Cerpen Virus Corona 5 Paragraf, Karantina Mandiri

Yuk belajar menulis lagi. Tema yang diangkat masih sama, yaitu tentang virus corona. Hari ini kita belajar membuat cerpen virus corona 5 paragraf saja. Singkat dan tidak membuat pusing. Lima paragraf kan juga bisa untuk latihan.



Intinya adalah membiasakan diri. Melalui latihan ini kita ingin mengajak rekan pelajar semua untuk membiasakan diri menulis. Tidak peduli seberapa panjang cerita yang kita tulis. 

Kalau sudah biasa nanti juga bisa lebih panjang lagi ceritanya. Hitungannya bisa halaman, bukan paragraf lagi. Makanya kita mulai dari yang sederhana. Kali ini kita ambil judul yang sangat umum saja ya. “Karantina Mandiri”, itu judul yang akan kita gunakan untuk bahan latihan cerpen. 

Tapi sebelum menulis tentang karantina mandiri, tentu saja kita harus tahu lebih dulu apa makna dan arti dari kata tersebut. Apakah yang dimaksud dengan karantina mandiri? Bagaimana pengertiannya? 

Kalau kata “karantina” itu artinya kurang lebih adalah sistem pencegahan perpindahan orang dan barang dalam periode tertentu untuk mencegah penyebaran suatu penyakit. Nah, kalau “mandiri” kurang lebih artinya dilakukan oleh individu yang bersangkutan. 

Secara sederhana karantina mandiri dapat diartikan sistem pembatasan diri yang dilakukan sendiri oleh orang yang sedang terkena penyakit untuk mencegah penularan penyakit yang diderita. 

Ada gambaran ya? Nah, kalau sudah ada gambaran mengenai tema yang akan diangkat maka akan lebih mudah bagi kita untuk menulis atau mengarang karya cerpen tersebut. Mudahlah, ada yang sudah siap? 

Pasti siap semua kan, apalagi kita hanya akan belajar untuk membuat karangan yang sangat singkat. Pasti siap semua kan? Oke, sambil menunggu siap dan untuk bahan tambahan mari kita baca dulu contoh yang sudah disiapkan berikut. 

Karantina Mandiri
Belajar Menulis Cerpen 

“Lama ya, kita tidak berjumpa. Sudah setahun lebih kamu pindah ke luar negeri. Bekerja. Kapan kamu pulang?” Kalimat itu terucap satu minggu yang lalu. Sebelum penyakit ini tambah ramai dibicarakan. Saat itu aku tidak berfikir semua akan serumit sekarang. Aku fikir itu akan biasa saja, berlalu dalam hitungan minggu. Seperti berita viral yang hilang dalam sekejab. Waktu itu aku tidak berfikir untuk pulang. Belum berfikir untuk pulang. Harus menabung dulu untuk masa depan. 

“Vico….!”, dia berteriak diujung telefon. “Ku dengar kamu akan pulang, apa benar? Kenapa sekarang, kenapa tidak dari kemarin kamu pulang saja. Sebelum semua tambah kacau?”, ucapnya dengan nada tinggi. Dia lantas bercerita panjang lebar melalui sambungan telepon. Sekarang semua jadi lebih rumit. Ada pembatasan dan pemantauan orang yang keluar masuk dari daerah lain. Apalagi daerah yang diberitakan banyak virus corona yang menyebar. 

Yang mau masuk kesuatu daerah akan diperiksa. Apakah ia bebas dari penyakit ini atau tidak. Yang mau keluar dari daerah yang terpapar pun tidak semudah itu diterima didaerah tujuan. “Co… sekarang banyak orang yang kucing-kucingan untuk pulang ke kampung halaman. Di kampung halaman pun mereka menjadi sorotan. Apalagi yang tidak mau karantina lebih dulu. Prosedurnya, setelah bepergian jauh seseorang sebaiknya karantina mandiri terlebih dahulu. Untuk pencegahan. Kalau kamu pulang, kamu harus isolasi mandiri di rumah. Tidak boleh kontak dengan orang lain terlebih dahulu selama 14 hari”, jelasnya panjang lebar. 

Tak apalah, keputusanku sudah bulat. Meski harus melakukan karantina mandiri tentu saja aku akan melakukannya. Kerinduan ini, kegelisahan ini, sudah tidak bisa aku tahan. Jauh dari keluarga, orang tua dan orang terkasih saat keadaan pandemi seperti ini bukan hanya berat tapi sangat berat. Setidaknya, setelah aku dinyatakan bersih, boleh bepergian, maka aku akan pulang. Aku akan pulang ke kampung halaman. Mencari dukungan, menghapus kerinduan dan untuk dikarantina. 

---Sekian--- 

Tidak usah berfikir ini itu yang terlalu rumit deh. Kita langsung mulai saja dengan apa yang ada dipikiran kita. Dan, yang terpenting, jangan dikoreksi dulu kalau belum selesai ya. Buat dulu saja sampai selesai. 

Kalau belum selesai terus dikoreksi, biasanya justru akan mentok. Semua yang ditulis rasanya tidak bagus, kurang pas. Akhirnya kita tidak mau melanjutkan lagi karena merasa kurang pandai melakukannya. 

Makanya selesaikan saja dulu membuat cerpen 5 paragraf tentang corona tersebut. Baru kalau sudah selesai bisa dibaca lagi kalau ingin dikoreksi. 

Kalau ada kesalahan atau kekurangan pun tidak perlu kita koreksi. Biarkan saja karya kita tersebut sebagai bukti proses belajar kita. Kalau kurang puas dengan hasilnya lebih baik kita sisakan untuk karya selanjutnya. 

Jadi pada karya selanjutnya kita akan ingat apa kekurangan karya sebelumnya. Begitu tipsnya ya. Ya sudah, silahkan dilanjutkan lagi belajar dengan karya-karya lain. Jangan lupa tetap semangat, optimis dan selalu jaga kesehatan,

Cerpen Sedih, Tanpa Kekasih

Cerpen Sedih, Tanpa Kekasih - Apakah semua orang bisa bangkit dari kesedihan atau kepedihan yang melanda, terutama jika itu dikarenakan oleh cinta? Di cerita pendek singkat kali ini kita akan mendapatkan sajian hiburan yang tidak cukup baru namun pasti menghibur yaitu untuk cerpen cinta. 


Cerpen cinta singkat kali ini merupakan cerita yang berisi tentang kepilua seseorang. Akan lebih panjang jika kita bicarakan mengenai isi dari cerpen ini, oleh karena itu akan lebih baik jika kita langsung membaca sendiri kisah sedihnya tersebut.

Sebagai salah satu cerpen cinta, cerita di cerpen berjudul "tanpa kekasih" ini mungkin sudah sering kita lihat atau bahkan mungkin sudah pernah kita rasakan. 

Yang kita harapkan, dengan membaca cerita ini mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dan pembelajaran atas apa yang dikisahkan tersebut. 

Semoga, hal buruk yang ada dalam cerita tidak akan pernah kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Dari pada penasaran dengan cerita pendek ini mari kita baca langsung ceritanya di bawah ini.

Cerpen Sedih, Tanpa Kekasih
Kumpulan Cerpen Singkat Terbaru 

Setelah genap sebulan aku jadian dengan Adan, aku semakin yakin kalau aku nggak salah pilih dan benar-benar sudah menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku, cahaya hidupku, Adan adalah segalanya bagiku. 

Aku mencinta dia dan akan selalu menyayangi dia untuk selamanya. Saat ini aku merasa puas karena penantian, dan usahaku selama ini berbuah kebahagiaan.


Telah sekian lama aku merasa menanti Adan menjadi milikku seutuhnya. Akhirnya, cerita cintaku saat ini sudah happy ending, tingal sekarang aku dan Adan yang menjalaninya. 

Dulu kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal kecil, kadang kami sampai ribut nggak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang bukan teman yang cocok, kami saling menjatuhkan dan saling membenci. 

Tapi sekarang, benar kata orang-orang, kalau kamu membenci seseorang janganlah kamu sampai terlalu, dan hasilnya sekarang perasaan itu menjadi kebalikan bagi aku dan Adan, justru kami sekarang saling mencintai dan menyayangi. 

Tapi yang jelas, aku juga nggak mau kehilangan Adan, aku takut juga kalau aku terlalu mencintai dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan terpisahkan.


“Hei Nita, kamu lagi ngapain? aku kangen deh sama kamu..”
“Halo Adan, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”

“Nita, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya sayang.”
“Kamu ngomong apa sih Adan? Kamu ngigau ya?”

“Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu seorang.”


“Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”“Adan, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih banget selama ini sama Tuhan karena aku udah bisa memiliki kamu.”

“Iya Nita, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan selama ini.”

Satu hal inilah yang selalu ditakutkan Adan, dia selalu bilang aku akan tergoda oleh cowok-cowok di kampus, sementara aku nggak begitu? Justru akulah yang paling takut Adan yang akan berpaling dariku, dia akan pergi meninggalkanku selamanya, dan cintanya hilang untukku. 

Adan sekarang kerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di kota ini, sebagai cowok kalau kita melihatnya dengan kesan pertama, dia adalah cowok yang diimpi-impikan semua cewek, karena Adan punya segalanya, dengan modal wajah yang tampan, prilaku yang baik, kerja yang mapan, akupun takut dia akan pergi dariku, kalau seandainya ada cewek yang lebih menarik dariku, lebih sederajat dengan dia.

Adan menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat dia memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. 

Saat kami masuk ke sebuah toko buku, Adan bilang dia akan membelikan aku sebuah buku sastra yang dulu sudah pernah dibacanya dan sekrang dia ingin aku juga membaca buku itu. 

Setelah Adan membayar buku tersebut, Adan langsung menyerahkannya padaku. Aku kaget membaca sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya terpisahkan oleh maut, dan bagaimana sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi peristiwa kematian itu.

“Adan, kenapa kamu kasih aku buku kayak gini?”

“Nita, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin sayang sama aku, he-he... he-he ...”

“Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa semakin sayang sama kamu.”

“Eh, benaran, percaya deh sama aku. Kalau nggak, ntar kamu boleh musuhin aku lagi deh kayak dulu.”

“Adan!! Kamu ngomong apaan sih, ya udah-udah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang yah kalau kita musuhan lagi.”

Adan aneh sekali hari ini. Tadi siang dia ngomong yang nggak-nggak di telpon, dan malam ini dia juga menyuruhku membaca buku yang isinya aneh, tentang kematian. 

Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, kata kematian terasa terngiang-ngiang di telingaku. Entah kenapa aku semakin ketakutan, takut akan kematian, takut akan kehilangan. Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Adan, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. 

Aku merasakan lagi kalau aku bersama Adan, saat ini mungkin Adan sedang tersenyum karena dia merasakan cintaku besar untuknya.

Sambil mengenderai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, Adan seperti orang yang was-was. Aneh, di sepanjang jalan aku terus kepikiran. 

Akhirnya bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget, nggak hanya goncangan, tapi sakit yang luar biasa di kepalaku, aku merasakan pusing serasa dunia ini berputar sangat kencang sekali, penglihatanku kabur, aku berusaha untuk menyadarkan diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. 

Tiba-tiba aku melihat Adan yang sedang tidur di jalanan, samar-samar aku melihat dia seolah-olah tidur nyenyak, aku merasa mimpi, mana mungkin Adan tidur di jalan, perasaan baru tadi aku boncengan dengan dia. 

Aku berjalan mendekati dia, tapi orang-orang yang ramai lebih dulu menghampiri dia, aku semakin kesakitan, aku nggak kuat lagi dan akhirnya yang aku lihat hanya kegelapan.

“Nita, kamu nggak apa-apa sayang, ini Mama.”

Aku pandangi wajah Mama. Dia seperti orang yang ketakutan, aku melihat sekelilingku, tiba-tiba aku baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi olehku.

“Ma, Adan mana? Dia baik-baik aja kan?”“Nita, nanti aja, kamu istirahat dulu, kamu masih sakit sayang.”
“Nggak Ma, Nita nggak merasa sakit apa-apa, sekarang Nita mau lihat Adan, dimana dia Ma?”
“Nita, luka kamu belum kering betul, tadi kamu terus-terusan ngigau kalau kamu ngerasain sakit.”
“Ma, Nita nggak ngerasa sakit, benaran, nggak tau kenapa Nita ngerasa sehat dan kuat Ma, sekarang pokoknya Nita mau ketemu Adan, pasti saat ini dia butuhin Nita banget.”

“Nita, saat ini Adan nggak butuh siapa-siapa lagi, dia udah aman Nita, dia udah tenang di sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia di sana.”

“Apa? Apa Ma, maksud Mama? Mama bohong!! Nita nggak percaya, nggak mungkin, nggak mungkin itu terjadi sama Adan, dia udah janji Ma nggak akan pernah ninggalin Nita, dia sayang Nita, Nita sayang Adan Ma .... nggak, nggak mungkin....

Teriakanku membuat semua suster datang ke tempatku, mereka berusaha menenangkanku, tapi aku nggak bisa, air mataku mengalir terus tiada hentinya, salah seorang suster baru saja akan memberiku suntikan penenang, tapi cepat-cepat aku elakkan.

“Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis, aku nggak rela, aku marah sama Adan, kenapa dia berani pergi ninggalin aku, padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Adan bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Adan?”

“Nita, ini udah takdirnya, waktu Adan udah habis di dunia, kamu jangan pernah marah sama Adan sayang. Kamu harus yakin kalau sekarang Adan udah bahagia di sana.”

“Ma, kenapa justru Adan, kenapa buka Nita aja yang ada di sana? Nita mau kok Ma, Menggantikan Adan, karena Nita sayang sama Adan Ma, atau biarkan Nita untuk bersama dia sekarang, Nita pengen menyusul dia Ma, Nita nggak mau hidup di dunia ini tanpa dia, percuma Ma, percuma kalau nggak ada Adan di sini, hidup Nita nggak ada arti apa-apa.”

Dengan cepat suster-suster itu memegang seluruh tubuhku, dan sesaat kemudian aku tertidur, di alam mimpi Adan datang padaku. 

Dengan pakaian yang serba putih Adan tersenyum padaku, dia berjalan mendekatiku, dia kelihatan senang sekali, seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia, melihat Adan terus-terusan tersenyum, rasanya aku ingin sekali ikut bersama dia, ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. 

Aku berusaha memeluknya dan menggenggam tangannya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku meerasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberiku kekuatan, ketegaran, dia membelai rambutku dengan penuh rasa sayang, tapi pelan-pelan dia melepaskanku, dia justru menjauh dariku, semakin jauh, jauh dan hilang dari penglihatanku.

Saat aku sadar, aku menangis lagi, aku bukan menangis karena menahan sakit pada kepalaku, tapi aku menangis karena hatiku yang terasa amat sakit. 

Sekarang dunia bagiku terasa kelam, hujan nggak hanya membasahi bumi, tapi hujan membasahi kehidupanku, hatiku seolah-olah nggak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, dia nggak akan pernah kembali lagi.

Tiba-tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau itu adalah buku yang dibelikan Adan kemarin. 

Aku buka satu demi satu halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku menangis membaca buku itu, sekilas aku seolah-olah melihat wajah Adan tersenyum di langit yang mendung di luar sana. 

Entah kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang diberikan oleh Adan, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku, menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya. 

Adan, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu, aku yakin kamu bahagia di sana, walaupun kamu sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu nggak akan pernah pergi dari hatiku, kamu abadi untukku, Adan. Aku akan buktikan, kematianmu nggak akan pernah mengakhiri cintaku.

oOo

Selain Cerpen Sedih, Tanpa Kekasih ini tentu masih ada cerita-cerita menarik lainnya yang bisa kita baca. Pokoknya kalau rajin berkunjung ke situs ini tidak akan kurang bacaan khususnya untuk cerita pendek. 

Bagi yang sudah sering berkunjung kami ucapkan terima kasih banyak atas kepercayaan dan kesetiaannya menjadi pembaca tetap situs ini. Itu saja, selamat menikmati kisahnya.

Cerpen Cinta Sedih, Akhir Kisah Kita

Cerpen Cinta Sedih, Akhir Kisah Kita -  Duh, sebenarnya ada rasa enggan kalau harus membaca cerita tentang cinta. Apalagi yang berakhir dengan tragedi. Atau kesedihan. Namun bagaimana lagi. Hobi membaca cerpen membuat kisah yang ada pada cerpen singkat terbaru ini tentu tidak boleh kita lewatkan begitu saja. 

Tentu saja, cerita yang ada di dalam cerpen ini romantis dan mengharukan sesuai dengan tema yang di usung yaitu tema cinta. Dari pada penasaran kenapa tidak membaca sendiri bagaimana ceritanya?

Ya, seperti jelas terlihat dari judulnya, "Akhir Kisah Kita" adalah cerpen yang mengisahkan sebuah perjalanan cinta yang harus berakhir. 

Yang menarik bukan ending dari kisah ini namun bagaimana cinta tumbuh diantara mereka, dan apa yang dapat mengakibatkan asmara yang bersemi tersebut harus berakhir. 

Apakah karena keegoisan, apakah karena terbakar cemburu, apakah cinta berakhir karena perselingkuhan, kita akan mengetahui jawaban dari hal itu dengan membaca kisah selengkapnya di bawah ini.



Bagaimana, lumayan bagus dan menghibur bukan? Apalagi untuk rekan - rekan remaja yang sedang biru-birunya. Yang sedang memasuki masa mencari cinta. Benar tidak? 

Nah, itu tadi hanya satu dari sekian banyak kisah - kisah yang dapat menghibur kita di waktu luang. Masih ada banyak kisah atau cerita lain yang bisa dinikmati. Mau yang pendek atau yang panjang sekalipun juga ada. 

Yang sedih banyak, yang bahagia juga tidak kalah banyak. Yang membingungkan juga ada. Ending yang menggantung juga banyak yang bisa membuat kita penasaran. Namanya dunia online, sudah sangat jauh batasnya, apalagi cerpen. 

Cerpen Tragedi di Balik Penantian

Cerpen Tragedi di Balik Penantian - Sudah keliling-keliling ke mana-mana namun tetap sama belum bisa mendapatkan apa yang dicari, untungnya curhat ke sini jadi sekarang akan disiapkan sebuah cerpen cinta tragis tentang penantian. 

Cerpen singkat terbaru ini khusus di persembahkan bagi pengunjung semua yang ingin mendapatkan sebuah bacaan cerita pendek yang mengisahkan penantian seseorang yang akhirnya menjadi tragedi. Kisah yang akan kita baca tersebut berjudul "akhir sebuah penantian".

Dengan ditambahnya satu judul cerpen lagi maka diharapkan kita semua mendapatkan lebih banyak bahan dan referensi untuk berbagai kisah cerpen yang kita inginkan. 

Diharapkan dengan adanya koleksi yang semakin lengkap maka kita tidak akan jemu atau bosan membaca kisah atau cerita yang itu-itu saja. Cerita pendek kali ini juga ditulis atau disampaikan dengan menggunakan bahasa yang mudah untuk kita pahami. 

Pilihan kata yang apik diikuti dengan gaya penceritaan yang sederhana membuat kita akan mudah untuk mendapatkan pesan dari sang penulis.

Penggunaan bahasa yang sederhana tersebut bisa mempermudah kita dalam membuat analisa cerpen misalnya saja dari sisi unsur instrinsik cerpen atau juga unsur ekstrinsi yang ada. 

Dengan demikian kita akan lebih paham dan piawai lagi dalam mengambil nilai-nilai edukasi yang terkandung dalam sebuah cerita khususnya cerpen. 

Tapi sebelum kita membaca Cerpen Tragedi di Balik Penantian tersebut sebaiknya kita lihat juga beberapa koleksi terbaru yang ada di bawah ini.
  1. Cerpen cinta kagumku selangit
  2. Cerpen cinta kau lebih dari indah
  3. Cerpen terbaru pahit kisah cintaku
  4. Cerpen cinta you are my everything
Siapa tahu dari beberapa judul di atas ada satu kisah yang bisa menarik minat dan perhatian kita. Tidak ada salahnya banyak membaca, karena seperti kita tahu membaca adalah jendela dunia yang akan membuat kita lebih berilmu dan berwawasan luas. Sekarang mari kita baca cerpen tragedi berikut!




Jika ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, jika ada keinginan dan waktu luang bolehlah kita membaca cerpen terbaru lagi. 

Tidak enak modifikasi pepatah di atas ya, pokoknya yang jelas bagi semua pengunjung yang hobi dan suka membaca cerpen boleh sesering mungkin mengunjung situs ini untuk membaca berbagai cerita pendek yang ada. 

Terluka Karena Nama Indah itu

Terlukaku Karena Nama Indah itu - Nama adalah sebuah ungkapan doa yang ingin dicapai oleh orang tua kepada anaknya. Nama memberi harapan baik di masa depan. Nama menjadi label, penanda dan pembeda dari segala jenis keragaman insan. 


Cerpen kali ini masih mengambil tema cerpen sedih yang masuk kategori cinta dan remaja. Ya, sebuah rangkaian ingatan yang membekas dalam bingkai hati yang tak pernah terurai. Perasaan yang entah bagaimana bentuknya.

Entah bagaimana warna dan rasanya. Sangat sulit dijelaskan meski nyata dan pasti. Tidak akan pernah bisa dikisahkan oleh orang lain. Tak mungkin diceritakan dari luar. Sebuah kisah hidup yang mengiris jiwa.

Terlukaku Karena Nama Indahmu
Oleh Irma

Tidak. Tak semua yang pernah hadir dapat memenuhi ruang hampa itu. Dia. Hanya dia yang sampai saat ini selalu setia mengisi, menempati celung terdalam. Di dada ini. Namanya yang tak pernah lekang dari ingatan.

Ia, satu-satunya nama yang tak pernah menangis meski air matanya meleleh. Satu-satunya yang tak pernah merasa rendah meski serba kekurangan. 

Langkahnya tak pernah surut. Tubuhnya tak pernah letih tegak berjalan. Dengan atau tanpa persiapan, ia selalu menang.

Masih ingat, jelas terlintas. Pertemuan pertama kami di sudut Cafe Berlina. Sorot matanya tajam menembus dinding. 

Aku yang terkesima melihat keteguhan di wajahnya. Terpaksa menyapa, dengan sedikit malu.

"Sedang menunggu seseorang, boleh aku temani. Kebetulan aku juga sedang janjian dengan seorang teman..." Tak kutemukan jawaban. 

Tapi senyum kecil itu ku anggap pertanda. Bahwa ia tak keberatan jika aku duduk di bangku kosong itu. Atau mungkin saat itu aku yang terlalu tak sopan dan menganggap aku diterima disana. 

Setengah jam berlalu. Mulut serasa berbusa. Tapi aku tetap tak bisa. Membuat ia bicara. Membuka percakapan yang beku itu. 

Apapun yang terucap. Hanya senyum yang kudapat. Senyum tipis. Dari bibir mungil yang seolah terkunci. Hanya senyum di ujung bibir, yang membuat aku salah tingkah. Kehabisan kata. 

Untung saja, setelah semua kata dan kalimat habis. Ketika perasaanku mulai getir, malu. Teman yang ku tunggu akhirnya datang, menyelamatkan dari dinginnya cafe. 

"Maaf ya dari tadi menggangu, terima kasih waktunya..." ucapku sambil berlalu.

Tak bisa kuberikan penilaian apapun. Sama sekali tidak, "gadis macam apa itu, dingin tapi hangat".

---oOo---

Seminggu mungkin, atau lebih. Setelah kejadian itu. Nuansa beku tanpa kata, sorot mata yang hangat. Senyum yang begitu menyegarkan. Kesan itu tak hilang. Bahkan aku seolah rindu, dengan pertemuan serupa. 
Back To Top