Contohcerita.com - Sakit hati karena pacar selingkuh, itu yang digambarkan dalam cerpen cinta remaja berikut. Ceritanya sederhana dan sangat menyentuh hati, membuat yang membaca bisa menangis pilu karena kekasih yang tak setia. Pernahkah kalian menangis menghabiskan waktu sendiri?
Foto: Di batu itu, aku sering menghabiskan waktu untuk menangis/gto |
"Grusak...!" Terdengar suara motorku saat aku terkapar disebelah jembatan gantung di desaku. Kala itu aku sedang emosi karena baru saja putus dari pacarku yang sangat aku cintai dan kasihi. Setiap kali aku sedang kesal aku selalu ingin melihat sawah.
Tak tau mengapa aku selalu ingin begitu, rasa yang aku sendiri pun tak bisa pahami dengan akal dan logika ku.
Tak tau mengapa aku selalu ingin begitu, rasa yang aku sendiri pun tak bisa pahami dengan akal dan logika ku.
Sore itu aku dan kekasihku sedang rebut masalah ia selingkuh atau tidak. Menurut teman temanku pacarku itu telah selingkuh.
Namun aku tidak percaya begitu saja, dan langsung menuju rumahnya untuk menanyakan kebenaran dari cerita teman temanku.
Setelah beberapa waktu kami berbincang akhirnya dia mengaku bahwa dia sudah selingkuh dengan sahabatku sendiri.
Tanpa bilang putus aku langsung pergi meninggalkan rumahnya dengan mengendarai motor menuju sawahku. Tak kusangka jalanan di dekat jembatan gantung itu sangat licin dan aku tersungkur kebagian kiri jembatan itu.
Saat aku tersungkur aku berada di dekat batu besar yang jarang kulihat. Batu itu timbul akibat banjir bandang kemarin.
Sambil meringis kesakitan aku meratapi nasibku sambil melihat hamparan sawah di dekat batu itu, aku berbicara sendiri di dekat batu itu.
Semenjak aku terjatuh di dekat batu itu aku sering merasa tenang kala menghadapi sebuah masalah. Dan ketika aku tertimpa masalah aku selalu duduk, merenung dan bahkan menangis di dekat batu besar itu.
Aku sendiri merasa heran mengapa aku selalu ingin curhat pada batu itu, apa mungkin batu itu punya kekuatan magis.
Entahlah, tapi yang pasti aku tetap selalu berdoa kepada tuhan dengan perbaikan nasibku, dan aku hanya menjadikan batu itu sebagai media lingkungan untuk mengurangi kesedihan ku. (Gunarto)