Contoh Cerita Cerpen tentang Kisah Kematian Seorang Wartawan

Ada lagi, contoh cerita cerpen unik tentang wartawan bagus juga loh. Cerpen singkat berikut ini adalah khusus untuk pengunjung setia situs ini. Sesekali, setelah sekian lama berkutat dengan karya - karya sederhana yang singkat kali ini kita ambil cerpen tentang wartawan.

Cerpen tentang Kisah Kematian Seorang Wartawan

Ceritanya tentu saja sangat baru dan belum pernah dibagikan sebelumnya. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, kali ini kita akan membaca kisah yang sedikit lebih panjang.

Kisah ini kalau ditulis dalam ketikan komputer sekitar satu atau dua halaman. Jumlah katanya sekitar 1000 kata, jadi masih bisa dikatakan singkat.

Rekan pembaca yang hobi dengan kisah cerpen tentu tidak boleh melewatkannya. Kenapa harus tema seperti ini? Tidak ada alasan khusus.

Yang pasti diambilnya kisah ini bertujuan untuk menambah koleksi, agar yang sudah ada bisa tambah lengkap. Yang kali ini murni untuk bahan hiburan rekan saja.

Tidak akan dibahas lebih jauh. Jika rekan ingin tahu kelebihan, kelemahan atau pun analisis cerpen bisa memberikannya sendiri. Seperti apa ceritanya, silahkan nikmati berikut.

Kematian Seorang Wartawan
Cerpen oleh Arif

Siang tampak lengang tanpa suara apapun yang bisa didengar hanya angin yang terus meniup dan mengiringi langkah kecilku menuju rumah mamang di Pandeglang Banten. Jalannya memang sangat jelek tidak bagus. 

Aku harus berhati-hati ketika melangkah bila salah dalam melangkah saja maka nyawa menjadi taruhannya.

Aku berjalan terus melewati turunan yang lebar jalannya setengah meter, ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa sampai ke tempat mamang. 

Miris sekali memang Pandeglang sangat dekat dengan ibukota Jakarta tetapi malam jalannya sangat jelek seperti ini. 

Setelah berhasil menuruni jalan menurun kini aku harus menaiki jalan yang menanjak kurang lebih seratus meter, setelah itu barulah aku bisa sampai di tempat mamang. Di sini memang masih sangat pelosok. 

Jaringan hape tidak ada, tetapi lampu listrik sudah ada di sini, sehingga malamku tidak perlu khawatir akan ku lalui secara gelap.

Aku mengetuk pintu mamang, sembari berucap,"Asslamualaikum" berdiri tepat di depan pintu yangg terbuat dari kayu tanpa motif ukiran terkenal. 

Rumah mamangku memang sangat sederhana hanya memakai dua jendela di depan yang dilengkapi kaca berbentuk persegi panjang yang terbagi menjadi empat.

 Sedang teras hanya ada dua kursi dan meja yang terbuat dari tanaman merambat yang banyak orang bilang adalah njalin. 

"Waaaikum salam" suara mamang mendengar suara salamku dan mengetahui kedatanganku. 
"Eh Agung, bagaimana kabarnya" ucap mamang begitu riang menyambutku, akupun membalas kebahagiaan nya dengan senyum yang lebar. 

"Aku baik mamang mamang teh bagaimana", tuturku lebih lanjut. 
"Mamang baik, ayo atu masuk ke dalam", ucap mamang mengajakku masuk ke dalam. 

Aku di antarkan ke kamar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang tamu, dan bagiku sangat dekat. Hingga memudahkanku untuk pergi ke kamar dan ruang tamu secara mudah. 

Aku ke sini niat hati ingin berlibur hendak menikmati desa yang sunyi dengan udara yang belum terkontaminasi ini. 

Aktivitas kuliah membuatku strees, trlebih skripsi yang sudah selesai ku garap yang membutuhkan banyak tenaga. Kini menunggu sidang aku harus merefres otaku agar aku bisa mengikuti sidang skripsi dengan baik. 

"Ya sudah ini kamarmu ya Gung, beristirahatlah mamang tinggal, kalau butuh apa-apa panggil mamang aja di belakang" ucap mamang dan kemudian pergi dari kamarku. 

Aku mengeluarkan pakaianku, seluruh pakaianku ku masukan ke dalam lemari, sedangkan di sana buku-buku bacaanku juga tidak lupa aku bawa sebagai teman dikala sepi melanda. 

Di sini di tempat mamang tentulah aku bisa banyak membaca buku, karena di sini tempat yang sangat tenang dan menenangkan sehingga tidak sulit membangun konsentrasi untuk membaca buku. 

Berbeda halnya bila rumah yang berdiri tepat di samping jalan raya, seperti rumahku di kota, suasananya begitu ramai, berisik, dan selalu membuat panik. 

Terlebih ketika pagi datang ketika mimpi dalam tidurku belum kulewati hingga akhir baru sampai kepada bagian setengah episode, sudah ada suara kontener yang membunyikan tlakson yang menggangguku hingga aku terbangun. 

Itulah yang aku rasakan ketika aku di rumah, tetapi di sini lain, ibu dan ayahku begitu betah hidup di pinggir jalan yang begitu crewet itu. 

Ya mungkin karena hanya di sanalah tempat mencari rejeki bagi kedua orang tuaku. Ibu dan ayahku adalah buruh pabrik, sedari kecil aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan pengasuhku, sedang ayah dan ibuku selalu sibuk dengan pekerjaannya. 

Hari sudah sore, sedang di sana mamang baru pulang dari mandi. Akupun hendak mandi untuk membersihkan badanku dari kringat yang kemudian telah mengering. 

Letak sumber airnya berada di belakang rumah, di sini lain seperti halnya di rumahku, karena di sini mendapatkan air dengan cara menimba dengan menggunakan katrol yang diberi ember.

Ya itung-itung ini adalah olah raga untuku, untuk mengencangkan urat-uratku sehingga terasa lebih bugar. 

Setelah mengisi bak air sebanyak lima ember aku mulai mandi, dan setelah itu mengambil wudhu dan sholat. Di sinilah ku temukan ketenangan yang tiada pernah aku merasakan damai dan damai. 

Di sana aku tidak memikirkan dosen-dosenku yang selalu menegurku karena tidak segera menyelesaikan skripsi, serta tidak ada pula lalu lalang kendaraan yang crewet. 

Usai melakukan kewajiban aku duduk di depan rumah, hingga nampak tetangga sebelah dari mamang yang datang ke rumah."Mamangnya ada den" ucap orang tersebut. 

"Ada pak, silahkan masuk biar saya panggilkan si mamang" ucapku dan kemudian masuk rumah. Belum sempat ku panggil si mamang sudah keluar dari kamarnnya. 

"Eh kang Asep, bagaimana kabarnya..?" ucap mamang begitu bahagia menemui temannya, sedang aku kembali duduk di teras depan.

Sedang mamang dan tamunya berada di ruangan tamu. Duduk sendiri membuatku begitu bosan, hingga ku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar. 

Aku berjalan di jalan yang tidak ada rumah satupun dan tubuh subur ilalang di kanan dan kiriku. Ilalang ini setinggi leherku, hampir sama mempunyai tinggi melebihi aku.

Di sini sangat sepi tidak ada rumah satupun, hingga tetapi di sini sangat menenangkan angin menghembus sangat tenang dan sedikit kicau burung yang berterbangan. 

Aku melangkahkan kakiku, tetapi ada sesosok mata yang mengintai di bagian samping kiriku. Aku berhenti sejenak mata pengintai itu juga berhenti sejenak tidak menampakan pergerakannya.

Aku berjalan lagi mata itu juga berjalan lagi, aku berkata,"Siapa di sana..!, keluar dari ilalang". 

Tetap tidak ada jawaban, hingga sampai akhirnya aku mendengar suara seorang perempuan yang sedang mewancara, suara itu terasa di balik ilalang tersebut. 

Aku begitu penasaran di tengah tumbuhan ilalang yang begitu rumpun terdapat wartawan yang sedang mencari berita. Perlahan bulu kuduku mulai berdiri, sedikit gemetar tubuhku tetapi akupun cari aman aku berlari dengan begitu cepat menuju pulang. 

"Mamang, Mang" panggilku setelah tepat di depan rumah mamang, sementara itu tamu mamang sudah pergi. 

"Ada apa Gung" ucap mamang begitu khawatir melihatku begitu ketakutan. 
"Ada suara wartawan mang di dalam rerungkutan ilalang" ucapku kepada mamang.

"Mengapa kau ke situ..? itu memang tempat mengerikan, dulu ada seorang wartawan, gadis cantik mati di situ dan sampai sekarang jasadnya belum diketemukan" ucap mamang. 

Aku dan mamang duduk di bangku teras depan rumah, sementara itu untuk menenangkan fikiranku aku meminum air putih yang ku tuang di dalam gelas. 

"Kenapa wartawan itu bisa mati mang" ungkapku bertanya kepada mamang. 
"Gadis cantik itu mati karena dibunuh setelah sebelumnya diperkosa secara keji, aneh memang meski pelakunya sudah diketemukan tetapi jasadnya sampai sekarang belum diketemukan" sambung mamang. 

"Mengerikan sekali, pantas saja aku mendengar suara tidak masuk akal di tengah-tengah tumbuhan ilalang" ucapku. 

"Lain kali bila ingin berjalan-jalan ajaklah mamang, bila mamang tidak ada pekerjaan mamang pasti mau" ucap mamang. "Iya mang". (Arif Purwanto)

---Tamat---

Ya, paling tidak dengan contoh cerita cerpen tentang kisah kematian seorang wartawan di atas kita mendapatkan lebih banyak referensi untuk dibaca.

Siapa tahu saja ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Yang namanya pekerjaan, apapun itu memang memiliki resiko. Kadang suka dan kadang duka, tidak perlu dirisaukan. Jalani saja dengan baik.

Masih Banyak Sisa di Piringmu, Pantas Rejekimu Sedikit

Contohcerita.com: Masih Banyak Sisa di Piringmu, Pantas Rejekimu Sedikit - kata orang tua dulu kalau makan harus bersih, jangan disisain atau dibuang-buang karena itu akan mengurangi rezeki kita. Orang dulu percaya benar mengenai hal itu, tapi banyak anak muda sekarang ini yang tidak demikian. Cerita pendek berikut mengenai rejeki yang sedikit karena suka menyisakan makanan.


Bapak bicara sepertinya aku ingin menangis. Ketika masa itu begitu sulit karena memang kondisi yang tidak memungkinkan.

Untuk makan saja susah apalagi untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Saat itu adikku akan masuk SMA sedang aku akan masuk perguruan tinggi.

Kondisi orang tua kita sangat tidak memungkinkan. Ayah hanya bekerja sebagai buruh tani dan ibu hanya sebagai ibu rumah tangga.

Penghasilan yang tidak memungkinkan membuat aku berfikir untuk mengalah demi keluarga. Terkadang menyakitkan namun harus tetap dijalani.

Kondisi kami seperti di ujung tanduk sebuah kehidupan. Rasa ingin tetap bersekolah tapi daya dan biaya tak memungkinkan.

Teringat akan kata - kata ayah ketika aku diajak olehnya untuk makan nasi goreng di pinggir jalan.waktu itu kami pulang dari sawah.

Ayah biasa mampir ke tempat Mbok Juminem kala ia punya uang untuk mentraktir anak anaknya yang kurus kering.

Termasuk aku akhirnya kebagian untuk merasakan kasih sayang seorang ayah walau hanya makan bersama.

Namun itulah pelajaran paling berharga dalam hidupku ketika aku merasakan bagaimana mencari rezeki dan nafkah orang tua untuk anak anaknya.

Waktu itu aku makan dengan lahapnya karena lapar sehabis mencangkul di sawah. Aku tidak menghabiskan makanan dalam piringku.

Ayah langsung memarahiku bahwa aku harus menghabiskan nasi yang ada dalam piringku karena satu nasi adalah satu keringat petani sedangkan kami adalah petani.

Kata ayah jika kamu tak menghabiskan makanan itu berarti seolah olah kamu sudah menyisakan rezekimu sendiri untuk orang lain.

Jadi ketika makan aku harus menghabiskan makanan yang ada dalam piring itu. Makanan yang sudah diambil harus dihabiskan dan tidak boleh menyisakan sedikitpun. (Gunarto)

Cerita Kuda Lumping Makan Beling, Begini Ungkapan Pendapat Ahli

Cerita Kuda Lumping Makan Beling, Begini Ungkapan Pendapat Ahli - Halo sobat sekalian yang masih setia mampir ke situs kami, kali ini bahasan kita adalah tentang kuda lumping. Kesenian asli Indonesia yang cukup unik karena aksi-aksinya yang tidak biasa.


Seperti halnya memakan beling, pertunjukan makan beling dalam kuda lumping tentu bukan hal baru lagi, karena pada kesenian kuda lumping atau juga bisa disapa kuda kepang makan beling sudah menjadi aktivitas para kuda lumping yang lumrah.

Menurut para pemain kuda lumping aksi makan belingnya tidak bisa dilakukan dengan sembarang, perlu latihan khusus dan mengamalkan mantra yang sudah ditetapkan oleh gurunya.

Satu lagi yang perlu dilakukan ketika hendak memakan beling yaitu yakin, bila merasa tidak yakin karena takut gusi akan tersayat oleh beling yang dimakan maka lebih baik tidak usah.

Menakjubkan memang bila kita lihat para aksi-aksi makan beling yang diperlihatkan para pemain kuda lumping.

Tetapi kita semua tentu tidak perlu percaya begitu saja ya gan, kalau makan beling yang dilakukan oleh para pemain kuda lumping ada bantuan jin.

Begini menurut Staf Pengajar dan Kepala Divisi Konservasi Gigi FKG-UI, drg. Bambang Nursasongko, SpKG (K) mengatakan bahwa mulut kita gusi kita sebenarnya memiliki lapisan kulit yang lunak namun tidak muda sobek.

Inilah fakta dari dari kulit dalam mulut kita, sehingga tentu wajar saja bila para pemain beling mulutnya tidak berdarah ketika memakan beling.

Bambang sendiri menuturkan bahwa dirinya juga pernah memakan silet, dan gusinya aman-aman saja tidak berdarah sedikitpun.

Tahu kan rahasia makan beling, sudah kita tidak perlu percaya tahayul percaya yang nyata-nyata aja he... he..., benar tidak?

Cerita Suku yang Mengerikan, Laki - Laki Hanya Dijadikan Pejantan Sedang Perempuan yang Berkuasa

Banyak suku suku di dunia ini yang masih hidup dengan akar kebudayaan yang sangat kental dan tidak mau merubahnya. Di Indonesia sebut saja suku Baduy di tanah lebak provinsi Banten. Menurut tradisi mereka, kendaraan tidak boleh masuk.


Pun di Kalimantan dan Papua, banyak suku suku yang masih memiliki corak yang sangat tradisional. Kebudayaan mereka pun sangat belum berkembang apalagi mengarah kepada akomodasi budaya luar yang sangat merusak.

Ada sebuah suku dinegara china dimana suku ini merupakan suku yang belum maju peradabanya dibandingkan dengan suku suku lain dinegara itu.

Di sebuah lembah Yunan, China, tepatnya dibawah lembah pegunungan Himalaya hidup sebuah suku purba bernama Mosuo.

Meski kolot suku ini hidup dalam keadaan yang menurut masyarakat modern disebut sebagai cara hidup yang progresif.

Masyarakat Mosuo hidup dalam tradisi matriarki yang sangat ekstrem. Anak anak di suku ini tidak memiliki konsep keluarga yang jelas, mereka tidak memiliki ayah dan ibu.

Namun bagi suku ini perempuan adalah yang paling berkuasa. Saat santap makan malam nenek atau perempuan tertua dalam satu rumah akan duduk di kepala meja.

Di sekelilingnya hanya ada anak anaknya, dan cucu cucunya. Anehnya saat makan malam ayah dan ibu anak anak itu dilarang makan bersama.

Kemudian dalam hal berpasangan, suku ini tidak mengenal pernikahan. Wanita yang ingin berhubungan harus menunggu laki laki siap untuk melakukan hubungan.

Ketika laki laki masuk kedalam kamar maka laki laki itu menggantungkan topinya didepan pintu kamar agar laki laki yang lain tidak masuk kedalam kamar itu.

Mereka mengenal tradisi pernikahan berjalan. Dimana kalau di Indonesia dikenal dengan istilah kumpul kebo tetapi mereka belum menikah. (Gunarto)

Kisah Penemuan Makan Piramida dari Batu Bata di Tiongkok

Baru-baru ini ada cerita misterius dan cukup menarik yang menjadi perbincangan di dunia maya. Cerita tersebut adalah kisah tentang penemuan makan kuno yang berbentuk piramida di Propinsi Henan, Tiongkok.


Dikabarkan, sekelompok arkeolog telah menemukan sebuah makan yang cukup unik dan menarik di Zhengzhou, Provinsi Henan, Tiongkok. Berkaitan dengan penemuan tersebut, para ilmuwan akan segera melakukan penelitian lebih jauh mengenai usia, pemilik makan dan informasi lain.

Penemuan makan tersebut tidak diduga. Karena bentuknya, media lokal telah menjuluki makan tersebut sebagai piramida dari Zhengzhou. Struktur makan itu sendiri sebenarnya lebih kecil jika dibandingkan dengan piramida yang ada di Mesir.

Lalu bagaimana awal mula cerita penemuan tersebut? Menurut Huanqiu seperti dilaporkan oleh People's Daily Online seperti dilansir liputan6.com, makam ditemukan di dekat jalan tol.

Jalan tersebut sekitar satu kilometer di sebelah barat Sungai Kuning. Makan yang dimaksud, merupakan salah satu dari dua makan yang ditemukan disana. Kalau makam yang satu itu bentuknya piramida, makam lainnya memiliki bentuk seperti setengah silinder.

Menurut salah satu pekerja disana, usia makam tersebut bisa saja lebih dari 2.000 tahun. Menakjubkan bukan?
Back To Top