Menjadi Satu Dalam Detik Segmen 6 Tamat

Menjadi Satu Dalam Detik Segmen 6 Tamat - Akhirnya kita sampai di penghujung naskah drama terbaru yang berjudul "satu dalam detik" ini. Beberapa pertemuan terakhir kita telah membaca babak demi babak dari naskah tersebut.

Naskah yang berisi tema remaja sekolah ini memang memiliki cerita menarik, lucu dan cukup menghibur.


Selain itu, adanya naskah drama atau naskah teater ini juga selain dijadikan hiburan bisa dijadikan bahan belajar.

Kita bisa belajar membuat naskah sendiri dengan memperhatikan naskah ini sebagai contoh. Bahkan bisa juga kita melakukan analisa atau analisis agar kita lebih paham mengenai seluk beluk drama pementasan.

Setelah naskah drama berjudul "satu dalam detik" ini selesai maka kita akan lanjutkan memperbanyak referensi kita dengan membaca lagi beberapa karya lain yang tak kalah seru dan tak kalah dari yang ini.

Akan ada banyak koleksi, diantaranya ada naskah untuk 3 orang, ada untuk 4 pemain, 5 orang pemain dan banyak lagi lainnya bahkan sampai yang para pemainnya banyak sekalipun juga ada.

(sekmen ke 6). 
Keesokan harinya suasana kelas tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Akan tetapi suasana menjadi berubah setelah seorang siswa mengakui kejujurannya.

( Di kelas )

Destra : (menepuk bahu Fadia) “Fad, Sri” Sri dan Fadia : (berbalik badan) “ya?”

Sri dan Fadia : “kita berteman saja ya”

Destra : “Fad, terimakasih ya sudah mengerti perasaan aku”

Fadia : “loh ko kesitu situ? Ooh rupanya kamu suka sama Sri.. ciyee. Jujur aja kali, kita kan teman. Ya kan?” (tersenyum)

Destra : “teman? Hmm..iya” (tersenyum)

Sri : “Des, kita itu semuanya teman. Kamu boleh berteman sama siapa aja kok. Enggak ada hukum yang melarang, ya kan?”

Destra : “iya. Terimakasih ya semua. Sekarang aku sadar” (tersenyum)

Semua murid telah duduk di bangku masing-masing. Tiba-tiba, datang bu Tia..

Bu Tia : “ibu Cuma mau kasih tau, kalau besok ibu gak masuk soalnya ibu ada kepentingan. Jadi besok kalian libur.

Murid : ya jelas libur lah bu, kan besok hari minggu ?
Bu Tia : (tertawa) 

Murid : “Horeee!!”

Semuanya telah menjadi satu dalam detik. Musuh menjadi teman, pacar menjadi teman, dan teman akan selamanya menjadi teman. Dalam detik, kita dapat menyatukan dan mempererat tali pertemanan.

Kita semua teman, teman sekelas, teman sepermainan, maupun teman se-Dunia.Salam pertemanan dari kita semua dan untuk kita semua.

TAMAT

Kumpulan Contoh Naskah Drama Maulid Nabi

Mendekati perayaan dalam banyak juga rekan pelajar yang mencari contoh untuk beberapa drama tentang maulid nabi. Maka dari itu tidak lupa kita siapkan juga teks tersebut untuk tambahan referensi. Sama dengan teks drama lainnya, bedanya adalah ceritanya lebih kental dengan suasana religi.


Tema yang diambil dalam naskah drama ini adalah seputar perayaan hari besar islam yaitu peringatan maulid nabi besar Muhammad SAW. Mungkin gambaran kisah yang akan diangkat sudah bisa ditebak. 

Naskah Drama Cerita Asal Usul Danau Toba

Naskah Drama Cerita Asal Usul Danau Toba - berbicara mengenai asal muasal tentu saja akan sangat dekat dengan kisah yang ada turun temurun di masyarakat. Salah satu kisah seperti itu adalah cerita tentang awal mula terjadinya sebuah danau yang sudah cukup terkenal yaitu danau toba. Anda tahu bukan danau yang satu ini, pasti dong.


Pastinya, karena kita berbicara mengenai danau toba maka naskah teks drama ini pasti akan berisi kisah tersebut. 

Ya, naskah drama 3 orang pemain ini memang secara khusus dikembangkan dari kisah cerita rakyat tersebut. 

Tujuannya tentu hanya untuk bahan referensi dan media pembelajaran bagi adik-adik pelajar yang sedang belajar drama.

Karena hanya terdiri dari 3 orang pemain maka naskah ini bisa dikatakan cukup pendek. Tetapi meski begitu, naskah ini juga dapat dikembangkan lebih jauh dan disesuaikan lagi dengan kebutuhan rekan pelajar semua. 

Misalnya, jika ingin, naskah ini juga bisa dibuat lucu dan lebih menarik. Agar lebih jelas silahkan baca langsung drama berikut.

Cerita Asal Mula Danau Toba
Naskah Drama 3 Orang Pemain

Para Tokoh Pemain
1) Petani 
2) Ikan 
3) Anak

Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. 

Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. 

Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,

Petani : “Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini, untuku makan siang nanti dan juga sore hari”.

Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.

Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. 

Ikan : “Tolong jangan makan aku”.
Petani:”Kau ikan bagaimana bisa kau bicara”.
Ikan:”Itu bisa aku ceritakan asalkan kau tidak memakanku”.

Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.

Petani :”Siapa kau?”
Ikan : “Aku adalah seorang putri yang dikutuk menjadi ikan”.
Petani : #$@*
Ikan : “Terimakasih kau telah membebaskanku, sebagai imbalanya aku bersedia untuk kau jadikan istri”.

Petani : “Aku setuju”.
Ikan : “Tapi ada satu syarat”. 
Petani : “Apa itu?”

Ikan : “Kau tidak boleh menceritakan kepada siapapun tentang asal usulku. Jika kau melanggarnya akan terjadi peteka yang dahsyat”.

Petani : “Baiklah kalau cuma itu syarat yang kau berikan kepadaku, aku akan memenuhi syarat itu untukmu”.

Setelah beberapa lama mereka menikah, sepasang suami istri akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. 

Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.

Anak:”Ayah, ibu, aku lapar sekali tolong berikan makanan kepadaku”.
Ayah:”Bukannya kau baru makan nak”.
Ibu:”Jatah ibu kan sudah kau makan juga nak”.

Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. 

Ibu (yang tidak lain adalah putri ikan) :”Anakku, maukah kamu mengantarkan makanan ini ke sawah dimana ayahmu sedang bekerja”.
Anak :”Iya bu”.

Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan telah dilahab habis olehnya, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug.

Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. 

Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya.

Petani : “Hay …! Bangun(Mengoyangkan badan anaknya dengan kedua tangannya)”.


Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. Ternyata makananya sudah habis dimakan oleh anaknya. 

Petani : “Mana makan siang ayah yang dititipkan ibumu ..?”.
Anak : “Sudah habis ku makan yah”. 

Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. Yang mengatakan bahwa dia anak ikan. Petani telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.

Petani :”Apa..! mengapa kau memakanya!, kau tidak tahu ayah dari tadi menunggumu sambil menahan lapar dan haus, sekarang malah jatah makan ayah kau makan, dasar anak ikan.!”.

Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. 

Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.

---Tamat---

Teks Naskah Drama 8 Orang Pemain Kelana Sakti, 2 Cewek 6 Cowok

Contoh Teks Naskah Drama 8 Orang Pemain Kelana Sakti - niatnya sih ingin menyusun atau membuat sendiri sebuah teks atau naskah untuk pementasan drama di sekolah. Nah, berhubung belum begitu paham bagaimana membuat naskah cerita yang bagus dan baik maka tidak salah kalau mencari contohnya lebih dulu.


Di situs contohcerita.com ini sebenarnya sudah banyak teks drama yang disuguhkan. Namun begitu untuk contoh drama 8 orang pemain mungkin masih sedikit. 

Karena itu kali ini kita tambah lagi sebuah koleksi baru khusus untuk drama dengan jumlah pemain tersebut. Tentu saja, ini hanya untuk contoh saja, nanti bisa dikembangkan lebih jauh.

Drama atau teks drama yang dimaksud adalah sebuah drama yang dikembangkan dari cerita rakyat nusantara. 

Meski dari cerita rakyat namun drama ini bukan yang pemainnya binatang seperti cerita anak. Misalnya, cerita beauty and the beast atau cerita lain yang ada karakter binatangnya, yang ini beda.

Cerita yang diambil adalah "cerita kelana sakti", sebuah cerita rakyat dari Aceh, kalau tidak salah sih. Ceritanya bagus dan memiliki latar cerita pada kehidupan zaman kerajaan gitu. 

Tapi, alur cerita tersebut bisa dikembangkan lebih jauh agar sesuai dengan kebutuhan. Bisa dikembangkan ceritanya atau dikembangkan percakapan atau dialognya.

Cerita Kisah Kelana Sakti
Naskah Drama 8 Orang Pemain

Para Tokoh Pemain
1) Raja Indra Sakti 
2) Permaisuri 
3) Panglima badau 
4) Prajurit
5) Ibu kelana 
6) Ayah kelana 
7) Kakek
8) Kelana

Konon, di Sumatera Utara ada sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Purnama. Kerajaan itu dipimpin oleh Raja Indra Sakti yang adil dan bijaksana. Seluruh rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Di desa keraaan itu hiduplah sepasang suami istri dan putranya yang sudah remaja bernama Kelana Sakti. Kelana Sakti adalah anak yang baik hati dan rajin. Kehidupan mereka pun sangat tenteram.

Suatu hari, tersebar kabar bahwa Raja Indra Sakti sakit keras. Banyak tabib yang didatangkan. Namun, sang Raja masih terbaring lemah. Hari terus berjalan. Kesehatan sang Raja semakin memburuk. Raja menyuruh permaisurinya untuk memanggilkan Panglima Badau.

Raja :”Permaisuriku.. tolong panggilkan panglima badau kesini”.
Permaisuri : “Baik kanda”.

Tak lama, Panglima Badau pun datang dan sang raja mewasiatkan kepadanya untuk menjaga keluarganya dan menggantikan untuk menjadi raja, dan menobatkan sang pangeran menjadi raja kelak kalau sudah dewasa.

Raja : “Panglima..”.
Panglima badau :”Iya baginda raja..”.
Raja : “Aku ingin kau mengantikanku untuk sementara menjadi raja sampai sang pangeran dewasa kelak”.
Panglima badau : “Baik baginda raja”.

Tak lama berselang, sang Raja menghembuskan napasnya yang terakhir.

Permaisuri : “ Suamiku..(menangis tersedu sedu)”.
Panglima badau : “Tabahlah putri, sekarang baginda sudah tenang di sana”.

Kabar kematian sang Raja membuat rakyat Purnama bersedih hati. Seluruh negeri turut berduka. Sejak menjadi raja, Badau suka berfoya-foya. Setiap hari berpesta pora dan bermabuk- mabukan. Badau lupa pada tugasnya sebagai raja. Dan raja badau sangat kejam kepadapenduduknya.Melihat keadaan itu, keluarga raja sangat kecewa.Bahkan dia sering mengutus pasukannya untuk meminta umpeti kepada rakyatnya.

Raja badau:”Wahai perajuritku pergilah ke permukiman warga dan mintalah umpeti hari ini, dan jangan beri ampun rakyat yang tidak mau memberi umpeti, bawa dia padaku”.
Prajurit:”Baik raja”.
Raja badau:”Pergilah”.

Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Badau yang kejam itu akan memenjarakan siapa saja yang menentangnya.Suatu sore, Kelana Sakti terlihat duduk-duduk bersama ayah dan ibunya. Tiba-tiba datang beberapa prajurit mendatangi rumahnya. Dan menyuruhnya untuk menyerahkan hartanya tapi mereka tetap mempertahankan hartanya.

Prajurit : “(Mengedor pintu) buka pintunya”.
Ibu kelana : “Ada apa sekiranya kalian semua datang ke rumah hamba”.
Prajurit : “Serahkan harta kalian (dengan mendorong ibu kelana sampai terjatuh)”.
Ayah kelana : “Ini harta kami, tidak akan aku serahkan kepada kalian”.

Karena perlawanan orang tua kelana akhirnya orangtoa kelana di bawa ke istana untuk dipenjarakan.
Kelana sangat sedih. Tiba tiba ada seorang kakek yang menolongnya dan tinggal bersamanya. 

Kakek: “Hay anakku jangan bersedih ini hanya sementara kau harus kuat untuk dan kau harus harus bisa membebaskan orangtuamu kelak”.
Kelana: (Hanya meririk dan melihatnya).
Kakek: “Aku akan tinggal bersamamu dan akan aku ajarkan ilmu bela diri dan pengobatan kepadamu agar kau bisa membebaskan orang tuamu”.

Kakek itu mengajari ilmu bela diri dan pengobatan. Sementara itu, kekacauan dan kejahatan di Kerajaan Purnama semakin merajalela, Teks Naskah Drama 8 Orang Pemain Kelana Sakti, 2 Cewek 6 Cowok.

Sebagai pemuda yang mencintai kedamaian, Kelana tidak tega melihat penderitaan rakyat. Dia kemudian mengumpulkan para pemuda di Kerajaan Purnama. Mereka dilatih beladiri dan dibekali strategi berperang oleh kakek itu. 

Setelah melakukan persiapan secukupnya, Kelana dan para pemuda pun menyerang istana. Raja Badau yang kejam itu pun dapat dikalahkan. Keluarga raja dan rakyat Purnama pun menjadi senang, karena mereka tidak diperintah lagi oleh raja yang zalim itu. 

Atas jasa-jasanya tersebut, Kelana diangkat menjadi raja sampai putra Raja Indra Sakti dewasa. Dia memimpin Kerajaan Purnama dengan adil dan bijaksana. Negeri Purnama kembali menjadi kerajaan yang makmur.

---Tamat---

Contoh Naskah Drama Sangku Mriang 8 Orang Pemain Cowok Cewek

Contoh Naskah Drama Sangku Mriang 8 Orang Pemain Cowok Cewek - Melengkapi koleksi teks drama cerita rakyat sebelumnya kali ini kita akan menambah naskah lagi. Naskah drama kali ini khusus untuk delapan orang pemain. Ceritanya diangkat dari kisah cerita rakyat yang ada di nusantara atau lebih tepatnya dari cerita legenda.


Drama 8 orang tersebut diadaptasi dari cerita legenda Sangkuriang. Tapi jangan salah, meski 8 orang namun naskah ini bisa untuk drama 6 orang pemain juga kok. 

Jadi, bagi anda yang sudah pernah mendengar atau membaca cerita legenda tersebut pasti sudah tahu bagaimana kisahnya, benar tidak?

Kalau dilihat dari ceritanya sih cukup menarik namun begitu karena ini merupakan naskah untuk pementasan drama teater maka tidak akan sama percis dengan cerita legenda yang ada. Namun yang pasti inti ceritanya ya tidak berbeda. 

Drama yang satu ini lebih kental dengan nuansa humor dalam menyampaikan inti cerita yang sebenarnya serius dan berbobot. 

Bisa dilihat dari percakapan-percakapan yang ringan, segar, menyentil dan kadang sedikit usil dari para pemain. Seperti apa teks naskah tersebut, mari kita baca di bawah ini.

Teks Drama Sangku Mriang
Dari legenda Sangkuriang

Para pemain drama
1) Dayang Sumbing (Seorang ratu cantik jelita yang baik, cerewet dan usil)
2) Sangku Mriang (Pangeran yang cerdas, humoris, santai, dan sedikit pemarah)
3) Tumo (Anjing peliharaan)
4) Dewa Melasi (Utusan dewa dari langit)
5) Gejrot (Pengawal istana)
6) Ceprot (Pembantu istana) 
7) Pangeran Japrak (Putra mahkota kerajaan tetangga)
8) Aji Koploh (Pemimpin Mahluk gaib)

Di jaman yang tak dikenali, ada seorang ratu yang bernama Dayang Sumbing. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang suka berburu dengan nama Sangku Mriang. Anak tersebut sangat suka berburu, hampir setiap hari ia pergi ke hutan.

Dayang Sumbing: Eh…eh…eh, ini mau kemana lagi kamu Nak?
Sangku Mriang: Aduh, Ibunda lagi…. Udah deh, Ibunda jangan bawel and jangan usil lagi kenapa sih….

Dayang Sumbing: Aduh… aduh… putraku sekarang sudah besar ya, sudah pintar ya sekarang, sudah berani menjawab perkataan ibunya…

Sangku Mriang: Tu…kan, panjang deh jadinya ini… Ibuda kenapa sih selalu saja usil dengan urusan aku?

Dayang Sumbing: Eh, pie to kamu ini? Kamu itu kan putra mahkota, sudah besar, sudah berjenggot sebentar lagi menggantikan ibumu ini, sudah waktunya kamu belajar menata negeri. Pasti ini kamu mau berburu lagi, lagi berburu, berburu lagi, tiap hari kerjaan kamu cuma berburu terus toh….

Sangku Mriang: Ya habis mau ngapain Ibunda, mau ngapel enggak punya cewek… ya berburu aja!
Dayang Sumbing: Hust… jadi kamu sudah pengen…
Sangku Mriang: He…he…e… sudahlah Ibunda, aku mau berangkat…

Dayang Sumbing: Eladalah, nanti dulu ibu mu belum selesai bi…
Sangku Mriang: Nanti lagi ya bundaku cantik, bye…bye….
Dayang Sumbing: Eh, awas kamu kalau enggak balik lagi sekarang, ibunda kutuk kamu…
Sangku Mriang: Eits, ibunda ini jangan main-main ya…. Mau punya anak batu!
Dayang Sumbing: Ya enggak sih…
Sangku Mriang: Ya makanya jangan ngomong sembarangan!
Dayang Sumbing: Loh, kok jadi kamu yang marah….!
Sangku Mriang: He…he..he…

Dayang Sumbing: Hari ini kamu temani ibumu ini ke pasar, mau beli jengkol sama petai!
Sangku Mriang: Halah ibunda ini katrok, ratu kok ngajak anaknya beli jengkol sama petai, gak level deh…

Dayang Sumbing: Sudah jangan cerewet. Ini bukan buat ibu, tapi buat jamuan utusan raja sebelah…
Sangku Mriang: Halah, ibunda ngeles aja, ngaku aja hayo…
Dayang Sumbing: Sudah-sudah, jangen cengengesan terus…

Suatu hari, meski tidak direstui sang ibu, Sangku Mriang nekat pergi berburu. Ia pergi ke hutan untuk berburu di teman oleh Tumo, anjing kesayangannya dan satu pengawal istana bernama Gejrot.

Sangku Mriang: Jrot….. ssst… ssst… Jrot…. Woi Jrot…!
Gejrot: I…iya Pangeran, ada apa?
Sangku Mriang: Siapkan peralatan, kita berangkat berburu hari ini…!
Gejrot: Eh…tapi pangeran, bukankah Ratu tidak…
Sangku Mriang: Sudah, ibunda ratu biar aku yang urus! Kamu diam saja.
Gejrot: Tapi pangeran, nanti kualat loh pangeran kalau bantah gusti ratu?
Sangku Mriang: Halah….wes to manut, kamu mau tak kucilkan di kandang wedos, mau kamu!

Gejrot: I..i… ampun pangeran, tidak mau!
Sangku Mriang: Ya sudah, buruan kerjakan!
Gejrot: Baik pangeran…

Merekan pun pergi diam-diam dari pintu belakang untuk berburu. Sesampainya di hutan …

Tumo: Huk…huk…ghuk…
Gejrot: Ssst… diam kamu… kami sudah tahu…
Sangku Mriang: Kijang itu sangat gemuk, pasti dia akan aku tangkap…

Gejrot: Benar pangeran…. 
Sangku Mriang: Jrot, kamu ambil sisi lain, biar aku dan Tumo dari sini…
Gejrot: Baik pangeran… tapi… sepertinya kijang itu masih hamil pangeran, apa tidak kasihan…

Sangku Mriang: Sok tahu kamu…. Sudah sana…!
Tumo: Huk… huk….!
Gejrot: Iya baik-baiklah…
Sangku Mriang: Kamu siap-siap Tumo…

Tumo: (tetap duduk sambil memperhatikan tuannya)
Sangku Mriang: Aku akan memanahnya… Ah, meleset… kejar, lari Tumo kejar buruan kita…
Tumo: (tetap diam saja)
Sangku Mriang: Hei… buruan Tumo, kijang itu sudah lari, dia pasti tidak akan jauh…
Tumo: Uugh…. (tetap tidak beranjak)

Sangku Mriang: Tumo….! Bodoh kamu ya! Kenapa kamu tidak mau mengejar kijang tersebut! Dasar dungu kamu ini!

Tumo: Uuchg….. (beringsut mundur)
Gejrot: Ada apa pangeran, kenapa tidak dikejar?
Sangku Mriang: Ah….sial kamu Tumo! Kamu sudah berani membangkang perintahku sekarang!
Gejrot: Pangeran…. Sabar pangeran, jangan emosi, mari kita cari saja yang lain…

Sangku Mriang: Tidak, semua ini gara-gara anjing tak tahu diri ini! Dia sudah berani membangkang! Pergi kamu dari sini Tumo, jangan ikut aku lagi, aku membebastugaskan kamu dari semua kewajiban! Pergi!

Tumo: (berlari ketakutan menuju hutan)
Gejrot: Pangeran….. pangeran tidak seharusnya mengusir Tumo…
Sangku Mriang: Biar Jrot, biar dia mati disini kelaparan!

Gejrot: Tapi pangeran, bukankah ibu ratu berpesan agar Pangeran menjaga Tumo layaknya ayah pangeran sendiri…

Sangku Mriang: (Diam sambil pergi meninggalkan Gejrot)

Sangku Mriang tidak tahu bahwa Tumo sang anjing tersebut adalah jelmaan sang ayah yang telah meninggal. Sesampainya di istana ia kemudian di marah. Sang ratu menanyakan keberadaan Tumo sang anjing.

Dayang Sumbing: Dari mana saja kamu Nak, seharian ibunda cari!
Sangku Mriang: Diamlah bunda, aku nih lagi kesal!
Dayang Sumbing: Ditanya baik-baik kok malah bentak gitu, kamu ini anak opo to!
Sangku Mriang: Anak gak jelas, ya anak ibunda lah…!
Dayang Sumbing: Heh… dari mana kamu, dari mana kamu, hayo jawab, jawab…!
Sangku Mriang: Dari berburu…!
Gejrot: Iya Paduka, maafkan saya kanjeng ratu, pangeran dan saya baru saja pulang berburu…
Dayang Sumbing: Apa….apa kamu bilang… berburu, terus Tumo dimana, Tumo dimana…..!
Sangku Mriang: Aku buang, aku usir di hutan, dia sudah tidak nurut lagi sama majikan, dia membangkan ibunda…!

Gejrot: Iya gusti, maaf…maaf sekali…
Dayang Sumbing: Diam kamu Gejrot… kamu juga, kenapa kamu tidak bisa mencegah semua ini terjadi!

Gejrot: Maaf kanjeng ratu…
Dayang Sumbing: Maaf…maaf, tiada maaf bagimu! Kamu juga, bodoh…! (memukul kepala Sangku Mriang dengan gayung se-kerasnya)

Sangku Mriang: Au…! Ibunda…tega ibunda pada anak sendiri… (memegang kepalanya yang berdarah)

Gejrot: Ampun gusti ratu, ampun…sudah…sudah, semua ini hamba yang salah…
Sangku Mriang: Ibunda tidak sayang… aku ngambek, aku akan pergi dari istana ini!
Gejrot: Pangeran, tunggu pangeran….

Sang Ratu sangat marah mendengar cerita Sangku Mriang, tanpa sadar ia pun memukul kepala Sangku Mriang dengan gayung hingga berdarah. Meski Dayang Sumbing akhirnya menyesal namun sang putra sudah terlanjur pergi…

Dayang Sumbing: Maafkan ibunda anakku, ibunda benar-benar menyesal… Ya betara yang maha agung, berikanlah selalu kesehatan pada putraku itu dimanapun ia berada… 

Lima tahun kemudian…

Dayang Sumbing: Tanpa terasa, usiaku semakin bertambah, aku sudah semakin reot dan kempot, tapi bagaimana dengan anakku… (Dayang Sumbing berkomat-kamit)

Dewa Melasi: Tidak usah risau Sumbing…. Aku datang sebagai wujud pengabdian dan doamu selama ini…

Dayang Sumbing: Eh…eh… la kamu ini siapa tiba-tiba nongol begitu… tanpa ucap salam lagi…

Dewa Melasi: Ha…ha..ha… bisa saja kamu Sumbing, aku buru-buru… aku Dewa Melasi yang akan memberikan kamu hadiah…

Dayang Sumbing: Hadiah apa, aku tidak ingin hadiah, aku hanya ingin putraku sehat, dan kembali padaku…

Dewa Melasi: Terkabul….!

Dayang Sumbing: Terkabul apa…. Mana…mana… kamu ini loh sebagai Dewa kok bikin kesal saja…!

Dewa Melasi: Sudah…permintaanmu sudah dikabulkan oleh para dewa.. putramu dalam keadaan sehat tak kurang satu kutu apapun… sebentar lagi kamu pasti akan bertemu dengan dia… selain itu, sebagao bonus karena kamu sudah rajin bertapa dan berdoa, kamu aku beri hadiah kecantikan abadi, tidak bisa tua, supaya kamu bisa bertapa lebih rajin… hee.e…e…

Dayang Sumbing: Owalah…iki pie to… aku kan gak minta cantik n awet muda… pie to…
Dewa Melasi: Sudah… tidak bisa ditolak…apa kamu jadi piot keriput dan jelek kayak siput?
Dayang Sumbing: Ya enggak juga sih….
Dewa Melasi: Ya sudah, aku buru-buru… masih ada satu pertapa lagi yang harus aku temui…

Sang Dewa kemudian pergi meninggalkan Dayang Sumbing…Di hutan, Sangku Mriang pun bertapa untuk mendapatkan kesaktian agar dia menjadi lelaki perkasa. Setelah bertapa ia pun mendapatkan giliran bertemu Dewa Melasi.

PERCAKAPAN LUCU TAWAR MENAWAR, MINTA KESAKTIAN AKHIRNYA DI KASIH

Sangku Mriang:
Dewa Melasi: 
Sangku Mriang:
Dewa Melasi: 
Sangku Mriang:
Dewa Melasi: 

Sudah mendapat kesaktian yang mumpuni, Sangku Mriang pun kembali ke kampung halaman. Kerajaan sudah berubah total. Di sana ia bertemu seorang gadis jelita, yang tak lain adalah ibunya. Sangku Mriang jatuh cinta, ia pun melamarnya. Melihat pemuda yang sangat tampan, Dayang Sumbing tak mampu menolak dan menerima pinangan tersebut.

Di saat bersamaan, ada seorang putra raja dari kerajaan sebelah yang juga suka dan ingin melamar Dayang Sumbing. Sangku Mriang dan Pangeran tersebut pun memperebutkan Dayang Sumbing…

PERCAKAPAN KONYOL REBUTAN DAYANG SUMBING

Sangku Mriang:
Pangeran Japrak:
Sangku Mriang:
Pangeran Japrak:

Kalah sakti, Pangeran Japrak pun merelakan sang gadis pujaan untuk Sangku Mriang. Suatu ketika Sangku Mriang hendak berburu. Ia meminta calon istrinya merapikan ikat kepalanya. 

PERCAKAPAN MENEGANGKAN, DAYANG SUMBI AKAL-AKALAN UNTUK MEMBATALKAN LAMARAN ANAKNYA

Dayang Sumbing: Aku akan menikah denganmu dengan dua syarat. Pertama, aku meminta kamu membendung sungai Citarum. Dan kedua, aku minta kamu membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Sangku Mriang:
Dayang Sumbing:
Sangku Mriang:

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. 

Sangku Mriang:
Aji Koploh: 
Sangku Mriang:
Aji Koploh: 

Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota, contoh naskah drama 8 orang pemain cowok dan cewek.

Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."
Back To Top