Jatuh cinta sama cowok yang suka
tebar pesona ternyata sama menyakitkannya dengan putus cinta, menurutku sih
begitu. Untuk kesekian kalinya, lagi dan lagi aku merasakan satu kegetiran
akibat rasa cinta.
Cerita ini berawal ketika aku
kenal dengan seorang senior Paskibra bernama Rendy. Yang namanya Rendy ini cowok paling cool yang pernah aku kenal
di sekolah kami. Bukan hanya aktif di organisasi, tapi ia juga jago basket.
Masa remaja adalah masa yang
penuh rasa suka duka. Pengalaman perkenalanku dengan Rendy salah satu cerita
duka yang aku rasakan. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari aku kenalan dengan
seorang cowok yang super mempesona.
Rendy ini cowok yang benar-benar
imut dan keren, menurutku. Ia juga sangat mengagumkan, apalagi dari cara ia
ngomong. Sebagai cowok berprestasi, ia sama sekali tak terlihat sombong apalagi
suka merendahkan orang lain.
Perkenalan dan obrolan kami waktu
itu begitu cair, hangat. Sampai-sampai setelah perkenalanku dengan Rendy aku
sampai tidak bisa tidur. Ada tiga kali kami bertemu dan saling ngobrol santai.
Pertama saat berada di
perpustakaan, kedua ketika aku duduk sendirian di kantin dan yang terakhir
ketika aku sendirian menunggu hujan dan akhirnya ia antarkan pulang. Tiga
pertemuan itu membuat aku gede rasa
(gr).
Sejak saat itu aku mulai sering
senyum sendiri saat mau tidur. Aku juga mulai sering membayangkan wajah Rendy.
Sampai akhirnya, ada sebuah kejadian yang membuat hal itu sirna seketika.
Waktu itu pertandingan antar
sekolah. Kebetulan aku dan Rendy menjadi salah satu siswa yang mewakili
sekolah. Saat kami bertandang ke sekolah lain itulah aku mengetahui satu
kebiasaan Rendy yang cukup membuatku terkejut.
Di sekolah lain, di sela-sela
pertandingan aku lihat Rendy berkenalan dengan siswa lain. Ku lihat dia begitu
akrab, mirip orang yang sudah kenal lama gitu.
Aku sempat menghampirinya, dan
kala itu sambutan Rendy tak begitu hangat dan seolah cuek. Aku jadi tak enak
hati dan langsung pergi lagi.
Di perjalanan sepulang, di mobil
aku dan Rendy duduk berdekatan. Saat itu ia menjadi cowok manis yang seperti
aku kenal. “Yang tadi itu siapa, sepertinya akrab benar?”, tanyaku pada Rendy
mencoba mencari tahu.
“Ah, itu tadi anak sini kok, aku
baru kenal juga”, jawabnya. “Gila”, pikirku dalam hati, “baru kenal bisa
seakrab itu”, pikirku.
Saat itulah aku mulai hilang rasa
(illfeel). Pasalnya, hari-hari berikutnya di sekolah aku sempat memperhatikan
lebih jauh tingkah laku Rendy.
Rupanya, di sekolah kelakuan dia
dengan cewek lain juga sama saja. “Dia mah orangnya memang gitu, terlalu manis
dengan semua cewek sampai sering buat cewek salah paham…”, ucap salah satu
temanku.
“Dasar cowok murahan, ganjen”, gumamku dalam hati. Untung saja
aku tidak terlanjur suka sama cowok yang hobi tebar pesona seperti itu.