur. Ada sensasi humor yang cukup terasa.

Judulnya "Mak Ijah Mencari Hewan Peliharaan", merupakan sebuah cerpen lucu yang cukup pendek untuk dinikmati di waktu luang. Seperti apa kisahnya ya, untuk gambaran silahkan baca petikan berikut!

Sudah satu minggu ini Mak Ijah banyak menghabiskan waktunya duduk di taman depan. Matanya terlihat nanar, napasnya terdengar berat, sesekali ia mengelus tangan kirinya yang terasa dingin. 

Laksana bunga yang ditinggalkan kumbang-nya, ia kesepian. Ia hanya berbicara dengan angin berkeluh kesah dengan dedaunan. 


Kok kalau dibaca secara seksama jadi sedih juga ya. Suasana yang ada dalam pembukaan cerpen itu bisa menyentuh hati. Penasaran tidak, kalau penasaran silahkan bisa dibaca sendiri sekaligus mempelajari analisisnya.

"Antara Kau dan Kakakmu", melihat dari judulnya di atas rasanya sudah bisa ditebak apa isi didalamnya ya? Benar sekali, yang ke empat ini sekedar untuk tambahan saja. Kan siapa tahu ada yang mencari tema cinta.

Dalam analisis cerpen pada judul ke empat ini kita akan menikmati sebuah kisah tentang cinta yang terbelah pada dua jiwa berbeda. Cinta segitiga, kita biasa menyebutnya seperti itu. Bagus kok, alurnya juga menyenangkan. Lihat kutipan awal ceritanya di bawah ini.

Sebut saja namaku Rangga, aku adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan yang ada di Jakarta. Baru-baru ini aku dipusingkan dengan sebuah cinta segitiga yang melandaku. Aku dicintai dua orang gadis sekaligus yang merupakan kakak beradik. Dia adalah Endang yang merupakan adik dari si Rika.

Endang adalah temanku sekolah dan kami telah lama kenal. Bahkan kami sering jalan dan makan bareng. Sedangkan aku mengenal kakak Endang ketika Endang mengajakku ke rumahnya dan memperkenalkan kepada keluarganya.

Karena diberikan lima buah maka tidak ada salahnya kita selipkan satu tema remaja seperti di atas. Bagi yang berminat silahkan baca melalui judulnya yang dibagian atas ya.

Kalau yang terakhir ini kita siapkan yang unik dan yang menarik. Tema dari cerita pendek ini sesungguhnya tentang kehidupan sehari-hari. Kisahnya diangkat dari inspirasi kejadian - kejadian sederhana yang ada di sekitar kita.

Judulnya unik, yaitu "Gara-Gara Masako", isinya tentu akan berhubungan dengan dunia wanita yaitu masak-memasak. Petikan cuplikan cerpen tersebut bisa dibaca berikut ini.

Sebut saja namanya ibu Endang, dia dan suaminya adalah pengantin baru. Layaknya pengantin baru pada umumnya ibu Endang dan suaminya harus bisa menyesuaikan diri dengan tugas dan kewajibannya.

Ibu Endang dengan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, sementara suaminya mempunyai kewajiban mencari nafkah.

Itu tadi beberapa contoh cerpen yang dilengkapi dengan unsur intrinsik bahkan ada yang sampai unsur ekstrinsiknya sekaligus. Bisa dipilih mana yang akan dipelajari lebih lanjut. Bisa disalin terlebih dahulu agar lebih mudah.

Di situs ini sebenarnya banyak sekali contoh yang sekaligus sudah dilengkapi analisa. Tapi kali ini kita pilihkan beberapa judul saja. Lain waktu kita akan bahas lagi cerpen lainnya.

Mudah-mudahan dengan dibahas lengkap beserta unsur intrinsik maka semua bisa menjadi lebih jelas. Sampai disini, salam hangat dari kami. Tetap semangat belajar ya!

22 Desember, Selamat Hari Ibu untuk Para Ibu dan Calon Ibu!

Cerpen Terbaru, 22 Desember - Hampir satu jam aku menunggu disini, tapi tidak ada satupun angkot yang lewat. Hari sudah mulai gelap, aku harus segera pulang. Akhirnya aku pulang jalan kaki karena tidak ada angkot. Sesampai di rumah, ayah memarahiku karena aku pulang terlambat. Belum sempat aku ganti baju ayah menyuruhku membuatkan kopi untuknya. Setelah kubuatkan kopi, ayah memintaku memijatnya.



“aku ganti baju dulu ya Yah.” Kataku pelan.
“pijitin ayah dulu.” Bentak ayah.
“tapi..”
“ga usah tapi-tapian.” Kata ayah. Aku pun memijitnya.

Itulah Ayahku, apapun yang kulakukan selalu salah dimatanya. Namaku Ara, siswi sebuah sekolah kejuruan di kotaku. Ayahku hanya seorang sopir taksi. Aku bisa bersekolah di sekolahku sekarang karena mendapat beasiswa. Sejak kecil aku tinggal dengan ayahku. Ibu dan ayahku berpisah karena ibu sudah tidak tahan dengan sikap ayah. Aku ikut ayah, sedangkan kakak laki-lakiku ikut ibu. Aku tidak pernah dipertemukan dengan ibu bahkan aku sudah lupa wajah ibu seperti apa. Aku ingin sekali bertemu dengan orang yang sudah melahirkan aku.

***

Pagi ini, seperti biasa aku menunggu angkot di depan gang rumahku.
“Ara” seseorang menyapaku.
“iya.” Jawabku.
“mau berangkat sekolah ya?” tanyanya.
“iya. Maaf kamu siapa ya?” tanyaku
“oh iya, kenalin aku Dika. Aku satu sekolah sama kamu kok. Kita berangkat bareng yuk!” jawabnya.
“ga usah deh, aku naik angkot aja.” Jawabku. Dia terus memaksaku sampai akhirnya aku bilang iya. Kami berangkat ke sekolah bersama. Kami berpisah di depan kelasku.
“Ara berangkat sama siapa?” tanya Beta, teman sebangkuku.
“namanya Dika. Aku juga ga tau dia siapa.” Jawabku.
“ Dia itu kakak kelas kita, Ara” kata Beta.
“masa sih. Aku kok ga pernah liat?” tanya ku

“ya iyalah kamu ga pernah liat, kamunya jarang keluar kelas.” Jawab Beta.
“udah deh ga usah di bahas.” Kataku.

Sejak saat itu aku dan Dika sering berangkat dan pulang sekolah bersama.kami juga sering makan bareng di kantin.

***

Ada guru matematika baru di sekolahku dan beliau mengajar di kelasku. Namanya Bu Ratna. Bu Ratna meminta kami mengerjakan soal-soal yang sudah ia tulis di papan tulis. Dengan mudah aku menyelesaikan soal-soal itu. Aku memang tergolong siswa pintar di sekolah. Bu Ratna meminta beberapa anak mengerjakan soal di depan. Aku mengerjakan soal nomor satu.

“pekerjaan kamu bagus, siapa nama kamu?” kata Bu Ratna.
“nama saya Ara bu.” Jawabku. Bu Ratna kaget mendengar aku menyebutkan nama.

Bel tanda pelajaran usai berbunyi. Bu Ratna memanggilku.
“Ara, nama lengkap kamu siapa?” tanya Bu Ratna.
“Syifa Azahra. Memangnya kenapa bu?”
“nama kamu bagus. Begini Ara, minggu depan ada lomba matematika. Ibu pengen kamu ikut lomba itu. Tapi bukan mewakili sekolah.”
“pribadi gitu bu?” tanyaku.
“iya. Gimana kamu mau kan?” tanya Bu Ratna lagi.
“saya pikir-pikir dulu ya Bu.” Jawabku.

***

“yah, aku mau ikut lomba matematika boleh ga?” tanyaku saat kami nonton tv.
“ga boleh.” Jawab ayah singkat.
“tapi aku pengen ikut Yah.”
“kamu boleh ikut lomba apa aja asal jangan matematika.” Kata ayah.
“kenapa sih Ayah selalu ngelarang aku ikut lomba matematika?” tanyaku.
“pokoknya ga boleh.” Kata Ayah tegas.

Ayah selalu melarang aku ikut kegiatan yang ada hubungannya dengan matematika. Setiap aku tanya kenapa, Ayah selalu marah.

***

Setiap hari minggu, aku membantu Paman dan Bibi berjualaan di pasar seperti yang aku lakukan saat ini. Hari ini aku hanya berdua dengan Bibi karena Paman sedang pergi dengan Ayah. Aku memanfaatkan situasi ini untuk bertanya tentang ibuku. Kata Bibi, ibuku orang yang baik, cantik, dan pintar. Ibuku seorang guru matematika. Bibi juga bilang nama ibuku Ratna. Saat Bibi akan menunjukan foto ibuku Paman datang dan Bibi mengurungkan niatnya.

“kalau cape kamu pulang dulu aja Ra.” Kata Paman.
“Ara ngga cape kok.” Jawabku.
“tadi Ayahmu beli sepatu buat kamu.” Kata Paman.
“beneran Paman?” tanyaku tak percaya.
“memangnya paman kelihatan bercanda?”
“ngga sih. Ara ga percaya aja. Padahal baru tadi malem Ara bilang ke Ayah kalau sepatu Ara sudah sempit.” Kataku.
“kalau masih ga percaya kamu pulang aja!” kata Paman.

Aku pulang, karena hari itu di pasar tidak terlalu ramai. Di depan rumahku terparkir sebuah motor, aku mengenali motor itu. Itu motor Dika. Aku bertanya-tanya ngapain dia kesini, ada perlu apa, lalu dia tahu rumahku dari siapa.

Saat aku masuk ke dalam rumah kulihat ada Ayah, Bu Ratna dan Dika.
“Bu Ratna sama Dika ngapain disini?“ tanyaku. Tidak ada jawaban dari mereka.
“Yah, tamunya kok ga dibikinin minum sih?” tanyaku lagi.
“mereka Cuma orang salah alamat kok Ra. Ara masuk aja ya!” jawab Ayah. Aku menuruti perintah Ayah.
“Ara.” Panggil Bu Ratna. Aku berhenti dan melihat ke arah Bu Ratna. Air mata Bu Ratna membasahi pipinya. Aku semakin bingung dengan semua ini.
“Ara jangan masuk sayang.”kata Bu Ratna. Bu Ratna memelukku erat sambil menangis.

“Ara ini ibu” kata Bu Ratna. Kepalaku terasa berat dan semua menjadi gelap. Aku pingsan cukup lama. Saat sadar kulihat Ayah, Bu Ratna yang mengaku ibuku dan Dika di samping ranjangku. Bu Ratna masih dengan air mata yang mengalir dan Ayah dengan diamnya. Kulihat Paman dan Bibi masuk ke kamarku dan berdiri disamping Ayah. Bibi memberikan Foto yang aku tidak tahu itu foto siapa. Lalu Bibi berkata bahwa itu fotoku bersama kakak dan ibuku. Bibi juga menceritakan semua tentang keluarga kecilku dulu sebelum Ayah dan Ibu berpisah.

“Ibu” kataku lirih.
“iya sayang ini ibu dan ini kak Dika.” Kata ibu. Ibu kembali memelukku.
“sekarang Ara dan Dika sudah besar, mereka bebas memilih mau ikut siapa.” Kata Bibi.
“kalau Ara mau ikut Ibu, Ayah ga akan marahin Ara kok.” Kata Ayah.
“Ara mau tetep disini. Tapi Ara boleh kan ke rumah Ibu?”
“iya Ara” jawab Ayah.

“kalau Dika gimana? Ibu tahu kamu sama kagetnya dengan Ara, tapi ini kenyataan yang harus kalian terima. Ayah yang kamu impikan ada dihadapan kamu sekarang.” Kata Ibu
“Dika di tempat Ayah dulu ga papa kan Bu?” tanya Kak Dika.
“ga papa kok. Itu kan hak kamu.” Jawab Ibu. Kak Dika hanya tersenyum mendengar jawaban ibu.
“Ibu pulang dulu ya.” Kata Ibu.
“Ara ikut.” Kataku.

“Ara siap-siap dulu kalau mau ikut” kata Ayah. Hari ini Ayah menjadi sosok yang tidak kukenali. Ayah yang kukenal adalah Ayah yang sering memarahi dan membentak aku, tapi hari ini Ayah baik dan lembut.

Mereka menunggu aku bersiap-siap. Setelah siap aku keluar dari kamar dan menghampiri mereka. Aku membawa seragam sekolah, beberapa baju dan buku pelajaran.
“Ara udah siap.” Kataku.
“biar aku yang jaga rumahnya Mas.” Kata Paman. Ayah mengantarku ke rumah Ibu. Kak Dika mengambil seragam sekolah, beberapa baju dan buku pelajarannya. Ayah dan Kak Dika kembali ke rumah Ayah.

Aku sangat bahagia karena kembali bertemu dengan orang yang melahirkanku. Hari-hariku lebih berwarna karena sekarang aku bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu, Ayah tidak lagi sering memarahiku dan aku bertemu dengan Kak Dika. Tidak hanya itu, aku sekarang bebas mengikuti kegiatan yang aku inginkan. Aku akan berjuang untuk meraih impianku menjadi juara olimpiade matematika.

SELAMAT HARI IBU, UNTUK PARA IBU DAN CALON IBU DI INDONESIA!

Ibu, Maafkan Aku!

Contoh Cerita Cerpen tentang Ibu - Sinar matahari senja menyilaukan mata. Semilir angin yang berhembus perlahan mengurai rambut, mengusik wajah. Kurasa selama hidupku hanya danau ini yang bisa mengerti perasaanku saat ini.

cerpen ibu maafkan aku
Contoh Cerpen Kasih Sayang Ibu
Aku punya keluarga yang utuh dan lengkap. Aku punya ibu yang cantik dan ayah yang kaya. Tapi sayang, kedua orang tua ku jauh lebih menyayangi Laura kakakku. 

Terkadang aku sempat berfikir mungkin aku ini hanya lah anak tiri, jadi wajar kalau mereka tidak bersikap adil padaku. 

Tapi setiap kali aku bertanya pada ibuku dia justru memarahi aku. Dia bilang aku ini anak kandungnya yang lahir dari rahimnya. 

Aku dianggap salah karena sudah menanyakan hal yang sudah tidak seharusnya. 

Ya, aku memang sadar kalau pertanyaan semacam itu memang tidak pantas untuk ku lontarkan. Tapi perlakuan mereka jelas-jelas berbeda terhadap ku. 

Terkadang aku sering menangis sendiri setiap mengingat kalau aku punya keluarga.

Tapi sebanyak apapun air mata yang keluar dari mataku, tetap saja tidak akan mengubah apapun. Mereka tetap tidak akan merubah sikapnya padaku.

Setelah kurasa cukup menangis di pinggir danau, aku perlahan berjalan pulang meninggalkan danau dan menuju rumahku. Sesampainya di rumah, ayahku sudah menunggu di depan rumah. 

Kejadian berikutnya sudah bisa ditebak. Seperti biasa ayahku membentak dan memarahi. Aku hanya bisa meminta maaf, tidak berani memberikan alasan. 

Karena alasan apapun yang keluar dari mulutku malah justru akan membuat ayahku semakin marah. 

Setelah ayahku lelah memarahi dan membentak, langkah gontai aku perlahan memasuki rumah. Aku melirik ada Laura yang sedang tampak bahagia melihat aku dimarahi. 

Di sampingnya ada ibu yang juga tampak senang. Aku tidak berani menatap mereka secara langsung. Aku langsung masuk ke dalam kamar. 

Ku putar musik sekencang yang ku bisa. Aku tahu mereka bertiga pasti di luar rumah sedang menertawakan ku.

Entah apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menangis di iringi musik yang aku putar. Ku tambah volume musik yang aku dengarkan, aku sungguh tidak ingin mendengar tawa mereka.

Pernah suatu hari saat aku masih SMA, aku datang pulang kerumah membawa raport ku. Aku tertawa bahagia karena kali ini aku mendapatkan juara umum. 

Tapi ayah dan ibuku sama sekali tidak senang dengan hasil kerja kerasku ini. Mereka hanya memasang wajah datar melihat aku mendapatkan juara umum. 

Hal yang mereka lakukan padaku benar-benar berbeda dengan yang mereka lakukan pada Laura. Laura hanya mendapatkan peringkat ke tiga di kelasnya.

Tapi aku rasa kedua orang tuaku melebih-lebihkan mereka. Bahkan mereka membuat acara syukuran demi merayakannya. 

Tidak hanya itu, ayahku juga membelikan motor untuk Laura sebagai hadiah. Sementara aku yang berkali-kali mendapat juara umum harus bosan dan terbiasa dengan angkutan umum.

Dan hari ini aku sudah membulatkan tekadku. Aku ingin pergi dari rumah ini selama seminggu. Aku rasa dengan uang tabungan ini aku bisa hidup bahkan selama lebih dari seminggu. 

Aku menelpon temanku yang kebetulan kost di dekat kampus. Aku bilang aku akan pergi ke kosan-nya dan aku akan menginap. 

Dia sama sekali tidak keberatan apalagi menolak. Terlebih ketika dia tau aku punya uang untuk makan. Dia justru senang karena dia bisa mengirit pengeluaran.

“Lo serius mau nginep seminggu disini?” Ucap Karin
“Iya Serius lah..” jawabku
“Lo udah minta izin sama ibu?”

“Kagak pake izin. Gue mati paling juga kagak ada yang nyari.” Ucapku membelakangi Karin. Aku tidak sanggup meneteskan air mataku di depan Karin.

“Aduh Rachel sayang. Jangan ngomong gitu dong.” Ucap Karin padaku. Ku tengadahkan pandanganku keatas. Sekuat tenaga ku coba agar air mataku tidak jatuh.

“Lo kenapa si kok kayaknya benci banget sama keluarga lo?” Tanya Karin.
“Gue anak kandung yang di anak tirikan.” Ucap ku datar. Pandanganku kosong menatap kedepan.
“Oooh, lo cemburu sama saudara lo?” ujarnya menatap ke arahku.

“Jangan dipelihara rasa cemburu lo itu. Karena rasanya nanti palah tambah sakit.” Ucapnya padaku. Aku hanya tersenyum ke arahnya. “Makasih ya rin, lo emang temen gue.”

***

Hari ini adalah hari ketiga aku pergi dari rumah. Dugaan ku seratus persen benar, takan ada satupun orang rumah yang mencari ku. 

Mungkin sekarang mereka sedang tertawa bahagia dengan kepergianku ini. Mungkin dengan seperti ini hidupku dan hidup mereka jadi lebih baik.

“Kring... kring...” handphoneku bergetar. Ada nomor pribadi yang menelpon ku. Mungkin ini dari orang rumah yang sedang mencariku. Aku angkat telpon dengan harapan mereka mencariku.

“Hallo neng Rachel..” ucap bi Inah pembantu di rumahku.
“Oh iya bi Inah ya? Ada apa bi?”

“Ini neng. Ibu eneng masuk rumah sakit, sudah tiga hari yang lalu.” Ucap bi Inah.
“Kenapa baru bilang sekarang bi?!” Suaraku sedikit membentak. Dadaku tiba-tiba saja langsung sesak.

“Kan dari kemaren nomer neng Rachel ngga bisa dihubungin.” Ucap bi Inah lagi. Oh sial! Benar juga, dari kemaren memang aku sengaja mematikan handphone ku. Dan sekarang rasa bersalah itu datang.

“Terus sekarang mama di rumah sakit mana?”

“Sekarang lagi dirumah sakit Cipto neng.” Ucap bi Inah dari ujung sana. Kumatikan telpon yang sedang tersambung. 

Tanpa pikir panjang lagi aku langsung berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, kulihat Laura dan ayahku sedang duduk dengan tatapan kosong. 

Aku bertanya kepada mereka dimana ibu. Mereka hanya diam dengan tangannya menunjuk ke arah ruangan ICU. 

Baru kali ini ayahku tidak marah kepadaku. Sedikit aneh memang. Pikiran ku melambung jauh menebak-nebak apa yang sudah terjadi pada ibuku. Aku benar- benar panik. 

Aku masuk ke ruang ICU dan tampak ibuku sedang terbaring lemas. Aku duduk ditepi kasur dan ku genggam erat tangan ibuku.

“Raachel..” ucap ibu ku lirih.
“Iyaa.. bu.. Rachel disini bu.” Ucap ku sedikit terisak.

“Maafin ibu nak, ibu tau kamu pasti ngerasa iri sama Laura. Tapi kamu harus tau alasannya. Laura itu punya kondisi fisik yang lemah. Umurnya mungkin tidak akan sepanjang kamu. 

Jadi ibu dan ayah kamu sengaja memperlakukan kamu berbeda dengan Laura. Karena ibu dan ayah kamu ingin lihat Laura bahagia semasa hidupnya.” Ucap ibuku menjelaskan. 

Suara sedikit tersendat, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Air mataku masih menetes deras.

“Jadi selama ini ibu sayang sama Rachel?” Tanyaku pelan. Ibu memeluk ku erat. Tapi aku bisa merasakan kehangatan dekapan ibu.

“Dengar nak, ngga ada orang tua yang ngga sayang sama anaknya. Ibu dan ayah sayang sama kamu. Sayang sekali…” ucap ibuku. 

Itulah kalimat terakhir yang aku dengar dari ibuku. Air mataku mengalir deras. Tubuhnya benar-benar dingin kali ini. Suasana terasa begitu hening.

***

Setahun kemudian setelah kepergian ibuku, kakak ku Laura menyusulnya. Kini aku dan ayahku berdiri di depan kedua makam yang berjejeran. 

Tampak gundukan tanah yang masih merah itu di hadapanku. Ku pegang batu nisan ibuku. Air mataku kembali menetes. 

Di saat terakhirnya, dia telah memberikan ketulusan dan kasih sayangnya untukku. Tapi aku palah pergi dan tidak sempat menemaninya untuk waktu yang lama. 

Aku melihat ke atas. Langit hari ini begitu cerah dan biru. Kubayangkan senyuman ibuku. Senyum dan tawa yang dulu ku benci, kini terasa begitu hangat dan kurindukan. 

“Maafkan aku ibu.” Ucapku lirih. Kupejamkan mataku dan air mataku jatuh deras menuju bumi.

---oOo---

Cerita Pendek Ibu, Pakaian Anak Perempuan

Cerita Pendek Ibu, Pakaian Anak Perempuan - Dalam cerpen berikut anda akan mendapatkan sebuah nasehat yang sangat berharga, bahwa seorang ibu memang selalu memikirkan anaknya, apalagi anak perempuan. Cerita pendek ibu berikut ini menggambarkan bagaimana seorang ibu sangat perhatian kepada anak perempuan yang ia miliki, bahkan untuk urusan pakaian sekalipun.


Cerpen singkat berjudul "pakaian anak perempuan" ini juga menggambarkan sisi lain, sebuah pesan bahwa hakekatnya baju bukan hanya untuk tampil cantik. Baju - apalagi untuk seorang wanita - juga akan menimbulkan kesan tertentu, apakah itu anggun, berwibawa, menyejukkan atau justru membuat orang ingin mengganggunya.

Cerita tentang seorang ibu yang bernama Anisya dan anaknya yang bernama Tanya berikut ini cukup menarik. Jalan cerita atau alur yang diberikan kepada pembaca berbeda dengan cerpen yang sudah kita baca sebelumnya. Ceritanya menarik, segar, baru dan cukup menghibur.

Jangan sampai ketinggalan ya, bagi pecinta cerpen silahkan anda baca karya cerpen terbaru kali ini. Mudah-mudahan ceritanya berkenan bagi anda.

Kalau ingin membaca cerita lainnya silahkan pilih beberapa kisah lain dibagian akhir kisah yang ini. Di sana juga sudah disiapkan beberapa kisah lain yang cukup menarik.

Pakaian Anak Perempuan
Cerpen oleh Irma

Bagi seorang ibu, memilih pakaian untuk anak seolah sama saja dengan memilih masa depan bagi anak-anaknya. Apalagi untuk anak perempuan, pakaian anak perempuan harus sesuai dengan banyak kriteria, cantik, anggun, mewah, nyaman dan lain sebagainya.

Anisya misalnya, ia sudah satu jam memilih dan memilah berbagai koleksi baju yang ada di toko itu hanya untuk mendapatkan baju untuk Tanya. Mata Tanya juga tak henti-hentinya mengikuti gerak tangan sang ini, sampai akhirnya ia melihat satu pakaian yang ia suka, “yang ini saja Bu, aku suka yang ini”, ucap Tanya.

Mendengar perkataan anak-nya, Anisya pun langsung mengambil pakaian yang dimaksud. Ia lalu melihat dan mengamati pakaian itu. Lama ia mengamati pakaian yang ada di tangannya itu, tanpa berkata apapun, akhirnya setelah merasa puas dengan penilaian nya ia pun berkata, “untuk model yang ini ada warna yang lain tidak?”, ia bertanya kepada penjaga toko.

“Kalau yang itu pilihannya lengkap Bu, anda tinggal sebutkan saja warna apa yang anda inginkan”, jawab sang penjaga toko.

Anisya pun tersenyum tipis, terlihat ada kepuasan dalam hatinya. Ia pun segera menanyakan kepada Tanya warna yang ia suka.

“Jangan warna itu, kamu ini, norak, tidak pantas untuk kamu?”
“Tapi Bu…?”
“Iya itu bagus, tapi kalau dipakai kamu pasti tidak akan sesuai”

Akhirnya Tanya pun mengalah kepada ibunya, “Ya sudah, dari pada tidak dapat baju baru”, ucapnya.

Anisya memang seorang wanita sekaligus ibu yang sangat memperhatikan penampilan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, untuk seluruh keluarganya ia selalu selektif dalam menentukan pakaian yang akan digunakan, apalagi untuk Tanya anak perempuannya yang masih lugu. Terlihat bahwa tidak ada kompromi sama sekali mengenai pakaian.

“Bu, yang itu bagus!”, teriak Tanya
“Bagus apanya, kamu ingin dianggap murahan! Keluarga kita tidak ada yang berpakaian seperti itu, harus tertutup”, jawab Anisya

Tanya pun tidak mau mengalah, sepertinya kali ini ia benar-benar suka dengan model pakaian tersebut. Ia benar-benar ingin menggunakan pakaian itu hingga akhirnya ia berdebad dengan sang ibu.

“Bu, itu kan cocok untuk remaja!”, ucap Tanya sedikit kesal
“Iya, untuk remaja yang tidak punya prinsip”, jawab ibunya tegas, “pilih yang lain saja”, lanjutnya

Sampai pada titik itu, Tanya mengerti benar bahwa hal itu bukanlah masalah selera tetapi masalah prinsip. Maka, kalau sudah prinsip tidak akan ada yang bisa menolak, meski sang ayah sekalipun.

“Pakaian anak perempuan itu bukan hanya harus cantik Nak, tetapi harus menunjukkan harkat, derajat dan martabat yang baik, ingat itu!”, pesan itu selalu ia sampaikan kepada sang anak manakala berdebat masalah pakaian.

“Ya kan kadang aku ingin berpakaian seperti teman lain Bu, kenapa sih harus seperti itu”, ucap Tanya terlihat sedih.

“Sudahlah Nak, sekarang mungkin ibu sangat memaksa, nanti kalau kamu sudah lebih dewasa dari ini ibu tidak akan memaksa kamu lagi, nanti akan ibu berikan hak untuk kamu menentukan pilihan yang penting kamu tahu baik buruknya”, ucap Anisya panjang lebar.

Ada perasaan lega di hati Tanya mendengar perkataan sang Ibu, paling tidak suatu saat nanti ia akan menentukan pilihan sendiri untuk sesuatu yang ia inginkan. “Mudah-mudahan suatu hari nanti kamu mengerti Nak”, ucap Anisya lirih.

Perhatian dan pengertian yang diberikan Anisya kepada Tanya ternyata tidak menimbulkan kesadaran dan pengertian. Sebagai seorang gadis yang masih sangat muda, Tanya belum bisa mengambil hal baik yang diberikan oleh sang ibu, sampai akhirnya ia pun menolak menuruti keinginan ibunya.

“Aku pokoknya ingin beli baju itu, harus!”, teriak Tanya suatu hari sambil meninggalkan ibunya. Anisya mulai sadar bahwa penolakan kali ini terlihat begitu serius, “mungkin sekarang saatnya Tanya harus mengerti sendiri”, ucap Anisya lirih.

Akhirnya, Anisya pun membelikan baju yang diinginkan oleh sang anak. Dengan gembira dan bangga Tanya pun memakai pakaian tersebut. “Luar biasa, dengan pakaian ini aku terlihat lebih cantik”, pikirnya sambil berjalan menyusuri taman.

“Hai cantik”, teriak salah satu pemuda menggoda Tanya. Tampak Tanya begitu bangga dan menikmati hal itu, ia sama sekali tak terganggu dengan perlakuan lelaki itu.

Beberapa meter ke depan ternyata ada lelaki yang lebih berani, ia bukan hanya menggoda tetapi mencoba menyentuh Tanya. Sontak Tanya kaget dan berteriak, “Hei, yang sopan kamu ya!” ucap Tanya dengan suara lantang.

“Alah, sudahlah, jangan sok kamu…”, ucap lelaki itu sambil terus mencoba meraih Tanya

Menyadari lelaki itu tidak main-main, Tanya pun langsung berlari secepat mungkin meninggalkan mereka. Ia sudah tidak peduli lagi bagian lengan pakainnya sobek. Ia berlari dan terus berlari sampai rumah.

Sesampainya di rumah, ia langsung menangis. Anisya dan sang suami yang sedang santai di depan rumah pun kaget melihat anaknya dengan keadaan seperti itu.

Sang ibu panik dan sang ayah emosi - Cerita Pendek Ibu Pakaian Anak Perempuan, tetapi setelah Anisya mengetahui bahwa Tanya baik-baik saja ia pun membujuk suaminya untuk tidak memperpanjang masalah ini.

“Biarlah Yah, yang penting anak kita tidak apa-apa, dan yang terpenting lagi sekarang Tanya sudah tahu dan sadar benar bagaimana ia harus berpakaian”, ucap Anisya.

--- Tamat ---

Cerita Lina dan Orang Tua yang Kejam

Contoh cerita tentang orang tua yang kejam - namanya Lina Apriana, biasa dipanggil Ana. Dia adalah anak yang rajin, tekun dalam beribadah atau bersekolah. Selain itu anaknya cantik, putih dan bersih. Wajahnya seperti memancarkan cahaya ketenangan.


Banyak anak laki – laki yang mengidolakannya. Dia memiliki tiga saudara, dia adalah anak tiri dari keluarga pak Bagio. Tiga saudaranya bernama Riko, Siti dan Rina. Ketiga saudaranya berasal dari ibu tirinya, hanya dia yang berasal dari bapaknya.

Sekarang usianya sudah menginjak 17 tahun, sedangkan Riko 20 tahun, Siti 15 tahun dan Rina 9 tahun. Awal bapaknya menikah dengan ibu tirinya, ibunya sangat baik dengan Ana termasuk ketiga anak yang dibawa ibunya. Ana juga senang melihat perlakuan ibu tirinya terhadapnya.

Tetapi semua itu berbalik 180 derajat ketika Pak Bagio pergi merantau. Perlakuan ibu tiri dan kedua saudaranya Riko dan Siti sangat berbeda. Mereka seolah – olah menjadikan Ana sebagai pembantu. Hanya Rina yang baik terhadap Ana.

Ibu tirinya sering menyuruh Ana untuk membersihkan halaman, mencuci baju, dan segala urusan yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga.

Sedangkan ibu tirinya hanya asik menonton tv, tidak berbeda dengan Siti, Siti pun sering menyuruh Ana untuk mencuci bajunya dan menyiapkan makanan pagi. Sedangkan si Riko sering menyuruhnya untuk membersihkan kamarnya.

Tapi Rina anak yang paling kecil, berbeda dengan kedua kakaknya dan ibunya. Rina merasa kasihan kepada Ana, dia terkadang membantu ana untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Hanya Rina yang menjadi penghibur bagi  Ana. Pernah suatu malam, ketika ibu dan kedua saudarinya pergi jalan – jalan keluar rumah. Hanya ada Riko dan Ana dirumah. “ana, buatkan aku kopi” kata Riko, lalu ana membuatkan kopi “ini kopinya kak” kata ana.

Lalu Riko meminta Ana untuk menemaninya melihat tv, Ana pun duduk didekat Riko, lalu tiba – tiba riko mulai memegang tangannya, karena Riko adalah kakaknya dia biasa saja. 

“Kalau dilihat dari dekat kamu cantik juga” kata Riko. Ana hanya terdiam, melihat Ana hanya terdiam Riko pun mulai meraba kebagian yang lain.

Seketika Ana memukul tangan Riko sambil berkata “kakak ini apa – apa sih, aku ini adikmu lo kak”. Lalu Riko menjawab “kamu kan hanya adik tiri ku”.

Melihat tatapan mata Riko yang seperti mau menerkam  Ana pun pergi kekamar. Dia tidak habis pikir, kakaknya mau mencoba melakukan hal yang tidak senonoh terhadapnya.

Ke esokan harinya, Ana meceritakan kejadian semalam kepada ibunya. Ana berharap ibunya mau menegur Riko untuk tidak berbuat seperti itu lagi. Tapi malah sebaliknya ibu tirinya menuduh bahwa Ana lah yang berbohong, dia tidak percaya kalo Riko mau melakukan hal tersebut kepadanya.

Ana mulai semakin sedih, dia tidak tahu harus mengadu kemana lagi, lalu dia lari ke dalam kamar dan hanya bisa menangis. 

Kemudian terdengar ketukan pintu “tok tok tok”, “masuk” kata Ana, lalu masuk lah Rina, “mba kenapa, ko nangis” kata Rina, “mba tidak apa – apa kok dek” kata Ana sambil mengusap air matanya.

“Aku boleh tidur sama mba tidak?” Rina mencoba meminta kepada Ana, jawab ana sambil mengusap kepala Rina “ia boleh dek, Cerita Lina dan Orang Tua yang Kejam”. Kemudian mereka tertidur.

Hari demi hari dilewati oleh Ana, dia mencoba menghadapi itu semua sendirian dengan sabar. Tidak terasa lima tahun dilewati oleh Ana. Ayahnya kini telah tiada, sekarang dia sebatang kara.

Dia juga telah mengandung anak dari Riko. Ibunya tetap saja memperlakukan Ana dengan semena – mena, tidak jauh berbeda dengan ibunya, Siti pun memiliki sifat yang sama dengan ibunya. Hanya Rina yang bisa menghiburnya.

---oOo---
Back To Top