Cerpen tentang Kegiatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2023

Cerpen Kegiatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus – Cerita yang akan kita nikmati kali ini sedikit berbeda. Kita tahu bahwa setiap tanggal 17 Agustus setiap tahun akan dirayakan pesta memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Cerpen tentang Kegiatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus
Foto: Lomba Panjat Pinang/Aktual.com/Tino Oktaviano

Pada hari itu akan ada banyak kegiatan yang bernuansa suka cita dan juga yang bersifat mengenang jasa pahlawan.

Di acara tujuh belasan tersebut banyak kegiatan baik di instansi pemerintah maupun swasta. Sebut saja contohnya di desa atau di kampung, kalau ulang tahun 17-an biasanya banyak kegiatan, ada lomba, dan juga ada hiburan serta pawai. Semua meriah dan sangat menghibur. 

Tidak ada salahnya jika kita juga memasukkan momen tersebut menjadi sebuah tema dalam karya cerita pendek.

Ya, hitung-hitung untuk melengkapi bahan bacaan, syukur-syukur ceritanya bisa menarik dan bisa juga menghibur pembaca semua. Lumayan, sambil mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan kita bisa membaca cerpen menarik.

Awalnya sih sebenarnya kami ingin membuat sebuah kumpulan cerpen kemerdekaan, tetapi karena belum cukup waktunya maka dibagikan saja dulu satu karya yang sudah siap.

Tapi bagus loh, benar kok tidak bohong, tapi menurut pendapat penulis sih, kalau menurut anda ya belum tentu karena anda belum membaca karya tersebut. 

Pokoknya, beberapa hari kedepan kalau karya lain sudah siap maka akan segera dibagikan agar bisa menjadi tambahan bahan bacaan kita semua.

Esok kita juga akan melengkapi cerita yang ada dengan kumpulan cerpen bertema kemerdekaan yang bisa dibaca yaitu seperti pada daftar di bawah ini!

4) Cerpen tentang hari kemerdekaan
5) Cerpen kemerdekaan cinta tanah air

Nah, dari pada melebar kemana-mana dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk obrolan yang kurang pas lebih baik dibaca saja langsung cerpen tersebut. Eh, tapi jangan lupa siapkan makanan kecil dan minuman ringan, biar tambah mantap, iya tidak? Ya sudah, baca ya kisahnya!

Menang Lomba Panjat Pinang
Cerita Pendek 17 Agustus

Pokoknya tahun ini aku harus dapat juara, paling tidak aku harus bisa naik sampai atas, aku malu setiap perayaan hari ulang tahun kemerdekaan selalu saja diejek. Itulah tekad seorang remaja yang sedang mencari pengakuan. 

Sarman memantapkan hati dan rencana untuk menghadapi lomba panjat pinang yang setiap tahun diadakan di kampungnya.

Tekad-nya sudah bulat, masih teringat jelas ejekan yang ia terima tahun lalu, “kulit item, badan gede kaya kebo, rambut kriting, moso gak menang sih!”, ucap salah satu teman kala itu dengan logat jawa yang kental. 

Ia tidak mau kejadian itu terulang lagi, sakit hati rasanya, hati Sarman bagai di iris-iris. Bagaimana tidak, orang yang mengejek-nya waktu itu adalah orang yang ia suka.

Seorang gadis remaja berambut panjang dengan senyum bak bulan sabit, indah, Sarman tak pernah bisa melupakan senyum kecil itu.

Kali ini ia tidak mau menelan kegagalan, ia pun mulai menghubungi beberapa teman untuk mempersiapkan diri.

“Rip, agustusan ini bagaimana rencana-nya, mau ikut lomba apa?”, ucap suatu sore di rumah Ripin. 
“Panjat pinang dong, aku kan paling senang lomba ini…”, jawab Ripin tegas
“Halah… panjat pinang lagi, nanti kalah lagi kayak dulu, mau di taruh mana muka ini Rip…”, balas Sarman pura-pura tak berminat.


“Eh, enak aja, cuma keledai yang tiga kali jatuh di lubang yang sama….!”, jawab Ripin
“Maksud kamu apa…?”, tanya Sarman bingung
“Ya kali ini kita pakai otak geh, jangan sampai kalah lagi. Kita atur siasat”, ucap Ripin meyakinkan sahabatnya. 

“Ya siasat apa, kan kita sudah dua kali kalah…?”, jawab Sarman ragu.
“Sudah, itu urusanku, kamu kumpulkan saja teman-teman terbaik kita, nanti kita bahas lebih jauh… sekarang aku mau mandi…!”, jawab Ripin sambil meninggalkan Sarman sendiri.

Sarman menuruti perintah sahabat sejatinya itu. Keesokan harinya ia mengumpulkan teman-teman lain yang mau ikut lomba panjat pinang dengan mereka. Setelah kelompoknya cukup ia pun mengajak mereka ke rumah Ripin.

Ketika mereka sampai, Ripin sedang asyik bermain dengan gitar kesayangannya. Ia tidak menyadari bahwa teman-temannya datang. 

“Woi…. Ada setan lewat…!”, bentak Paino
“Astaghfirulloh…!”, teriak Ripin kaget
“Dasar kamu ya, sudah sore begini masih aja asyik meluk-in gitar, mandi dulu woi…!” ucap Dodi
“Iya tuh, bau-nya sampai ke hidungku tau!”, tambah Sarman

“Eh… kalian kesini cuma mau mengejak aku apa, kayak tidak ada kerjaan aja! Lagian aku kan sudah mandi, ini nongkrong sambil nunggu bidadari lewat!”

“Hu…!”, teriak Dodi, Dimas dan Raka.
“Eh…tumben, kalian ke sini rame-an mau apa, pasti mau ngopi gratis ya!”, ucap Ripin sambil tertawa kecil seperti kuda.

“Enak aja, kita ke sini mau bahas masalah lomba besok Pin, bagaimana ini?”, ucap Sarman
“Iya, kata Sarman kamu punya jurus jitu menang lomba?”, ucap Dimas

“Oh… iya, jadi begini, supaya tidak kalah lagi besok kalau lomba kita atur, urutannya tidak se-enak hati sendiri. Paling bawah siapa, nomor dua siapa dan seterusnya!”, ucap Ripin menjelaskan.

“Ah… tapi aku yang di atas sajalah…” ucap Paino 
“Enggak gitu no, urutan ditentukan dari tinggi dan besar badan serta berat badan. Jadi besok tugas kalian mengukur tinggi badan dan mengukur berat badan kalian, baru setelah itu kita tentukan urutannya. Oh iya Man, siapkan juga dua cadangan untuk yang paling bawah yang badannya paling gede dan kuat!”, ucap Ripin menjelaskan.

“Oh.. gitu ya, oke deh kalau begitu!”, ucap Sarman.

Karena memang sangat senang dengan lomba itu maka meraka pun tidak perlu dikomando lagi. Keesokan harinya mereka langsung mengukur dan menimbang berat badan masing-masing dan mencatatnya. 

Selain mengukur badan, Sarman juga sibuk mencari cadangan pemain untuk posisi paling bawah. Awalnya ia kesulitan karena beberapa rekan sudah lebih dulu bergabung dengan kelompok lain. 

Akhirnya setelah mengelilingi kampung menemui satu persatu temannya, Sarman mendapatkan orang. Sore harinya mereka kembali berkumpul di rumah Ripin.

Sore itu mereka menentukan posisi urutan saat lomba. Kemudian Ripin juga mengingatkan teman-temannya untuk latihan di rumah sebagai persiapan.

Satu minggu berlalu, mereka giat berlatih sampai akhirnya waktu yang ditunggu pun datang. Ripin dan kelompoknya maju mengikuti lomba panjat pinang di acara perayaan 17 Agustus di desanya.

Hasilnya, sungguh diluar dugaan, sekali tampil Ripin dan teman-temannya sudah bisa menyudari lomba dengan menghabiskan seluruh hadiah yang dipasang di atas.

Sorak sorai pun bergemuruh. Dengan suka cita mereka pun membagi beberapa hadiah kecil yang didapat. 

Sarman kebagian sebuah jam tangan mungil yang cocok untuk cewek.  Ingat kejadian tahun lalu, melihat cewek yang ia suka ia langsung berlari memberikan jam itu untuk gadis tersebut.

“Nih, kado 17-an untuk kamu…”, ucap Sarman sambil menutupi tubuhnya yang berlumur oli.

“Cie…cie…” dari kejauhan teman-teman Sarman bersorak mengejek. Sarman hanya tersenyum, tampak jelas di wajahnya bahwa ia puas dengan jerih payah yang dilakukan sehingga bisa menang lomba.

--- oOo ---

Kegiatan perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus memang memiliki banyak ragam acara. Kadang, anda bisa melihat pertunjukan kesenian tradisional seperti kuda kepang atau orgen, anda juga bisa mengikuti lomba-lomba yang diadakan di desa yang bermacam-macam

Yang juga tak kalah menarik, dalam acara 17-an biasanya juga akan ada acara pamai atau karnaval budaya yang menampilkan banyak penampilan menarik.

Itulah sedikit gambaran acara yang banyak di laksanakan dalam acara Peringatan HUT RI ke-71. Semoga cerpen di atas bisa menjadi hiburan bagi kita semua. 

Cerpen tema HUT RI 17 Agustus 2023

Cerpen tema HUT RI 17 Agustus 2023, pawai dan jiwa patriotisme - melengkapi cerpen sebelumnya kita akan membagikan lagi satu cerpen sederhana dengan tema perayaan hari kemerdekaan atau yang sering dikenal dengan sebutan "agustusan". Kali ini judulnya "pawai dan jiwa patriotisme". Ada yang mau ikutan tidak?

Cerpen tema HUT RI 17 Agustus, Pawai dan Jiwa Patriotisme
Cerpen HUT RI: Selamat Ulang Tahun Indonesiaku.
Semoga Engkau semakin maju dan sejahtera

Tentu kita tidak asing dengan berbagai acara yang biasa dilaksanakan menjelang ulang tahun kemerdekaan Indonesia bukan? Nah salah satunya adalah karnaval atau pawai budaya.

1) Mengarang cerita 17 agustus
2) Karangan singkat tentang 17 agustus
3) Karangan tentang hari kemerdekaan 17 agustus
4) Kumpulan karangan tentang kemerdekaan
5) Contoh karangan hari kemerdekaan
6) Karangan 17 agustus 1945
7) Cerpen 17 agustus 1945
8) Pengalaman 17 agustus

Cerpen ini mengambil tema mengenai kegiatan tersebut yaitu kegiatan pawai atau parade. Ceritanya seru, menghibur, lucu dan yang terpenting bisa menginspirasi kita dalam meningkatkan jiwa patriotisme dan nasionalisme. Sebuah kejadian atau acara yang dibalut dengan gaya bercerita yang menarik namun sederhana.

Karya ini akan menjadi hiburan sekaligus bahan belajar kita dalam meningkatkan kecintaan kita kepada bangsa dan negara. 

Semarak, bahagia, penuh suka cita dan kental dengan nuansa rasa cinta terhadap bangsa, benar-benar digambarkan dalam suasana yang menarik. 

Anda yang mencari cerpen tema hari - hari besar bisa mendapatkan tambahan referensi dan pilihan untuk karya-karya seperti ini. 

Jadi semakin penasaran saja dengan bagaimana kisah atau cerita dalam cerpen tersebut. Yuk kita baca saja langsung ceritanya.


Pawai dan Jiwa Patriotisme
Cerpen tema 17 Agustus oleh Irma

Menumbuhkan jiwa patriotisme dan nasionalisme itu bisa dari apa saja, bukan hanya melalui pendidikan di dalam kelas. 

Jiwa nasionalisme dan patriotisme juga bisa dipupuk sejak kecil dari acara pawai budaya yang biasa diadakan ketika memperingati hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, kawan.

Riko Batak menjelaskan kepada beberapa teman tentang betapa penting nilai kebangsaan. Ia duduk diatas lengan kursi, kedua tangan bergerak lincah mengikuti bahasa yang diucapkan.

Matanya tampak sedikit merah, bak seorang komandan perang ia mencoba mengobarkan semangat kemerdekaan kepada teman-teman sepermainan. 

“Gaya kamu itu Ko, sudah seperti mau perang saja!”, ucap salah satu temannya.

“Ya benar, siapa bilang kita sedang tidak berperang. Meski tidak ada desing peluru, tak ada darah namun kita sedang berperang memajukan bangsa dengan pembangunan!”, jawabnya lantang seolah tak mau sahabatnya surut semangat.

“Iya, iya, kami tahu. Ya sudah, rencana kita untuk ikut memeriahkan acara HUT RI kali ini apa?”, ucap Darman protes.
“He….he… he… apa ya?”, jawab Riko sambil garuk kepala
“Ah…kamu ini dari tadi pidato tapi enggak punya ide, payah!”, ucap Milena
“Iya… gak sesuai!”, tambah Darman

“Sudah, sudah, aku tidak punya ide makanya aku ajak kalian kumpul… Oh iya, kali ini sepertinya aku masih sangat sibuk jadi tidak punya banyak waktu untuk ikut lomba 17-an, bagaimana dengan kalian?”, ucap Riko

“Iya… aku juga banyak sekali pekerjaan”, jawab Milena
“Apalagi aku, aku gak bisa ikut kayaknya nih!”, tambah Darman

“Jangan tidak ikut sama sekali, paling tidak di puncak acara kita harus bisa…”, ucap Riko sedikit lemas.

“Ya, kalau itu pasti, paling tidak kan sudah pasang bendera di depan rumah…”, ucap Milena bercanda.
“Hu… Dasar!”, teriak Riko Batak dan Darman
Riko Batak, Darman dan Milena akhirnya memutar otak mencari ide agar mereka bisa ikut acara HUT kemerdekaan. Akhirnya, setelah berdebat beberapa jam mereka pun memutuskan untuk ikut pawai budaya tingkat kecamatan pada tanggal 17 agustus.

“Demi untuk bangsa dan negaraku….!”, teriak Riko Batak, Darman dan Milena ketika selesai berkumpul. Waktu tinggal 3 hari untuk mempersiapkan diri.

“Kita ikut pawai pakai kendaraan, jangan jalan kaki, kasihan Milena kalau harus jalan kaki dan kena panas matahari”, ucap Riko Batak. 

“Halah…. Gaya kamu sok perhatian”, jawab Milena. Melihat kedua rekannya yang bercanda terus Darman pun sewot. Ia akhirnya mengajak untuk mulai mempersiapkan diri.

Senin pagi, tanggal 15 Agustus mereka sudah berkumpul untuk memilih kendaraan dan menghias-nya. Pilihan jatuh pada motor roda tiga, mereka akhirnya menghias kendaraan tersebut sedemikian rupa menyerupai gerobak sapi.

Riko Batak segera menghubungi beberapa kawan untuk membuat patung replika sapi. Darman menghias bagian lain kendaraan sedangkan Milena mulai mempersiapkan busana dan berbagai keperluan untuk teman-temannya.

Semua mereka lakukan secara gotong royong. Kebetulan, mereka bertiga adalah pemuda yang aktif dalam organisasi dan sudah dikenal baik hingga untuk acara pawai 17 Agustus itu banyak sekali yang membantu.

Mereka tidak mengeluarkan uang kecuali hanya sedikit. Banyak pemuda desa yang menyumbang dan bahkan bergabung dengan konsep pawai yang sudah mereka siapkan.

“Woi, aku ikutan ya…”
“Boleh… boleh… tapi jangan yang aneh-aneh ya, yang mendidik aja…”
“Oke deh…”
“Kita buat sesuatu yang menarik tetapi tidak ada konotasi negatif, misalnya laki-laki yang berpakaian perempuan, tidak mendidik itu!”
“Wah…. Gak seru dong….!”
“Seru apanya, menyesatkan itu, temanya patriotisme dan nasionalisme aja!”
“Iya deh…ikut aja”

Hari berikutnya, selasa dari pagi sampai siang suasana rumah Riko Batak menjadi semakin ramai dan gaduh. Banyak sekali rekan remaja dan pemuda pemudi yang mempersiapkan keperluan pawai budaya di rumah Riko.

Rumah Riko sendiri memang strategis, halamannya sangat luas, dan lokasinya yang dekat dengan kecamatan. Biasanya disana akan menjadi start tempat pawai dimulai. Itulah sebabnya banyak pemuda yang akhirnya bergabung disana.

Semua bahu membahu untuk memeriahkan pesta kemerdekaan. Terlihat para pemuda dan pemudi begitu semangat dan berapi-api. “Ingat, sebagai generasi penerus kita harus terus berjuang melanjutkan perjuangan para pahlawan. 

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan membuat Indonesia menjadi lebih maju dan sejahtera!”, teriak Riko Batak sore itu mengakhiri kegiatan persiapan karnaval.

“Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…!”, semangat mereka terbakar, mereka satu persatu akhirnya meninggalkan rumah Riko. 

Hanya tinggal Riko Batak, Darman dan Milena. Sebelum magrib Milena pulang, Darman memutuskan menginap di rumah Riko Batak dengan ditemani beberapa anak lain.

Mereka menjaga peralatan pawai yang tidak bisa dibawa pulang, takut kalau hujan. Setelah persiapan yang melelahkan akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Jam sembilan pagi suara sudah semakin gaduh, masyarakat sudah mulai banyak yang berkumpul di tempat start.

Akhirnya, kemeriahan mengisi seluruh hari, dari pagi hingga sore suasana seluruh kecamatan begitu meriah dan ramai. “SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIAKU, SEMOGA JADI LEBIH BAIK”, sebuah spanduk besar membelah kerumuman mengawali parade pawai kemerdekaan.

--- oOo ---

Perayaan HUT Kemerdekaan RI Tahun Ini

Cerpen tentang Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI berikut ini menjadi salah satu contoh karangan yang dibuat dengan sangat sederhana. Mungkin jauh dari sempurna tetapi lumayan bisa untuk dijadikan sebagai bahan belajar bagi pembaca semua.

Cerpen tentang Perayaan HUT Kemerdekaan RI Tahun Ini

Mungkin rekan pelajar ada yang sedang belajar mengarang dengan tema hari kemerdekaan, jadi bisa dijadikan contoh.

Seperti terlihat dalam judul, cerpan ini khusus untuk hari ulang tahun Indonesia tahun ini, kebetulan sekali tahun ini adalah HUT RI yang ke - 74.

Mungkin rekan semua ingin menceritakan atau membuat cerita pendek tentang HUTRI yang tahun lalu atau tahun lainnya sesuai pengalaman juga bisa saja. Yang pasti kita akan belajar bagaimana menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan.

Berbeda dengan karya lainnya, cerpen kali ini tidak dalam bahasa Inggris melainkan dalam bahasa Indonesia. Rekan semua tidak akan memiliki kesulitan dalam menangkap alur atau isi ceritanya.

Kalau masalah apreasiasi untuk menilai bagus atau tidak kami serahkan kepada pembaca semua. Seperti apa kisah tersebut, mari langsung kita nikmati.

Sambut HUT RI ke 74
Cerita oleh Arif

"Tidak terasa ya No baru tahun kemarin aku saja belum lupa dengan 17 agustus, sekarang udah ketemu 17 lagi"Ucapku.

"Iya Met, ini foto 17 Agustus kemarin aja masih belum rusak Met, kaya baru foto kemarin hehe" ucap Paino sambil memperlihatkan album foto 17 Agustus kepadaku.

"Kawan-kawan sekalian berhubung 17 Agustus akan segera datang enaknya kita isi dengan kegitan apa ni" Ucap salah satu pemuda desaku.

"Bagaimana kalau kita isi 17-an kali ini berbeda dari tahun yang lalu, kalau 17-an kemarin kan kita hanya berkeliling desa dengan berjalan kaki, bagaimana kalau tahun ini kita isi dengan pawai sepeda" ucapku.

"Rutenya" salah satu pemuda.
"Rutenya kita keliling kecamatan, selain biar lebih eksis, bersepeda juga kan sehat hehe" ucapku.

"Oke ide bagus itu" ucap beberapa pemuda menyetujui usulanku.

"Agar lebih menarik sepeda yang digunakan sepeda kelasik ya, terserah sepeda apa saja yang penting sepeda kelasik" ucapku lebih lanjut.

"O iya tambahan, bagaimana kalau kita adakan upacara juga di desa dengan menghadirkan para masyarakat, pelajar, dan pemuda pada umumnya". Ucap Parno.

"Tapi bagaimana danannya" ucap salah satu pemuda.

"Murah kok, kita tidak perlu buat acara upcara terlalu mewah yang terpenting tujuan kita di situ adalah mengingatkan tentang lahirnya Indonesia dan menghargai para pahlawan yang telah melahirkan bangsa ini" ucap Parno.

"Wih bahasanya ngeri kali kau No" ucapku.
"Okelah" ucap pemuda menyetujuinya.

Desaku memang menjadi desa yang mempunyai kegiatan menarik setiap 17-an, karena semua pemuda berkumpul menggabungkan ide dan gagasan untuk kegiatan 17 Agustus.

Sehingga meski desaku merupakan desa yang kurang maju, tetapi ketika 17-an selalu menjadi sorotan karena kegiatan-kegiatannya yang setiap tahun berbeda dan menarik.

--- Tamat ---

Bagaimana menurut anda semua, sudah lumayan belum? Tenang, yang di atas hanya satu contoh saja kok, kalau mau membaca kisah atau cerpen lain juga masih ada.

Mau yang Indonesia ada, yang bahasa asing juga ada. Anda tinggal memilih mana yang sesuai keinginan dan kebutuhan.

Kalau ingin mudah, rekan semua bisa menghafalkan alamat situs ini agar dilain hari bisa lebih cepat dalam mencari cerpen Perayaan HUT RI lainnya.

Kalau sekarang anda ingin melihat koleksi lainnya bisa langsung menuju ke kategori cerita yang ada. Misalnya rekan ingin menikmati kisah-kisah motivasi silahkan cek dibagian kategori motivasi.

Selain cerpen disini juga ada banyak kisah menarik lainnya. Disini juga ada cerita kisah nyata dan juga cerita unik, aneh dan menarik.

Selain itu ada juga cerita lucu yang bisa mengocok perut kita. Pokoknya banyak deh. Bagi yang berminat silahkan langsung ke menu bagian kanan. Atau silahkan pilih juga cerita lainnya dibagian bawah.

Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia

Contoh Cerpen tentang HUT RI 17 Agustus 1945, Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia - cerpen tentang 17 Agustus ini sebenarnya berhubungan dengan peringatan hari kemerdekaan yang biasa diperingati bangsa Indonesia tercinta. Ceritanya berisi bagaimana peringatan tersebut dilaksanakan oleh warga atau masyarakat Indonesia. 

cerpen 17 agustus
Contoh Cerpen tentang 17 Agustus 1945

Tentu saja ini diharapkan bisa menjadi inspirasi sekaligus peringatan bahwa kita harus bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang sudah diraih.

Karya ini bisa dikatakan juga cukup sederhana. Mungkin sekilas seperti cerita curhat. Namun begitu karya ini dikemas sebisa mungkin sebagai cerpen, meski sederhana.

Harapannya bisa menjadi sebuah hiburan sekaligus juga bahan belajar bahasa Indonesia yaitu membuat karangan tentang acara 17-an. Seperti apa ceritanya, silahkan dilihat langsung.

Getar Jiwa Memperingati Kemerdekaan
Cerpen Bertema 17 Agustus 1945

Terpukau kagum hati melihat gotong royong pemuda desa untuk menyambut datangnya peringatan 17 Agustus 1945. 

Belum pernah mata ini melihat rasa kekeluargaan yang begitu pekat, serta begitu hangat, terutama di jaman yang sudah semoderen ini. 

Mungkin karena mata ini selalu melihat pemandangan kota yang penuh dengan orang-orang individual. 

Sehingga merasa kaget dan tidak mau dipejamkan ketika melihat orang-orang masih memegang teguh gotong royong.

Memang ini kali pertama aku datang ke desa itu, yang bertepatan dengan akan diadakannya pawai peringatan 17 Agustus 1945. 

Sehingga tidak heran meski pawai masih dua hari lagi, tetapi aktivitas warga sudah terlihat begitu sibuk. 

Menurut warga setempat, ada yang beda bila melihat kebiasaan berpawai orang masyarakat desa, dengan kebiasaan pawai yang ada di tempat lain.

Karena bila pawai yang berada di tempat lain tidak akan jauh-jauh dari kostum keren, mahal, yang mereka kenakan pada saat perayaan pawai, maka lain halnya bila di desa ini. 

Di desa ini, masyarakat akan berdandan dengan pakaian yang jauh dari kata layak, dan terkesan aneh. 

Tetapi itulah yang menjadi nilai jual mereka dan cukup menyita perhatian para penonton pawai di pinggi jalan.

Rasa penasaran dengan cerita warga mendorongku untuk berkeliling desa untuk melihat persiapan masyarakat menjelang peringatan 17 Agustus 1945. 

Berbeda halnya bila biasa di kota aku menggunakan mobil untuk pergi berjalan-jalan keliling kota, maka kali ini aku dan saudaraku Rifki menggunakan sepeda ontel untuk berkeliling desa.  

Rifki berjalan ke belakang rumah mengambil sepeda, dengan tatap mata yang serius, dan kemudian kembali setelah satu menit. 

Dengan nada lembut serta tawa kecil Rifki berkata," Hey Haikal, ayo naik". Aku berlari dan langsung saja menaiki sepeda pada tempat duduk di bagian belakang.

Sepeda berjalan dengan sedikit ayunan perlahan dari kaki Rifki, sementara aku sangat menikmati dibonceng menggunakan sepeda ontel tua merek Phonik, milik saudaraku ini. 

Di perjalanan aku melihat pemandangan rumah di desa yang memang tata ruangnya masih kurang teratur. Serta belum begitu padatnya penduduk yang ada di desa ini.

Sambil menahan posisi di bonceng agar tidak terjatuh aku bertanya dengan nada cukup keras, "Kenapa kita belum menemukan orang-orang yang sedang menyiapkan peringatan 17 Agustus 1945". 

Sambil terus mengayun dan terengah-engah, serta pandangan fokus ke depan dan badan sedikit membungkuk. 

Rifki menjawab "Masyarakat selalu berkumpul di tempat saudaranya pak lurah, di sana kita bisa melihat banyak orang yang sedang merias dan mempersiapkan segala perlengkapan untuk digunakan pada peringatan 17 Agustus 1945."

Hingga tak lama sepeda kami sampai di tempat kediaman pak lurah, di situ nampak begitu banyak masyarakat berkumpul menghias sepeda ontel, mobil, dan juga motor. 

Dari banyak riasan yang mata ini lihat nampak semuanya bagus-bagus, dan mempunyai pengerjaan dengan tingkat kerumitan yang tinggi.

Aku berjalan mendatangi salah satu sepeda yang dihias dengan pelastik serta kerangka bambu membentuk helikopter. 

Sambil terkagum-kagum aku bertanya kepada pemilik sepeda,"Berapa lama kau mengerjakan ini..?". 

Sambil sedikit tersenyum pemilik sepeda yang masih bujang kira-kira berumur 17 tahun itu menjawab "Aku mengerjakannya selama dua hari". 

Dengan tatapan tersorot kepada pemilik tersebut aku bertanya lagi,"Kau mengerjakannya sendiri..?". Pemilik sepeda menjawab "Ya, aku mengerjakannya sendiri". 

Sambil menganggukan kepala dan mengedikpkan mata serta tanpa tersenyum.

Selain sepeda berbentuk helikopter aku juga melihat sepeda-sepeda lain serta motor, dan mobil yang juga dihiasi dengan karakter-karakter lucu. 

Mata ini dan hati ini seolah dimanjakan dengan para masyarakat yang bahu membahu dan dengan sangat kompak menghias kendaraan yang mereka akan gunakan untuk mengikuti pawai.

Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini, aku juga ingin merias sepeda milik saudaraku Rifki, untuk digunakan dalam peringatan 17 Agustus 1945. 

Dengan nada lembut aku membisik kepada Rifki,"Bagaimana kalau kita juga ikut pawai 17 Agustus. Rifki menatapku,"Ide yang bagus, tetapi sepeda kita belum dirias" menjawab dengan muka hambar.

"Kita bisa meriasnya sekarang", muka berkerut tangan mengankat menjelaskan kepada saudaraku. "Oke kalau itu maumu kita rias sekarang" jawabnya membuat hatiku cukup gembira.

Sebelum merias kami terlebih dahul berbelanja keperluan rias untuk membuat sepeda kami lebih menarik. 

Lalu dengan daya kreativitas kami satu demi satu plastik kami guntik selanjutnya kami lem di badan sepeda, ban, dan setang.

Kebahagaiaanku tak terelakan serta tidak sabar lagi menunggu hari datangnya peringatan 17 Agustus yang lain dari pada biasanya. 

Aku memahami betul apa itu 17 Agustus 1945, yaitu hari yang menjadi sejarah lahirnya bangsa ini. 

Serta hari yang mejadi sejarah bahwa lenyapnya bentuk kolonilismi, imprialisme, dan kapitalisme dari tanah ibu pertiwi ini.

Sehingga merayakan hari sejarah berdirinya bangsa Indonesia adalah hal yang wajib bagi kita semua, untuk menghormati jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan untuk kita. 

Sehingganya kini kita bisa hidup di negara yang merdeka dan kini tibalah saatnya tugas kita untuk meneruskan perjuangan bangsa mensejahterakan masyarakat dan juga menjadikan negara ini lebih maju dan makmur.

Dua hari berselang, sementara semuanya sudah ku siapkan untuk pawai 17 Agustus. Aku menggunakan pakaian tokoh revolusioner. 

Yaitu bapak proklamator bangsa Indonesia Ir. Soekarno. Yang lengkap dengan jas Soekarno Look, peci, dan kaca matanya.

Sementara saudaraku Rifki berdandan ala wanita jawa lengkap dengan sanggulnya, layaknya istri Soekarno yaitu Fatmawati. 

Keributan pawai sudah terdengar, aku dan rifki bergegas untuk langsung mengambil barisan diantara para pengemudi sepeda ontel.

Ternyata benar ada yang menarik dari pawai peringatan 17 Agustus di desa ini, karena ku lihat masyarakat berdandan dengan dandanan aneh hingga mampu membuat orang tidak kuat menahan tawa. 

Di sebelah sisi kananku aku melihat seorang pemuda yang mengenakan pakaian jerami lengkap dengan topi petani di kepala dan cangkul di pundak. 

Selain itu aku juga melihat hasil bumi yang di letakan di bagian tempat duduk belakang sepeda. 

Sedangkan di sisi kiriku aku melihat seorang bapak tua dengan tubuh gempal berdandan sebagai anak SD. 

Terlihat baju yang kekecilan tidak bisa menutup bagian pusar perutnya yang besar tersebut. Sehingga selalu menghadirkan tawa kepada setiap orang yang melihat.

Sementara aku melihat di bagian belakang ada seorang pria kurus tinggi, dengan keadaan gigi dua senti ke depan, menggunakan pakaian seksi layaknya seorang wanita malam. 

Meski berdandan agak tidak senonoh, tetapi ada pesan moral yang tertancapkan di sepedanya.

Pesan moral tersebut adalah "17 tahun milik siapa saja", yang intinya dengan dandana seperti itu pria kurus, tinggi tersebut mengajak semua masyarakat yang enggan untuk mengikuti pawai. 

Kalau pekerja wanita malam saja mau ikut pawai, masa masyarakat yang mempunyai pekerjaan lebih mulia enggan untuk mengikuti pawai 17 Agustus ini, Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.

Peluit sudah dibunyikan tanda keberangkatan pawai sudah dimulai. Dan aku yang membonceng saudaraku mengayun sepeda berbarengan dengan para peserta pawai. Rute pawai sendiri akan berkeliling kecamatan dan kemudian kembali ke desa nan asri tersebut.  (Apw)

Sekian

Contoh Puisi Kebangsaan dan Analisis, Serdadu Bangsa

Contoh Puisi Kebangsaan, Serdadu Bangsa - Besar jasa prajurit bisa dilihat dari contoh puisi kebangsaan ini. Puisi ini menggambarkan bagaimana seorang prajurit berkorban demi tanah air tercinta. Selain itu, prajurit juga digambarkan sebagai sosok yang perkasa yang menjadi pembela sekaligus pelindung ibu pertiwi.

Contoh Puisi Kebangsaan dan Analisis

Mudah-mudahan karya terbaru ini bisa membangkitkan semangat kebangsaan dan kecintaan kita kepada tanah air Indonesia. Karya puisi kebangsaan yang indah berikut ini merupakan karya puisi 4 bait yang singkat namun memiliki makna begitu dalam.

Menggambarkan perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan yang tinggi terhadap negara. Ada pesan dan nasehat berharga yang coba diutarakan oleh penyair, ada ajakan dan juga ada semangat yang ingin dikobarkan.

Mungkin, puisi berjudul “serdadu bangsa” ini bukan yang terbaik atau bahkan mungkin menjadi sebuah puisi yang sangat sederhana.

Tetapi setidaknya karya tersebut bisa menjadi hiburan sekaligus bahan renungan bagi kita yang suka dengan karya – karya seperti ini. Ingin tahu lebih jauh mengenai karya tersebut, mari kita baca berikut ini.

Serdadu Bangsa
Oleh Gunarto

Mereka ada untuk kita
Tanpa lelah selalu menjaga
Tanpa henti walau hujan menerpa
Sang prajurit pembela NKRI

Matanya panas bagai sang surya
Lidahnya keras bagai petir menggelegar
Ototnya kuat bagai baja
Semua demi Indonesia

Merah putih adalah jiwanya
Tak sepaham jika menentang dengannya
Bhineka adalah sifatnya
Melanglang tanpa lelah hanya mengabdi

Tapi tak seironis itu dia ada
Tentara hanya serdadu
Gaji kecil tak sesuai perjuangan
Meninggalkan asa demi bangsa
Tag: Puisi 4 Bait, Puisi Kebangsaan, Perjuangan

Secara keseluruhan, menurut kami tema yang ada dalam puisi di atas adalah perjuangan dan pengorbanan seorang prajurit dalam menjaga, membela dan mempertahankan tanah air. Tema ini dapat kita lihat dari keseluruhan makna yang terkandung dalam karya di atas.

Amanat yang terkandung dalam karya tersebut adalah hendaknya kita bisa menghargai dan menghormati jasa, perjuangan dan pengorbanan para prajurit dalam menjaga, membela dan mempertahankan tanah air.

Hendaknya kita juga bisa meniru semangat pengorbanan yang dimiliki oleh prajurit dalam menjalankan tugas mulia yang diemban. 

Selanjutnya, jika kita bicara mengenai tipografi puisi di atas maka dapat dengan jelas kita sebutkan bahwa puisi berjudul “serdadu bangsa” tersebut terdiri dari 4 bait. Masing-masing bait terdiri dari 4 larik.

Larik yang satu dengan larik lainnya saling berhubungan demikian juga dengan bait yang satu dengan bait lainnya. Selanjutnya mari kita lihat masing-masing isi dari bait tersebut.
Pada bait pertama sang penyair mencoba mengungkapkan bagaimana tujuan atau fungsi dari seorang prajurit. Dari penggalan bait “mereka ada untuk kita” dan larik “tanpa lelah selalu menjaga” dapat kita lihat bahwa fungsi prajurit adalah untuk kita - seluruh masyarakat Indonesia – yaitu untuk menjaga agar senantiasa dalam keadaan baik. Mereka yang akan membela jika ada yang akan melukai atau menyakiti kita. 

Pada bait kedua penyair menggambarkan dengan jelas bagaimana perawakan seorang prajurit. Digambarkan bahwa seorang prajurit adalah tegas dengan tatapan mata yang tajam dan lidah yang bagai petir. Badan prajurit begitu kuat sehingga digambarkan memiliki otot seperti baja, “ototnya kuat bagai baja” 

Penyair benar-benar menggambarkan seorang prajurit dengan begitu jelas. Dengan membaca syair puisi di atas kita akan bisa seolah melihat langsung bagaimana seorang prajurit yang badannya kekar, jiwanya besar dan semangat pengorbanannya tinggi.

Hal itu jelas digambarkan secara lengkap mulai dari bait pertama, kedua sampai pada bait tiga dan empat.

Selanjutnya, mengenai citraan atau imajeri dari puisi kebangsaan tersebut dapat kita lihat bahwa pada bait pertama, kedua, ketiga dan ke empat, citraan yang digunakan adalah penglihatan. Larik-larik dalam bait tersebut seolah benar-benar bisa kita lihat dengan mata kita langsung.

Melalui larik demi larik yang ada maka akan tergambar dengan jelas sosok seorang prajurit yang menjadi pengayom dan penjaga bagi masyarakat. Demikianlah, sedikit yang bisa kami ungkapkan atau kami analisa atas puisi kebangsaan di atas.

Mungkin ada beberapa unsur instrinsik atau ekstrinsik yang belum terjamah dalam analisa singkat di atas. Mudah-mudahan anda semua bisa melengkapi dan bisa memberikan penilaian atas karya sastra sederhana di atas. Itu saja untuk kali ini, silahkan lanjut ke karya selanjutnya dibagian bawah.
Back To Top