Cerpen tentang Liburan Mimpiku Pergi ke Pantai Parang Tritis

Cerpen Liburan ke Pantai Parang Tritis - kali ini kita akan membaca sebuah cerpen singkat yaitu tentang liburan dan wisata. Ceritanya yaitu tentang sebuah perjalanan ke salah satu tempat wisata pantai.

Contoh Cerpen tentang Liburan ke Pantai Parang Tritis

Bisa dikatakan cerpen ini sangat sederhana. Isinya membahas berlibur di pantai Parang Tritis. Sudah pernah dengar nama pantai ini kan? Pasti sudah ya.

Pantai yang satu ini memang cukup dikenal. Sebagai negara kepulauan tentu pantai menjadi sesuatu yang akrab. Kira-kira ceritanya seperti apa ya, mari disimak langsung!

Mimpiku ke Parang Tritis
Cerita Pendek oleh Apw

Seminggu sudah aku hanya menatap indah Parang Tritis lewat sebuah komputer melalui akses internet nir-kabel.

Nampak indah untuk dilihat tanpa aku bisa membayangkan bagaimana bila aku bermain pasir, air, di sana.

Karena mungkin belum sekalipun aku bisa ke sana sehingga bayangan tentang seperti apa rasanya berlibur di sana belum ada. 

Tetapi bila di pandang dari sebuah foto yang aku dapat dari internet, Parang Tritis adalah pantai yang indah, pasirnya putih, dan lautnya bersih. Sungguh bahagia bila aku bisa menghabiskan waktuku di sana.

Gaya manja terus ku perlihatkan kepada orang tuaku, bahwa itulah sifatku ketika aku mempunyai sebuah keinginan. 

Aku ingin sekali orang tuaku mengerti bahwa Parang Tritislah tempat yang sangat ingin aku jumpai. Sehingga kalimat pujian, tutur kata santun terus ku lontarkan kepada ibu dan ayahku untuk meluluhkan hati mereka agar aku diberi izin dan diantarkannya ke sana.

Tetapi memang tidak mudah membujuk dan merayu ayah dan ibuku terlebih mereka sudah termakan dengan cerita kisah mengerikan yang tersimpan dalam pantai Parang Tritis. 

Konon di sana bersemayam seorang siluman berwujud wanita cantik, yang siap membawa siapa saja yang memakai baju hijau ke alamnya.

Tetapi aku tidak percaya dengan hal itu, karena tidak bisa diserap oleh akal logikaku. Tetapi kepercayaan yang kolot orang tuaku yang diajarkannya secara turun-temurun membuatku tidak diberikan ijin ke sana.

Langit termendung seolah dia tahu kesedihanku tidak diberikan ijin untuk kepergianku ke Parang Tritis. Tetapi dalam hati hanya bisa berkata tidak perlulah langit bersedih melihatku seperti ini. 

Toh kesedihan langit tidak ada artinya bagiku, tetap saja aku hanya bisa di dalam kamar tanpa bisa pergi ke Parang Tristis di masa liburan ini.

Mungkin liburan ini adalah liburan yang sangat jahat untukku, tidak seperti liburan kemarin keinginanku terpenuhi pada liburan kemarin.

Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, itulah benakku berbicara, sehingga Parang Tritis yang kuinginan harus bisa aku dapatkan. 

Sebuah cara tentu aku fikirkan keras dalam otaku yang hanya mempunyai ukuran beberapa senti saja. Aku belum tahu cara apa, benar atau salah, bagus atau baik, efektif ataupun tidak efektif cara yang akan ku temukan dalam otaku ini. 

Yah lampu berpijar terang dalam otakku, tanda aku mendapatkan sebuah ide untuk bisa sampai ke Parang Tritis.

Mungkin hanya pergi dengan secara diam-diam itulah cara untuk bisa sampai ke Parang Tritis. Kebetulan setahun yang lalu sampai dengan sekarang aku selalu rajin menyisihkan uang jajanku di perut ayam yang terbuat dari tanah liat itu. 

Mungkin aku bisa menghancurkan tubuh ayam itu untuk mendapatkan uangku untuk bekal perjalananku ke sana. Prak Prak – pukulan palu mengenai celengan ayam – wah ini uangnya banyak. 

Aku mengambil uangku dan menghitungnya. Terdapat jumlah keseluruhan uangku adalah 500 ribu. Ini sangat cukup untuk perjalanan dan makan ketika kepergianku ke Parang Tritis.

Mengingat Parang Tritis hanya bisa ditempuh dua setengah jam dari rumahku. Dekat sebenarnnya tetapi orang tuaku selalu enggan untuk mengantarkanku ke tempat tersebut. 

Maka dengan terpaksa aku harus pergi sendiri secara diam-diam karena aku begitu menginginkan untuk pergi ke parang tristis.

Terlebih benakku sudah berkata apa yang aku inginkan selalu aku dapatkan, mungkin inilah cara menjawab kicauan benak yang selalu datang ketika keinginan hati hampir tidak terpenuhi.

Aku berdiri di samping jalan nan ramai, masih pagi tetapi cuaca sudah mendung, aku tidak tahu mendungnya langit karena tersedih melihatku atau justru ada karena secara alami. 

Kalau mendungnya langit karena tersedih tentu kurang masuk akal, seharusnya langit saat ini bergembira melihatku hendak pergi ke Parang Tritis.

Tetapi kenyataannya langit masih termenung mendung tanpa ada keceriaan di wajah hingga bosan ku melihatnya.

Ya biarlah saja langit termenung memperlihatkan murung wajah yang sangat tidak enak untuk dipandang, jangankan memberikan senyum kepadaku melihatku saja sudah enggan.

Sekali saja terserah kau langit, aku tidak peduli, aku hanya ingin pergi ke Parang Tritis saat ini. Makiku dalam hati melihat langit dengan muka jeleknya seolah tidak suka dengan kepergianku.

Langit menangis, ribuan air tertumpah turun ke bumi, debu sarang penyakit beterbangan, sementara aku berlari ke sebuah kios untuk berteduh.

Memang sulit sekali menenangkan langit yang tersedih, bagai anak kecil yang kehilangan dotnya, bahkan ku rasakan lebih sulit dari itu. 

Anak kecil bisa tenang hanya bila diberi dot, tetapi langit, bagaimana langit bisa tenang dan harus diberi apa biar langit bisa tenang. 

Itulah pertanyaan bodoh yang membuatku merasa larut dalam rasa bersalah, seolah-olah akulah penyebab kesedihan langit yang mengakibatkan ribuan bahkan jutaan liter air tertumpah ke bumi.

Kesedihan langit tambah menjadi-jadi dia berteriak-teriak lebih keras dari pada bayi, suaranya menggelegar dan menghasilkan aliran listri yang cukup besar.

Tentu tubuhku akan gosong bila terkena guntur yang menyambar-nyambar tanpa melihat-lihat itu. 

Langit sungguh keparat dia berusaha mencegah kepergianku untuk ke Parang Tritis. Ya gara-gara sikap kekanak-kanakannya aku hanya bisa berwisata di kios buntut dengan cat pudar di bagian temboknya, tidak bisa ku melihat pantai dengan pasir putih bersih dan air laut yang jernih.

Hancur semua rencanaku karena hujan ini telah menghentikan aktivitas kota, dari transportasi hingga ekonomi.

Saat ini aku hanya bisa dikepung oleh para bala tentara pasukan air dari langit, sedang di sana ada angin kencang yang mengendalikan air turun ke bumi. 

Yang lebih mengerikan lagi senjata maha canggih listrik dengan kapasitas daya yang sangat tinggi yang bisa merenggut nyawaku bila terkena tubuhku.

Aku bagai pecundang yang sudah tidak punya kekuatan apa-apapun, tidak punya pasukan, tidak punya senjata, tetapi menolak untuk menyerah dan bersembunyi di kios buntut.

Sementara di sana musuhku langit terus melancarkan guntur-gunturnya yang mematikan itu. Suaraku yang lantang memaki sang langit tidak ada lagi, diganti dengan suara ketakutan melihat guntur yang mampu membungkam nyaliku.

Sudah menyesal itu pasti karena ku sudah mengejek muka langit yang jelek hingga langit berubah menjadi liar dan tak terkendali.

Biarlah mimpiku ke Parang Tritis hanya sekedar mimpi, karena aku tidak berdaya melawan langit dengan ribuan bala tentaranya.

Yang mungkin ini adalah pertarungan yang sangat tidak sebanding bila memang dinilai oleh wasit itupun bila ada wasitnya. 

Tetapi ini adalah pertarungan liar tanpa wasit dan tanpa peraturan, yang kuat boleh sesuka menindas yang lemah, seperti kaum kapitalis menindas para kaum proletar, tangis tidak berdaya proletar tidak sedikitpun merubah pikiran kapitalis untuk terus menindas. (Arif Purwanto)

---oOo---

Kalau setiap hari ada satu cerita cerpen liburan seperti ini seru juga ya? Kan kita bisa sekaligus belajar dan mendapatkan referensi tambahan mengenai tempat-tempat bagus untuk dikunjungi.

Kita mendapatkan referensi tempat wisata yang suatu saat bisa didatangi. Oh iya, selain cerpen di atas masih ada lagi yang lain kok.

Kalau masih ingin membaca cerita lagi silahkan ambil dan pilih beberapa cerita lain yang sudah disiapkan. Ada beberapa judul pilihan yang sudah disiapkan dibagian bawah. 

Contoh Cerita Liburan ke Pantai dalam Bahasa Inggris [Cerpen Singkat]

Contoh cerita liburan ke pantai, semoga saja tidak bosan. Hari ini kita akan belajar lagi dengan sebuah cerita liburan yang diambil dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan. Yang dipilih kali ini adalah cerita tema liburan ke pantai tetapi akan ditulis menggunakan bahasa Inggris.

Contoh Cerita Liburan ke Pantai dalam Bahasa Inggris

Belajar bahasa Inggris memang menyenangkan. Kita dapat menggunakan banyak media belajar dari mulai video sampai dengan teks cerita yang menarik. Banyaknya pilihan ini seharusnya bisa membuat kita lebih semangat dan lebih giat dalam belajar. 

Kalau dilakukan dengan cara teratur, belajar sedikit-sedikit dengan cerita menarik tentu akan cepat membuat kemampuan kita meningkat.

Apalagi didukung dengan kisah yang tidak membosankan seperti yang akan kita baca berikut. Berlibur tentu merupakan salah satu hal banyak disukai oleh kita semua.

Liburan akan memberikan banyak kesenangan, apalagi jika kita berlibur ke tempat yang memang diinginkan. Salah satunya adalah liburan ke pantai. 

Siapa coba yang tidak senang dengan pantai yang indah, benar tidak? Angin yang semilir, debur ombak yang berkejaran, apalagi didukung dengan suasana yang tidak terlalu padat, pasti sangat menyegarkan. 

Kira-kira, apakah cerita berikut ini akan menggambarkan keindahan pantai, atau malah menceritakan sebuah kejadian menarik?

Ah, jadi tambah penasaran dengan alur kisah ini. Ya sudah, agar waktu kita tidak terbuang percuma mari kita langsung nikmati kisah menarik tersebut bersama-sama. 

An Isolated Beach I Like
Story by Irma

It was early morning; my families were ready to take a fresh air in the beach near grandmo’s house. We would visit our grandmother to spend our holiday. We would stay for about tree days. It was a big day, especially for me.

I love being there because my grand mother live in small village. The village is so beautiful. The air is very fresh. Every body likes it.

After for about five hour, we arrived there. My grand mother and also my grand father were surprised knowing we are coming. They were very happy. 

It was funny seeing them very busy to prepare many foods. “Mom, we are here not to eat but to meet you. We miss you so much.”

My mother, my sister and my grand mother spend the rest of the day preparing a small dinner party. And I, ofcourse I was not. My grand father, my father and I take awalk around the village. We spend our time enjoying the view. 

The next day was the great day. We all went to the beach, a small and isolated beach near the house. We were surprised when we arrived there. 

The situation was so different. Last time I remember there were many trees but now the area was cleaner and tidy. 

It was the most beautiful beach I ever visit. What I love most is there was no crowded. We can spend the whole day freely without any disturbing people. It was monderful. I easily went here and there playing sand. 

Swimming, of course, I also spend some hours to swim. Not only the situation, there was also still many coconut tree around the beach. 

On the other part, there was also some spot which full of rock. I loved it; I loved spending my time in an isolated beach like that.

The End

Singkat, hanya 313 kata saja, jadi tidak akan membosankan untuk dibaca. Meski sangat sederhana tetapi cerita di atas bisa menjadi bahan bacaan yang sangat bermanfaat bagi proses belajar kita.

Yang suka bahasa Inggris, tentu akan sangat terbantu dengan adanya cerita menarik tersebut. Ada tidak yang kesulitan dalam memahami cerita tersebut? Tidak ada yang kesulitan bukan?

Ya, karena ini akan digunakan sebagai bahan belajar sekaligus maka akan kita siapkan juga daftar kata sulit yang ada dalam teks tersebut. 

Tujuan dibuatnya daftar kata tersebut adalah untuk membantu rekan semua dalam memahami teks bahan bacaan tersebut.

Selain itu, kosa kata tersebut nantinya bisa juga untuk digunakan sebagai bahan dalam menambah kosa kata atau vocabularies untuk dihafal. 

Semakin banyak kosa kata maka akan semakin lancar berbicara, benar kan? Makanya, sekarang mari kita lihat juga daftar kata di bawah ini. Mudah-mudahan semua katanya sudah dipahami semua ya, jadi hanya perlu dibaca sekilas saja.

Early morning = pagi sekali
Ready = siap
Fresh = sgar
Beach = pantai
Near = dekat
Visit = mengunjungi
Spend = menghabiskan
Holiday = liburan
Three = tiga
Especially = khususnya
Love = suka, cinta
Small = kecil
Village = desa
Beautiful = indah
Very = sangat
Arrived = sampai
Surprised = terkejut
Happy = bahagia
Funny = lucu
Prepare = menyiapkan
Small = kecil
Party = pesta
Around = sekitar
View = pemandangan
Next day = hari berikutnya
Isolated = terisolasi
Different = berbeda
Cleaner = lebih bersih
Crowded = ramai
Disturbing = mengganggu
Sand = pasir
Swimming = berenang
Coconut tree = pohon kelapa
Rock = batu

Dari kisaran 313 kata, ada 34 kata sulit yang masuk dalam daftar di atas. Sudah cukup banyak dan membantu kan? Dari daftar di atas rekan semua bisa menambah vocabulary untuk dihafalkan.

Menggunakan daftar tersebut rekan semua juga bisa lebih mudah dalam memahami alur ceritanya. Nah, sekarang mari kita bahas sedikit mengenai isi cerita cerpen tersebut.

Diceritakan, ada seorang anak kecil yang menghabiskan liburan bersama keluarganya. Ceritanya, mereka liburan di rumah kakek dan neneknya.

Bukan hanya untuk mengunjungi kakek dan nenek, tetapi di rumah kakek dan nenek mereka juga bisa sekaligus berwisata. 

Kebetulan atau bukan kebetulan, kakek dan nenek mereka tinggal di sebuah desa kecil di dekat pantai. Kelihatannya mereka memang berasal dari keluarga nelayan, mungkin.

Mempunyai kakek dan nenek yang tinggal di desa rupanya menyenangkan bagi anak tersebut. Buktinya ia sangat menikmati liburan itu.

Pagi-pagi mereka berangkat dari rumah. Mereka sampai di desa sekitar tengah hari. Sampai disana mereka langsung disambut dengan suka cita oleh kakek dan neneknya. Setelah istirahat mereka kemudian menikmati kebersamaan. 

Sang ibu dan kakak menghabiskan sore hari dengan sang nenek untuk menyiapkan pesta makan malam kecil-kecilan sementara ia, ayah dan kakeknya jalan-jalan. Mereka keliling – keliling menikmati udara segar di kampung tersebut.

Esok harinya, mereka sekeluarga besar pergi ke pantai bersama-sama. Pantai yang dulu pernah dikunjungi rupanya sudah sedikit berubah.

Suasana disana sudah lebih rapi dan lebih tertata. Meski begitu, disana masih asri, masih banyak pohon nyiur melambai, suasana pantainya juga tidak ramai. 

Di pantai, mereka bermain pasir sampai puas. Mereka juga berenang dan menghabiskan waktu bersama dengan ceria. 

Sungguh suatu kebersamaan yang mengagumkan bukan? Begitulah cerita dalam teks tersebut. Rekan – rekan yang mencari contoh cerita liburan dalam bahasa Inggris bisa menikmati kisah singkat tersebut. 

Jika kurang berkenan dengan kisah di atas, rekan juga bisa melihat dan memilih beberapa kisah lain yang sudah disediakan dibagian bawah. Sudah ada beberapa cerita lain yang kita siapkan untuk rekan semua. Mudah-mudahan berkenan.

Cerpen, Jodohku Datang di Masa Liburan

Cerpen tentang Jodoh - Suasana yang cerah, ini kali pertamaku datang di desa yang masih mempunyai pemandangan yang begitu asri. Tetapi sebenarnya bukanlah desa tujuanku, tetapi destinasi yang ada di desa ini yang menjadi tujuan utama.

Cerpen, Jodohku Datang di Masa Liburan
Contoh Cerpen tentang Jodoh

Tetapi pemandangan desa yang masih asri juga menjadi daya tarik tersendiri bagiku ketika bermukim di penginapan sederhana yang terletak satu kilo dari destinasi wisata alam yang akan ku datangi.

Ini adalah desa Kelinci, yang merupakan dataran tinggi berhiaskan tanaman hijau yang tertata rapih, serta sungai jernih yang mengalir tanpa saling mendahului.

Musim libur seperti inilah banyak para wisatawan lokal maupun manca negara yang datang untuk berlibur dan berwisata di sini.

Di sinilah ada salah satu destinasi air terjun yang sangat indah, yang menjadi tujuan utama para wisatawan ketika berlibur di desa Kelinci ini. 

Air terjun tersebut adalah air terjun sumo ilang. Meski masyarakat setempat selalu mengkaitkan tempat tersebut dengan hal mistis, tetapi cerita mistis tersebut tidak mengurangi jumlah wisatawan yang datang.

Dan hari ini aku akan mendatangi air terjun Sumo Ilang tersebut sendirian, karena memang aku berangkat dari kota sendiri tanpa teman. 

Karena semua temanku rata-rata pulang ke kampung halamannya masing-masing, sedangkan aku yang kerja dan bersekolah di kota memilih untuk berlibur ketika hari libur datang.

Di desa Kelincilah aku menghabiskan waktu liburanku, hingga nanti akhirnya waktu libur usai. Aku yang sudah dalam keadaan segar, dan wewangian yang sedikit melekat di pakaianku, serta pakaian santai untuk berjalan-jalan, siap untuk pergi ke air terjun sumo ilang.

Aku menggunakan motor yang aku sewa dari penginapan, karena memang medan tidak memungkinkan bila harus menggunakan mobil.

Medan hanya bisa dicapai dengan menggunakan motor ataupun sepeda. Karena hanya ada motor di sini maka yang kupergunakan adalah motor.

Motor Rx- King mulai ku pacu melintasi jalan sempit pedesaan yang naik dan turun. Sementara di tengah jalan aku bertemu dengan seorang gadis yang nampak berjalan sendirian.

Sekilas dari belakang dia adalah gadis yang cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam bergelombang dan tidak terlalu panjang serta tinggi.

Aku segera memelankan laju motorku dan berjalan mengiringinya di sampingnya sambil bertanya "Hey mau kemana" – Tanyaku sambil melihatnya ternyata memang dia gadis yang cantik.

Dia melihatku sambil tersenyum,"Aku mau ke air terjun, boleh aku menumpang.?" – Ungkapnya mempelihatkan gigi kelincinya.

"Tentu saja, aku juga hendak pergi ke air terjun" – Berhenti dan mempersilahkan gadis cantik tersebut menumpang motorku.

"Oh iya..?" – Ungkapnya berjalan melewati belakang motorku dan duduk di belakangku.

"Iya, sepertinya kau bukan orang sini..?" – tanyaku sambil mulai berjalan dengan suara cukup keras dari kenalpot motor dua tak ini.

"Ya kau benar, aku dari kota dan sedang berlibur di sini" – berbisik pelan di samping belakang kupingku.

"Kau sendirian..?, mana temanmu, keluargamu..?" – Tanyaku lagi sambil mengurangi kecepatan melintasi turunan.

"Aku tidak bersama mereka, karena memang aku ke sini ingin menghabiskan liburanku sendiri" Jawabnya sambil memegang punggungku menahan posisi ketika di turunan.

"Kau asli orang sini..?" – Tanyannya penasaran dengan wajah tersenyum.

"Bukan, aku juga dari kota, akupun sendiri ke sini, karena memang tidak ada teman" – Jawabku sederhana.

"Oh ya, kau tidak membawa kekasimu..?" – Tanyanya dengan nada genit.
"Tidak, aku tidak mempunyai seorang kekasih" – Jawabku tanpa ekspresi tersenyum maupun sedih.

"Kita belum berkenalan, siapa namamu..?" – Tanyannya membisik di samping belakang kupingku.
"Namaku Rehan, namamu siapa..?" – Tanyaku kepada gadis cantik yang berada di belakangku.

"Aku Sarah" Jawabnya dengan suara sangat lembut dan meleleh di dalam hatiku.

Tak kalam kemudian aku sampai di tempat tujuan dan ku mulai turun dari kendaraanku, berjalan menuruni bukit untuk bisa sampai ke air terjun.

"Wah Rehan kau dengar itu suara air terjun" – Ungkapnya mendengar air terjun begitu bahagia.
"Ya kau benar, kita hanya tinggal melewati turunan ini untuk bisa sampai ke air terjun" – Ungkapku.

Kami sampai di sungai yang mengalir tidak terlalu deras karena terhalang oleh bebatuan yang tersusun rapih yang biasa digunakan sebagai jembatan untuk mencapai air terjun. 

Sementara itu ku lihat di sebelah kanan air terjun yang sangat deras nan indah. Tidak banyak orang di sini aku hanya melihat 4 orang laki-laku dan dua prempuan yang nampak sekilas berumur dua puluh tahunan.

Aku dan sarah langsung berjalan melewati bebatuan untuk bisa berenang di bawah air terjun tepat. Kami saling bergandengan karena Sarah nampak ketakutan ketika melintasi bebatuan yang tidak rata tersebut.

Aku begitu betah berlama-lama menggenggam tangannya, tangannya begitu halus, lembut, hingga menimbulkan ketertarikan, cinta dalam fikiranku. 

Ya mungkin ini kali pertamaku bertemu dengannya tetapi hati ini sudah ada ketertarikan kepadanya, mungkin karena dia adalah orang yang mengasyikan, dan cantik.

Setelah sampai tepat di bawah air terjun, Sarah langsung berenang di bawah air terjun. Sementara aku juga mengikutinya berenang tepat di bawah air terjun. 

Kepala kami di hujani air yang tidak seberapa banyak ini, tetapi cukup panas ketika mengenai kepala. Kami menjaga jarak dari turunnya air terjun dan lebih memilih untuk berenang di sekitar air terjun.

"Airnya segar banged" – Ungkap Sarah nampak begitu bahagia menikmati dinginnya dan segarnya air terjun.

"Kau benar kita tidak akan menemui air sejernih dan menyegarkan ini di kota, mari menyelam" – teriaku dan menenggelamkan diri sementara Sarah juga menenggelamkan diri.

Kami menyelam, dan ku buka mataku di dalam air yang buram, nampak dia menahan nafas dan berterbangan gelembung dari nafasnya yang bocor. Hingga tak lama kemudian kepalanya keluar dari air.

"Hah hah" ungkapnya sedikit sesak karena terlalu lama menahan nafas.

Kami begitu puas menikmati air yang jernih lagi dingin ini dengan bercanda tawa dan berenang bersama.

Hingga badan kami kemudian lelah, dan sudah terlalu dingin kami menyudahi menikmati air jernih dengan air terjun yang indah ini.

Kami kembali ke parkiran dan kemudian beranjak untuk pulang. Aku mengantarkan sarah ke penginapannya tanpa mampir, karena sadar tubuh ini semakin dingin dan membutuhkan pakaian hangat. 

Tetapi setidaknya adanya sarah di sini menambah kebahagiaanku menjalani liburan kali ini. Hati ini sedikit yakin bahwa dialah memang jodohku, aku akan memperjuangkannya, namun sebelum itu tentu kita butuh pendekatan.

Tuhan aku hanya bisa berharap bahwa aku hanya ingin dipersatukan dengan gadis yang sudah ku anggap sebagai jodohku. Restuilah langkahku untuk mendapatkan hatinya, karena hati ini begitu yakin dialah jodohku. (Arif Purwanto)

---oOo---

Contoh Cerpen 600 Kata tentang Mendaki Gunung

Contoh cerpen 600 kata berikut ini tentang kegiatan wisata alam yaitu mendaki gunung. Bagi yang hobi dengan kegiatan mendaki gunung tentu akan sangat menarik meski bagi sebagian orang mungkin bisa saja. 

Cerpen 600 Kata tentang Mendaki Gunung

Yang pasti, kisah seperti ini mungkin akan memberikan pengalaman tersendiri bagi yang belum pernah melakukan pendakian gunung. 

Siapa tahu saja karangan cerpen pribadi berikut ini bisa memberikan inspirasi bagi pembaca semua. Seperti karya-karya lainnya, cerpen ini nantinya juga akan diberi terjemahan atau artinya sekaligus. 

Tujuannya agar karya ini sekaligus bisa menjadi bahan belajar pelajaran Bahasa Inggris bagi rekan-rekan pelajar. Sekarang, kenapa tidak membaca cerita selengkapnya lebih dulu, benar tidak?

Amatir Di Mahkota Tanggamus
Cerpen 600 Kata

Entah aku belum bisa merasakan bagaimana bermalam di pegunungan. Dengan kabut embun yang tebal di pagi hari. Sinar mentari yang menawan. Juga mampu membelah kabut pekat nan dingin itu. 

Aku hanya bisa membayangkan kebahagiaan berada di ketinggian 2000. Di atas permukaan laut (dpl). Aku juga hanya bisa membayangkan. 

Kebahagiaanlah yang akan kami rasakan dalam pendakian gunung tanggamus. Berepatan dengan hari ulang tahun Indonesia yang ke-71.

Bahkan begitu bahagianya. Tidak sabar ingin cepat mendaki gunung yang terkenal dengan medan terjalnya itu. 

Aku rela datang lebih awal. Mempersiapkan kebutuhan pendakian pada malam hari. Aku menyempatkan diri mencari peralatan pendakian. 

Tutup kepala, sarung tangan, spirtus (untuk digunakan keperluan pengapian). Dan beberapa makanan ringan.

Aku membelinya di pasar tradisional Pringsewu, Lampung, semua kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan guna pendakian. 

Usai berbelanja kebutuhan perlengkapan dalam pendakian, kami akhirnya kembali ke masjid Al-furkon untuk meletakan segala perlengkapan yang telah kami beli.

Di siang hari yang begitu terik dimana masih ada sekitar 3 jam hingga tiba waktu keberangkatan pendakian. Aku singgah di tempat kawanku Andre. 

Sembari bersantai dan memejamkan mataku untuk bekal tenaga nanti malam. Sementara kawanku yang lain, Belandra, pulang. 

Mungkin dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang aku dan Andre lakukan, yaitu beristirahat sampai datang waktu malam.

Malam sudah diperlihatkan oleh tuhan, sementara aku dan beberapa kawanku sudah datang ke masjid Al-furkon. 

Di sana ada kawanku Andre, mas Hanif, dan Belandra, kami sedang menunggu 3 kawan yang belum hadir yaitu pak Habibie dan satu santrinya, serta Rahmad.

Sepuluh menit berselang Rahmad datang dengan raut muka penuh dengan semangat. Dia mengendarai sepeda motornya sambil menenteng alas tikar. 

Aalas yang terbuat dari pelastik yang dirangkai sedemikian rupa. Memarkirkan motornya di depan halaman masjid Al-Furkon.

Aku: Apakah kau sudah membaca pengumuman di BBM, beberapa hari yang lalu, (Tanyaku dengan sedikit nada tinggi dan suara berat).

Rahmad: Ya, aku membacannya, dan bahkan aku bisa menjelaskannya kepadamu bila kau mau (Dengan gaya cool, turun dari motor sambil membawa tikar dengan tangan kanannya).

Aku: Coba kau jelaskan.

Rahmad: Isi dari pemberitahuan itu adalah pengadaan pendakian gunung Tanggamus, yang menjadi program kerja Ikatan Mahasiswa Muhamadiya (IMM), yang diadakan malam ini.

Aku: Mengapa yang kau bawa tikar yang sudah lapuk, serta tidak mempunyai penampilan menarik lagi, seharusnya yang kau bawa adalah matras.

Andre, dan Belandra: Kau nampak hendak pergi ke ronda malam, hanya saja ada yang kurang sebua sarung dan topi monyet di kepala Hahaha.

Rahmad: Teruslah tertawa, aku yakin tikar berpenampilan tidak menarik ini mempunyai fungsi besar bila kita sudah di puncak Tanggamus nanti.

Aku: Ya terserah kau sajalah, asalkan kau mau membawanya, itu tidak menjadi masalah untuk kami.

Rahmad: Tentu, aku akan membawanya dipendakian nanti hingga sampai puncak.

Tak lama kemudian bapak Habibie dan satu santrinya datang, di masuk ke dalam masjid dan memberikan sedikit arahan. 

Usai mendengar sedikit banyaknya masukan kami berangkat menuju pendakian yang kurang lebih membutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.

Hujan tidak menjadi pemadam semangat untuk menaklukan gunung yang terkenal dengan medan terjal tersebut. 

Kami terus melaju dengan hujan yang rintik, dengan kecepatan diatas 100 km/jam.

Sesampainya kami di lokasi Tanggamus, kami menitipkan motor kami ke parkir umum yang disediakan oleh masyarakat dan pemeritah setempat. 

Setelah itu kami memulai dengan doa serta bermunajat dalam hati meminta keselamatan, dan juga kelancaran dalam pendakian.

Belndra: Ini pengalaman pertamaku, apakah kau pernah mendaki gunung Tanggamus ini pak (Tanyannya kepada pak Habibie).

Pak Habibie: Dahulu aku pernah ke sini, tetapi hanya bermukim di kaki gunung tidak sampai puncak, mungkin ini saatnya aku sampai ke puncak dengan kalian.

Jalan mulai sedikit menanjak, hingga sedikit menyita tenaga kami, tetapi kami tetap berjalan dengan sekuat tenaga yang kami miliki. 

Sementara ku lihat Rahmad nampak begitu kelelahan, dan berulang kali berhenti.

Rahmad: (Hah, Hah, Hah, hembusan nafas yang tiada kontrol dari hidung dan mulutnya, sembari berhenti sejenak dengan posisi ruku, serta dengan pandangan ke bawah)

Andre: Ayolah, ini baru mendaki kaki gunung, belum mendaki puncak gunung, janganlah kau bercanda seperti ini.

Rahmad: Aku benar-benar lelah, rasanya aku ingin berbaring di sini. Mukanya terbasuh keringat, serta matanya sayup karena kelelahan.

Belandra: Jangan bodoh, kau akan jatuh ke bawah bila kau nekad berbaring di medan terjal ini.

Kami mulai berjalan, setelah berhasil menyakinkan Rahmad bahwa tempat peristirahatan bukanlah di medan terjal tersebut, tetapi di kaki gunung. 

Dengan sedikit tertawa sekaligus kasihan dalam hati aku melihat Rahmad yang tidak sanggup untuk mengatur nafasnya, hingga nampak betul suara keras nafasnya yang berujung membuat lemas tubuhnya.

Sementara aku, Andre, Belandra, pak Habibie, dan santrinya, terus berjalan tanpa halangan apapun melewati perkebunan kol milik warga. 

Kami tidak bisa melihat jelas sayuran yang di tanam warga di kaki gunung ini karena malam yang gelap.

Hanya saja kami dapat melihat kol dan beberapa kol yang ditanam dekat jalan. Sementara malam terus bejalan hingga sampailah kami di tempat perkemahan di kaki gunung Tanggamus.

Nampak sekali muda-mudi yang juga berjalan bersama kami. 

Serta muda-mudi yang sudah membuat tenda dan api unggun sambil menikmati seduhan kopi panas serta teriakan alunan suara menyanyi bersama diiringi dengan gitar bolong.

Kami berjalan tepat di depan para muda-mudi yang sedang bernyanyi, terbesit dalam hatiku berkata," Gaya memetiknya luar biasa. 

Terlebih ketika memainkan sebuah lagu, dia keluarkan semua tehnik-tehnik yang mempunyai tingkat kesulitan yang sangat rumit, karena memang pemuda tersebut menggunakan sekil dewa".

Sementara itu aku hanyut dalam alunan suara musik, yang diikuti oleh para muda-mudi yang berada di sampingnya. 

Bibir ini seolah secara otomatis melafalkan lirik yang sangat tidak asing di telingaku.

Namun kami harus melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat yang cocok untuk kami dirikan tenda. 

Tempat itu haruslah mempunyai ukuran yang cukup luas dan permukaannya rata. Pak Habibie mengajak kami berjalan menerabas rerumputan liar yang begitu tinggi. 

Tidak ada yang kami cemaskan selain ular lapar yang mungkin saja tidak sengaja kami injak.

Pak Habibie: Saya kira ini tempat yang bagus, selain permukaannya rata, tempat ini juga memberikan keleluasaan kepada kita untuk melihat sunrice di pagi hari. 

Tetapi mohon kerjasamanya ya untuk menghilangkan rumput liar, agar lebih mudah untuk didirikan tenda.

Andre: Tenang pak, ini bagian saya, aku tau cara membersihkan rumput liar dengan baik.

Sementara aku, Belandra, Rahmad, Santri, serta pak Habibie mendirikan tenda setelah rumput liar itu bersih. 

Seperti apakah kelanjutan kisah pendakian menuju mahkota Tanggamus, Lampung, yang terkenal dengan medan terjalnya. 

Apa rintangan dan halangan yang menghadang mereka selanjutnya dalam proses perjalanan menuju mahkota Tanggamus. (Apw)

Rindu Tertinggal di Kota Gudeg

Karangan cerpen tentang Yogyakarta berikut ini hanya imajinatif atau fiksi. Maaf sebelumnya jika mungkin karangan tersebut tidak begitu pantas untuk dibagikan sebagai sebuah karya cerpen. Judulnya "Rindu Tertinggal di Kota Gudeg". 

cerpen tentang yogyakarta

Penulis hanya berharap cerita rindu tertinggal di kota gudeg yang diangkat bisa menjadi sedikit hiburan bagi rekan pengguna internet yang mungkin kangen Jogja. 

Inti ceritanya, cerita pendek berikut ini berisi pengalaman liburan dua orang remaja yang sahabatan dan mendapatkan cerita yang menarik di akhir liburan. 

Kalau berkaitan dengan remaja bisa ditebak mungkin, tak jauh-jauh dari asmara. Tapi bagus kok. Belum lagi, rencananya cerita pendek berikut akan dimuat langsung dalam dua bahasa. 

Pertama menggunakan bahasa asli yaitu bahasa Indonesia dan rencananya akan disertakan juga terjemahan bahasa Inggris. Supaya tidak terlalu lama, silahkan bagi yang ingin membaca versi cerpen asli berikut.

Rindu Tertinggal di Kota Gudeg
Cerpen tentang Yogyakarta

“Plak… plak… plak….”, sepatu hak tinggi Deo berdetak, beradu dengan pelataran paping di halaman kampus. Berjalan pelan ia menuju ke taman depan sambil menenteng beberapa buku. 

Di bahu kirinya tergantung tas kulit modis yang serasi dengan busana kasual yang ia kenakan. Tangan kanan-nya menggenggam. Berayun ke depan dan kebelakang bergantian.

Ia kemudian merebahkan tubuhnya di salah satu kursi taman yang terbuat dari bambu. Masih dengan tas tersangkut di pundak. Ia meletakkan beberapa buku yang ia pegang. 

Meraih salah satu buku kecil berwarna pink. Tangannya terampil membuka halaman tengah buku tersebut yang sebagian dilipat.

Sejenak, matanya mulai mondar-mandir dari kiri ke kanan mengikuti deret tulisan yang ada di buku kecil tersebut. 

Deo begitu konsentrasi menikmati setiap ukiran-ukiran yang ada di kertas tersebut. Tak sedikit pun matanya berpaling ke arah lain meski banyak orang melintas bahkan menepuk pundaknya. 

Sesekali ia hanya melambai pada rekan lain yang menyapa dia.
“Deo….! Sudah lama?”
“Lumanyun….”

“Lumayan kale… jadi lebai deh sekarang karena sering baca roman…”
“Ah, sensi loe….”

“Udah ah, yuk ke kantin. Laper nih…!”
“Duduk dulu napa. Gue yang dari tadi nungguin loe aja enggak sewot, santai…”
“Uh… sudah, sudah yuk…”

Shally segera merebut buku yang dipegang Deo dan segera berlari kecil meninggalkannya menuju kantin. 

Dengan sedikit sebal Deo terpaksa beranjak, mengejar pelan. Sesampainya di kantin, Shally segera memesan dua gelas jus buah.

“Eo, mau bakso enggak kamu?” “Kamu aja lah, lagi males…”. Sembari menunggu pesanan, Deo kembali melanjutkan buku kecil yang ia baca sebelumnya.

“Eh, Shall, liburan ini enak-nya kemana ya. Bosan di sini-sini aja…”
“Ikut gue aja, tenang. Kita liburan ke Jogja aja…”
“Gila loe. Jauh amat jeng…”
“Sekali-kali Eo… kita kan udah lama tidak menikmati liburan yang sebenarnya”
“Jadilah, aku ikut. Tapi bayarin ya!”
“Uh dasar kamu ini…”

Satu minggu berselang. Deo dan Shally pun berangkat ke Jogja. Mereka berniat menghabiskan libur semester untuk beberapa hari di kota gudeg Yogyakarta. 

Tujuan pertama, Shally mengajak Deo berkunjung ke tempat kakaknya yang ada di Yogyakarta. Hari pertama mereka habiskan untuk menikmati suasana hangat dari keluarga kakak Shally.

Hari berikutnya, Shally jalan-jalan ke berbagai tempat menarik yang jarang dikunjungi Deo. 

Sampai suatu sore, setelah menghabiskan waktu santai di Malioboro Jogja, pulangnya tak sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria yang berjalan sendiri.

Lucunya, pria itu langsung bertingkah sangat aneh, salah tingkah. Meminta maaf dan menyebutkan namanya mengajak kenalan.

“Sekali lagi maaf ya. Aku Dorant…”, ucap pria tinggi semampai itu. “Deo…” jawab Deo singkat sedikit canggung. Pria itu kemudian menolah kea rah Shally. 

“Shally…” ucap Shally sembari mengulurkan tangan. Sekali lagi, pria itu menyebutkan namanya.

Kebetulan satu arah, mereka kemudian menyusuri jalan dengan santai bertiga. Tak terasa, jauh, jauh, jauh, ternyata pria itu pun searah dengan rumah kakak Shally. 

Akhirnya mereka pun jalan bersama sambil terus berbincang kecil.

Ketika hendak berpisah, pria yang bernama Dorant tersebut memberanikan diri meminta pin bb. Pertemuan itu pun berlalu begitu saja.

***

“Santai, habis-habisin aja. Besok kita keliling Jogja lagi ya…”, ucap Shally. “Siapa takut…” jawab Deo sembari berlagak seolah mau berantem. 

Di hari berikutnya, Deo dan Shally kembali tak sengaja bertemu dengan Dorant. Sebuah kebetulan yang unik sehingga membuka peluang kisah fantastik.

Berjalan seperti biasa, seperti umumnya orang yang baru kenal. Ada basa-basi, ada malu-malu da nada perasaan kurang nyaman dan sebagainya. 

Lain hari, ketika Deo dan Shally sedang menikmati pemandangan sore, tiba-tiba datang Dorant menyapa dari belakang.

Tiga pertemuan terjadi antara Deo, Shally dan Dorant sampai akhirnya mereka pulang ke rumah. Liburan di Yogyakarta telah usai. 

Yang ada tinggal kenangan. Minggu sore, Shally dan Deo santai di rumah Shally. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing setelah letih bercanda ria.

“Eh, Eo, coba lihat. Ada foto kamu sama pria misterius…. Siapa ini sih?”
“Misterius apaan sih, coba lihat…”
“Ini, coba deh… siapa coba?”

“Ah, itukan anak jadul yang kenalan sama kita waktu itu….”
“Oh…iya, iya aku ingat. Dorant kayaknya ya…. Kok…”

“Kok apa sih….”
“Eh, kapan kamu foto sama nih anak. Kok gue enggak ada sih?”
“Terang aja loe enggak ada orang loe yang ngambil foto-nya… gila loe!”

Tak terasa, Shally dan Deo pun membicarakan pria yang bernama Dorant itu sampai ke akar-akarnya. “Dilihat-lihat, ganteng juga nih anak… he… he… he…”, ucap Shally. “Dasar loe….”, jawab Deo sambil menjambak rambut sahabatnya pelan.

“Eh, tapi bener kok, coba deh lihat lagi foto anak itu sama kamu… serasi abis kok….”, ucap Shally lagi. 

Melihat sahabatnya mulai mengejek dia, Deo pun hanya tersenyum simpul. Tak mau lebih lanjut membahas orang yang jauh di sana.

****

Waktu berlalu. Deo dan Shally mulai menjalankan rutinitas seperti biasa. Begitu juga dengan Dorant yang ada di belahan bumi lain. 

Tak disangka. Foto yang tertinggal di ponsel Deo mengusik hati dan perasaannya. Mulanya sekali dua kali, lama-lama hampir setiap malam Deo menyempatkan diri menikmati foto tersebut.

Kadang Deo mulai tersenyum sendiri. Tapi tiba-tiba wajahnya manyun. Sedih. Seiring waktu berjalan, timbul getir di hati Deo. 

Ada perasaan kuat ingin bertemu dengan sosok pemuda misterius itu.

Semakin hari, wajah itu semakin jelas dalam bayang dan angan Deo. Beberapa kali ia mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Dorant. 

Tak berani, ia ciut membayangkan senyum yang pernah ia lihat.

---oOo---

Jadi, rencana untuk cerpen ini memang akan digunakan sebagai bahan belajar sekaligus bahan hiburan. 

Untuk yang menggunakan bahasa Indonesia harapannya bisa menjadi hiburan di kala senggang menjadi bahan bacaan yang menghibur. 

Sedangkan yang versi Inggris tujuannya untuk latihan bahasa Inggris. 

Meski begitu. Mengingat cerita ini saja sudah cukup panjang. Maka versi kedua belum bisa langsung disertakan dalam satu pembahasan ini. 

Bagi rekan pembaca yang sudah membutuhkan cerpen bahasa Inggris tentunya bisa lebih dulu download cerpen versi inggris-nya melalui tautan yang sudah disediakan.

Lain waktu, jika sudah memungkinkan maka dua versi tersebut akan digabungkan menjadi satu sekaligus. Atau kalau tidak rekan semua bisa menyalin dua versi ceritanya dalam sekali waktu. 

Dengan begitu waktunya bisa lebih efektif dan tidak perlu mondar-mandir ke sana kemari mencari cerita yang dibutuhkan. Itu saja, semoga berkenan!
Back To Top