Angan Dalam Diam

Angan Dalam Diam - Di depan ruang kelas perkuliahan, aku duduk termenung sendiri menikmati senja. Sinar oranye matahari yang mulai pudar membuat senja ini semakin indah. Tiba-tiba aku kembali teringat akan raut wajahnya. Samuel Afrizal, itulah nama seorang pria yang selama ini aku kagumi. Ingin sekali rasanya aku untuk memiliki dirinya.


Tapi sekuat apapun aku mencoba, aku tak pernah sanggup. Bahkan hanya untuk berusaha mendapatkan perhatiannya pun aku tak mampu. Suasana senja yang indah kini sedikit demi sedikit mulai hilang. Langit yang tadi nampak begitu indah tiba-tiba saja merubah menjadi mendung seketika.

Rintik-rintik air hujan pun perlahan mulai jatuh membasahi bumi. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju parkiran untuk mengambil motorku. Sayangnya saat aku sudah sampai di parkiran, hujan sudah turus deras.

Akhirnya aku pun terjebak di tempat parkir bersama beberapa motor lainnya. Tidak banyak orang yang ada di parkiran. Ku pandangi sekelilingku dan tatap wajah-wajah yang tampak mulai kedinginan. Saat sedang asik menerawang, tiba-tiba saja mataku berhenti pada satu wajah yang tampak begitu familiar dimataku.

Anehnya, dia seperti sedang berjalan menuju kearahku. Kulihat ke kanan dan ke kiri, tapi memang benar tidak ada orang lain selain aku. Apa ini perasaanku saja. Ah tidak, dia memang sedang berjalan ke arahku.

“Hey.. belum pulang.” Ucapnya yang kini sudah berada didepanku. Aku pun langsung merasa gugup. Entah kata apa yang harus aku keluarkan. Pria yang begitu aku kagumi kini benar-benar sudah berada dihadapanku.

Dia juga bertanya padaku. Apa aku sedang bermimpi. Kalau memang aku sedang bermimpi tolong jangan bangunkan aku. Aku benar-benar nyaman dan bahagia dengan mimpi ini. Tapi bagaimana dia bisa mengenalku, kurasa selama ini kami tidak pernah berkenalan sebelumnya.

“Kok diem si? Kamu Dinda kan? Kita satu jurusan lo. Di semester yang sama juga. Aku Samuel.” Ucapnya lagi sembari menyodorkan tangannya kearahku. Dasar bodoh, mana mungkin aku tidak mengenalmu.

Kau adalah cowok populer yang menjadi bahan pembicaraan gadis-gadis. Jangankan satu jurusan, satu fakultas pun aku yakin semuanya mengenalmu. Tapi.. tunggu, barusan kau menyebutkan namaku? Bagaimana kau bisa tau namaku? Hah? Apa selama ini kau memperhatikan aku? Oh Tuhan…. Aku benar-benar bahagia hari ini.

“Ah..eng..engga kok enggak. Nggapapa. Iya aku Dinda.” Ucapku gugup sembari menyambut tangannya. Kucoba memberikan senyum termanisku untuknya. Meski lidahku benar-benar terasa keluh tadi.

Kutatap wajahnya, dia benar-benar tampan. Tatapannya begitu teduh memberikan kedamaian di hatiku. Untuk waktu yang cukup lama, tanganku pun berjabat dengan tangannya.

“Kok lo belum pulang si?” Tanya nya yang kemudian melepaskan jabat tanganku. Aku hanya terdiam dan kemudian tersenyum manis. Lalu ku lirikan pandanganku kearah samping menuju air hujan yang sedang berjatuhan dari langit.

“Oh.. iya. Iya juga ya hehe.” Ucapnya sambil tersenyum cengengesan. Dia menggaruk-garuk kepalanya. Yah aku tau, pasti sebenarnya kepalanya itu tidak terasa gatal sama sekali.

Kemudian kami pun saling terdiam untuk waktu yang cukup lama. Kuarahkan mataku lekat menatap butiran-butiran air hujan yang mulai jatuh ke bumi. Tampak begitu indah dan menyejukkan. Suara gemerciknya pun terdengar begitu indah. Memberikan sebuah kedamaian yang dalam di hatiku.

“Kamu suka hujan ya?” Ucapnya yang tiba-tiba saja memecah keheningan.
“Ah.. eh iya sedikit hehe.” Jawabku sembari tertawa kecil. Aku menoleh kearahnya, dan dia juga menoleh kearahku.

Mata kami pun kembali beradu. Dia hanya tersenyum manis menatap mataku. Jantungku berdesir halus melihat senyumannya. Senyumnya laksana oasis ditengah gurun.

Begitu menyegarkan dan menyejukan hati. Dia kembali menolehkan pandangannya kedepan. Dia menyipitkan matanya mencoba melihat hujan lebih dalam.

“Aku juga suka hujan.” Ucapnya pelan. Aku masih terus menoleh kearahnyaa. Ku perhatikan gerak bibirnya. Yah, dia tetap tampan meskipun dia sedang berbicara.

“Dulu, aku sering banget ngeliatin hujan bareng temenku. Lebih tepatnya pujaanku. Tapi sayang, dia sudah pergi tanpa pernah tau isi perasaanku sama dia. Dan sekarang, aku merasa kehilangan. Karena udah ngga ada lagi yang nemenin aku ngeliat hujan.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku tak berkata apa-apa. Aku bingung harus bagaimana mendengar cerita nya. Aku hanya bisa merasa iri pada wanita yang baru saja ia ceritakan. Pasti bahagia sekali menjadi wanita itu bisa menemani Samuel melihat hujan.

Aku juga merasa senang. Karena dia juga mengatakan kalau wanita itu sudah pergi meninggalkannya. Dan semoga saja aku bisa menggantikan posisi wanita yang sedang dia rindukan itu.

“Katakan.” Ucapku tiba-tiba. Kini aku sudah memalingkan pandanganku darinya. Pandanganku kini sudah tertuju pada derasnya hujan. Meski begitu, aku juga tau dan sadar. Dia kini sedang menatapku lekat. Menunggu kata-kata selanjtnya yang akan keluar dari mulutku.

“Katakanlah sebelum semuanya terlambat. Aku juga pernah menyesal. Menyesal karena memiliki angan. Eh tidak, bukan karena memiliki angan. Tapi karena membiarkan anganku ini terpendam dalam diam.” Ucap ku lagi.

Aku yakin sekali dia mendengar ucapanku dengan jelas. Aku tidak tau bagaimana kata-kata barusan bisa keluar dari mulutku. Semuanya mengalir dan keluar begitu saja.

Tanpa pernah ku rencanakan, dan tanpa bisa kutahan. Ku alihkan pandanganku kearahnya. Dan kudapati dia sedang menatapku lekat dengan mata indahnya. Dia hanya tersenyum manis mendengar kata-kataku.

Aku pun hanya ikut tersenyum membalas senyumannya. Untuk waktu yang lama kami beradu mata. Saling tersenyum dan saling menikmati indahnya wajah mahluk ciptaan Tuhan.

Setelah itu aku dan dia kembali memalingkan pandangan ke arah hujan. Suasana terasa begitu hening. Hanya ada suara gemricik hujan yang terdengar begitu jelas dan indah.

Dalam diam, aku dan dia kini semakin dalam tenggelam. Tenggelam dalam indahnya angan kami masing-masing. Entah apa yang dia angankan aku tidak tahu.

Tapi, aku selelu berangan bisa menjadi miliknya dan bisa memilikinya. Namun sayang, anganku ini tak mampu terucap. Hanya mampu terpendam begitu dalam, dalam diam.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top