Contoh Cerita Cerpen yang Pendek, Memacu Waktu - Sesuatu memang tidak bisa dipaksakan, atau tidak baik
dipaksakan. Kemampuan seseorang tidak bisa lebih rendah dari batas keinginan
yang ingin dicapai, dalam cinta sekalipun.
Kisah pada cerpen yang pendek ini
menggambarkan bahwa untuk menghadapi pernikahan, sesuatu yang lebih besar dan
suci, maka seseorang harus benar-benar siap luar dalam.
Judul cerpen singkat ini menggambarkan bahwa seseorang tidak
bisa berkejaran dengan waktu. Sekuat apapun ia mencoba mengimbangi waktu yang
terus bergulir tetap saja ia akan jatuh, tak perlu dipaksakan. Kisah dalam
cerpen berjudul “memacu waktu” berikut memberikan gambaran lebih jelas.
Meski cinta memenuhi rongga dada, jika kamu belum siap
meniti bahtera rumah tangga maka sebaiknya persiapkan dulu. Belajar dari
pengalaman yang ada dalam cerita ini, bahkan cinta sejati pun bisa hancur
berantakan ketika memaksakan diri.
Lalu sebenarnya seperti apa sih cerita dalam cerpen pendek tersebut? Yang jelas ceritanya bagus, menarik dan menghibur. Mudah-mudahan
kisah cinta sedih berikut ini bisa memberikan pelajaran berharga bagi pembaca
semua, selamat menikmati.
Memacu Waktu
Cerpen Oleh Irma
Sudah tiga hari sejak kepergian Minarti, Jaenal terus saja
memacu langkah meski dengan tertatih. Ia mencoba menata puing-puing hatinya
yang hancur berantakan karena kepergian sang belahan hatinya itu.
“Tiada waktu untuk meratapi nasib”, meski ia merasa begitu berat
dan hangus terbakar namun ia tetap mengangkat punggung untuk melanjutkan
sisa-sisa harapan yang telah menjadi puing.
“Meski seluruh harapan hidup ku pernah ku gantungkan padamu,
namun aku masih memiliki sisa kewajiban pada-Nya”, ucapnya lirih.
Siang itu, Jaenal berperang dengan angan dan pikiran yang
carut marut. Di sebuah emperan masjid ia duduk tersandar di tiang penyangga. Dengan
tangan mendekap kedua kakinya, matanya memandang jauh menembus
bangunan-bangunan kota yang begitu tinggi.
Bising suara kendaraan seolah tak terdengar sama sekali,
teriakan-teriakan mesin itu begitu keras, namun tak mampu membuyarkan angan dan
pikirannya yang kalut. Masih teringat jelas detik-detik bagaimana akhirnya
hubungannya dengan Minarti berakhir.
“Sudahlah, aku sudah muak dengan semua ini!”, ucap Minarti
menatap mata Jaenal dengan tajam. Sungguh diluar dugaan, Jaenal tak bisa sama
sekali menenangkan hati sang kekasih, meski biasanya ia selalu mampu membuat
sang kekasih begitu nyaman.
“Entahlah, kali ini kau benar-benar keterlaluan?”, jawab
Jaenal sesaat setelah sang kekasih menutup mulutnya. “Aku sudah tidak bisa
berbuat apa-apa lagi”, lanjutnya sambil menatap mata Minarti.
Tak banyak perdebatan kala itu, sebelum Jaenal sempat
melancarkan aksi apapun akhirnya Minarti pun berlalu. Perih, hanya perih yang
bisa ia rasakan kala itu, dengan tatapan sinar mata yang hancur, ia tak mampu
meraih tangan Minarti, Minarti sudah terlanjur pergi meninggalkan dirinya untuk
selamanya.
“Aku sedang berpacu dengan waktu, aku harus melakukan banyak
hal sebelum semua terlambat, mohon mengerti”, tariak Jaenal saat pertengkaran
diantara mereka baru terjadi.
Saat itu Minarti begitu marah terhadap Jaenal yang sibuk sendiri mengurusi kehidupannya sementara Minarti harus pontang-panting mencoba meniti karir.
Saat itu Minarti begitu marah terhadap Jaenal yang sibuk sendiri mengurusi kehidupannya sementara Minarti harus pontang-panting mencoba meniti karir.
Sebenarnya, Jaenal dan Minarti adalah pasangan muda yang sudah
cukup saling kenal. Semenjak mereka bertema sudah 3 tahun lebih mereka saling
membahu. Keadaan berbalik arah ketika Jaenal dan Minarti merencanakan untuk
menikah satu tahun ke depan.
Jaenal yang sebenarnya belum siap – namun tidak ingin
kehilangan Minarti – terpaksa menyetujui ajakan menikah. Gugup, tentu saja, namun
sebagai lelaki Jaenal tahu apa saja yang harus ia miliki sebelum melepas masa
lajang.
“Aku harus segera mendapatkan pekerjaan, atau setidaknya aku
harus memiliki penghasilan”, tekadnya suatu malam.
Keadaan semakin berat, namun Jaenal tidak menyerah, ia
semakin bekerja keras untuk menyelesaikan semua hal tepat waktu. “Aku hanya
punya satu tahun ke depan, semua harus siap pada waktunya”, ucapnya pada
Minarti.
Perjuangan yang dilakukan Jaenal untuk mempersiapkan
kehidupan dan singgasaran cinta untuk Minarti ternyata tidak ada harganya, atau
masih kurang dimata Minarti.
Begitulah, Minarti sama sekali tidak peduli apa yang akan dihadapi kelak dengan Jaenal. Yang ia tahu ia hanya ingin Jaenal selalu ada bersamanya, menyapu setiap tetes air mata yang jatuh, tak peduli apapun yang sedang Jaenal lakukan.
Begitulah, Minarti sama sekali tidak peduli apa yang akan dihadapi kelak dengan Jaenal. Yang ia tahu ia hanya ingin Jaenal selalu ada bersamanya, menyapu setiap tetes air mata yang jatuh, tak peduli apapun yang sedang Jaenal lakukan.
Waktu terus berjalan, Jaenal terus berusaha menjadi pangeran
berkuda putih bagi Minarti. Ia terus berusaha selalu ada dan tetap berusaha
mewujudkan apa yang seharusnya ia siapkan sebelm menikah.
Sisa hari semakin sedikit, Jaenal semakin terpojok dalam
keadaan yang sulit. Di satu sisi ia tak mungkin kehilangan harapan untuk
Minarti tetapi di sisi lain Jaenal belum memiliki apapun untuk memberi
kekasihnya hidup.
Pertengkaran pun dimulai, Contoh Cerita Cerpen yang Pendek, Memacu Waktu, hal kecil pun dipermasalahkan
sampai akhirnya, bencana dalam kehidupan cinta Minarti dan Jaenal pun terjadi. Kini
semua hanya debu, semua hanya mimpi yang sirna ditelan mentari.
Perjuangan Jaenal berpacu dengan waktu kini sudah berakhir,
atau setidaknya tidak memiliki tujuan yang jelas. Minarti yang dulu menjadi
sandaran harapan telah pergi. Jaenal hanya bisa menjalani sisa hidupnya dalam
sepi.
--- Tamat ---